
LATIHAN ROHANI 40 HARI BERJALAN BERSAMA KRISTUS MENUJU PASKAH
Masa Pra-Paskah (Lent dalam bahasa Inggris; dari kata Latin Quadragesima yang berarti “yang ke-40”) adalah periode 40 hari sebelum Paskah yang secara historis dipandang sebagai waktu persiapan spiritual. Angka 40 hari merujuk pada kisah Yesus yang dicatat dalam Injil Matius 4:1-11. Yesus berdoa dan berpuasa di padang gurun selama 40 hari dan 40 malam.
Masa prapaskah merupakan praktik spiritual bukan sebuah kewajiban teologis. 40 hari menjelang Paskah adalah kesempatan spiritual untuk refleksi, doa, dan pengendalian diri. Berpuasa dan pantang di masa pra Paskah dilihat sebagai latihan pribadi atau komitmen rohani sukarela dengan kesadaran dan fokusnya lebih pada pengendalian diri dan penyembahan bukan aturan atau hukum yang mendatangkan keselamatan. Latihan rohani untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan.
Dalam Pra Paskah tahun 2026 ini, Majelis Jemaat melalui PHRG Area 1 membuat panduan untuk kita dapat melakukan latihan setiap harinya. Panduan berupa tabel yang disusun dengan berdasar pada pemahaman di atas. Bentuk latihan sebagai berikut :
- Hari Senin, Selasa dan Kamis merupakan aksi berbagi dan kepedulian kita terhadap sesama.
- Sementara hari Rabu merupakan aksi berpuasa dan berpantang.
- Di hari Jumat, merupakan aksi doa pribadi yang dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: Saat Teduh, Mengucapkan Doa Bapa Kami, Menyampaikan Doa Pribadi (syukur, pengakuan dan permohonan).
- Dan, di hari Sabtu merupakan aksi refleksi atas perjalanan iman selama satu minggu dengan dibantu oleh pertanyaan yang ada dalam tabel. Permenungan dapat dilakukan pada pagi atau malam hari setelah selesai berakifitas.
Semoga kita semua dapat bertumbuh bersama seperti akar yang ada di dalam tanah yang melakukan tugasnya tanpa terlihat namun memberi dampak besar pada kehidupan. Tuhan menyertai dan memampukan kita semua

| TANGGAL | AKSI |
| Rabu, 18 Februari 2026 | RABU ABU |
| Kamis, 19 Februari 2026 | MENGHARGAI ORANG LAIN |
| Jumat, 20 Februari 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 21 Februari 2026 | REFLEKSI DIRI : DIMANA AKU GAGAL MENGASIHI MINGGU INI ? |
| Minggu,22 Februari 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-1 |
| Senin, 23 Februari 2026 | MENGURANGI BICARA DAN DEBAT YANG TIDAK PERLU |
| Selasa, 24 Februari 2026 | MEMBERI WAKTU UNTUK MENDENGAR |
| Rabu, 25 Februari 2026 | PUASA DARI GOSIP |
| Kamis, 26 Februari 2026 | BERBAGI BERKAT DENGAN ORANG YANG MEMBUTUHKAN |
| Jumat, 27 Februari 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 28 Februari 2026 | REFLEKSI DIRI : PADA SAAT APA AKU MENGALAMI KEBAIKAN TUHAN DI MINGGU INI ? |
| Minggu, 1 Maret 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-2 |
| Senin, 2 Maret 2026 | BERBAGI DENGAN ORANG YANG DITEMUI |
| Selasa, 3 Maret 2026 | BERDAMAI DENGAN KESALAHAN LAMA |
| Rabu, 4 Maret 2026 | PANTANG MARAH DAN MEMAKI |
| Kamis, 5 Maret 2026 | MENGHEMAT AIR, BAHAN BAKAT, DAN LISTRIK |
| Jumat, 6 Maret 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 7 Maret 2026 | REFLEKSI DIRI : KAPAN AKU EGOIS DAN ACUH DI MINGGU INI ? |
| Minggu, 8 Maret 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-3 |
| Senin, 9 Maret 2026 | BERDOA BERSAMA KELUARGA / ORANG TERDEKAT |
| Selasa, 10 Maret 20206 | MENCARI SOLUSI DARI MASALAH |
| Rabu, 11 Maret 2026 | PUASA : MENUNDA SATU WAKTU MAKAN |
| Kamis, 12 Maret 2026 | MENGURANGI SAMPAH PRIBADI |
| Jumat, 13 Maret 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 14 Maret 2026 | REFELEKSI DIRI : DI SITUASI APA AKU KEHILANGAN KESABARAN DI MINGGU INI ? |
| Minggu, 15 Maret 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-4 |
| Senin, 16 Maret 2026 | BERLAKU ADIL KEPADA SEMUA ORANG |
| Selasa, 17 Maret 2026 | MENGAMPUNI ORANG LAIN YANG MELAKUKAN KESALAHAN |
| Rabu, 18 Maret 2026 | PANTANG : MEMBATASI PENGGUNAAN GAWAI |
| Kamis, 19 Maret 2026 | MEMBANGUN KOMUNIKASI DENGAN ORANG SEKITAR |
| Jumat, 20 Maret 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 21 Maret 2026 | REFLEKSI DIRI : BAGIAN MANA AKU MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN TUHAN DI MINGGU INI ? |
| Minggu, 22 Maret 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-5 |
| Senin, 23 Maret 2026 | MENGUNJUNGI YANG SAKIT |
| Selasa, 24 Maret 2026 | BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG YANG LAMA TERABAIKAN |
| Rabu, 25 Maret 2026 | PANTANGAN : BERHENTI BELANJA SECARA IMPULSIF |
| Kamis, 26 Maret 2026 | MERAWAT LINGKUNGAN SEKITAR TEMPAT TINGGAL |
| Jumat, 27 Maret 2026 | DOA PRIBADI |
| Sabtu, 28 Maret 2026 | REFLEKSI DIRI : APA YANG HARUS AKU LEPASKAN UNTUK LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN ? |
| Minggu, 29 Maret 2026 | MINGGU PRA-PASKAH KE-6 |
| Senin, 30 Maret 2026 | MEMBACA INJIL KISAH PENDERITAAN YESUS (MARKUS 11-15) |
| Selasa, 31 Maret 2026 | BERDOA BERSYAFAAT BAGI MEREKA YANG TERLUKA |
| Rabu, 1 April 2026 | PANTANGAN : MENGURANGI AKTIVITAS HIBURAN |
| Kamis, 2 April 2026 | MENGHAYATI IBADAH KAMIS PUTIH |
| Jumat, 3 April 2026 | MENGHAYATI IBADAH JUMAT AGUNG |
| Sabtu, 4 April 2026 | MENGHAYATI IBADAH SABTU SUNYI |
| Minggu, 5 April 2026 | KEBAKTIAN DAN PERAYAAN PASKAH |
PENJELASAN MASA RAYA PASKAH
saat ini kita akan memasuki masa Raya Paskah. Masa Raya Paskah dimulai dari peringatan Minggu-minggu Prapaskah, Pekan Suci, Trihari Suci, Minggu-minggu Paskah dan Pentakosta. Berkaitan dengan istilah-istilah tersebut, akan diuraikan kemudian. Mungkin bagi sebagian warga GKP, agak asing dengan pengistilahan Minggu Pra Paskah. Kenapa? Karena di GKP, dikenal dengan istilah minggu-minggu sengsara (7 minggu sengsara sebelum Jumat Agung). Lalu apa bedanya? Bedanya pada sebuah penghayatan. Minggu-minggu sengsara ingin mengajak umat untuk menghayati akan kesengsaraan Tuhan Yesus yang berpuncak pada peristiwa penyaliban pada Jumat Agung. Oleh karena itulah, pada Jumat Agung kita merayakan perjamuan kudus. Memang terkesan janggal atau aneh di Jumat Agung kita justru beryukur melalui perayaan sakramen Perjamuan Kudus. Tapi justru, Perjamuan Kudus menjadi sebuah anamnesis (pengenangan/ pengingatan) bahwa tubuh dan darah yang terkoyak dan tercurah itu puncak dari kesengsaraan Yesus Kristus, karena itulah musti untuk dirayakan. Umat diajak dengan sungguh-sungguh menghayati kesengsaraan Yesus Kristus dan bersedia turut serta dalam penderitaan Yesus itu dalam kehidupan melalui simbol roti dan anggur melalui Perjamuan Kudus pada Jumat Agung.
A. Minggu-Minggu Prapaskah
Masa empat puluh hari persiapan Paskah (quadraginta dierum exercitatio = masa empat puluh hari pelatihan spiritual) telah ditetapkan sejak awal abad IV di Roma. Konsili Nicea ke-4 menamakannya Quadragesima paschae (empat puluh hari sebelum Paskah). Angka empat puluh diambil dari beberapa kisah Alkitab, yaitu perlambang masa pengujian atau masa persiapan. Empat puluh hari Musa berada di Gunung Sinai (Kel. 34:28); empat puluh tahun bani Israel di padang gurun; empat puluh hari penduduk Niniwe berpuasa dan menyesali dosa (Yun. 3:1-10); dan empat puluh hari Yesus berpuasa (Mat. 4:2).
Pertanyaannya adalah kapankah Prapaskah empat puluh hari dimulai? Bagaimana cara menghitungnya? Pada abad IV, Hari Raya Paskah dihitung sejak Jumat Agung, sehingga akhir Prapaskah adalah Kamis Putih (hari kamis sehari sebelem jumat agung). Selanjutnya dihitung mundur tanpa menghitung hari Minggu. Dari perhitungan tersebut, maka awal Prapaskah jatuh pada hari Minggu pertama, yang sekarang disebut Dominica prima in Quadragesima atau caput Quadragesima. Namun jumlah hari berpuasa sejak Minggu Prapaskah pertama tidak genap 40 hari. Kemudian gereja menambahkan empat hari ke belakang, yakni sejak Rabu sehingga genap 40 hari.
Lambat laun gereja memperpanjang masa Prapaskah hingga beberapa hari Minggu sebelumnya. Menjelang abad VIII di Roma, Prapaskah mulai dilakukan pada quinguagesima (lima puluh hari, hari Minggu ke-7 sebelum Paskah), sextagesima (enam puluh hari, hari Minggu ke-8 sebelum Paskah), dan septuagesima (tujuh puluh hari, hari Minggu ke-9 sebelum Paskah). Beberapa Gereja Protestan di Indonesia, termasuk GKP, memulai Prapaskah pada quinquagesima, sehingga Masa Raya Paskah (Minggu Prapaskah s.d. Pentakosta) berjumlah 100 hari. Masa Prapaskah yang sesungguhnya dimulai dari dari Rabu Abu kemudian digeser ke hari Minggu sebelumnya sehingga perhitungan seluruhnya 7 hari minggu Prapaskah. Hari Minggu sebelum Rabu Abu tersebut dalam kalender liturgi disebut sebagai Hari Transfigurasi, yaitu hari dimana Yesus dimuliakan di atas gunung. Dan hari tersebut merupakan akhir dari Masa Biasa. Dengan demikian, penggunaan 7 hari Minggu Prapaskah, mengubah siklus tahun liturgi secara keseluruhan.
Mengenai penyebutan Minggu Prapaskah, beberapa Gereja Protestan, termasuk GKP, mempergunakan istilah Minggu Sengsara. Dalam studi liturgi, memang tidak pernah dikenal adanya Minggu Sengsara yang lebih dari satu hari minggu. Minggu Sengsara hanya dirayakan pada minggu terakhir sebelum Hari Paskah. Sedangkan minggu-minggu sebelumnya, selalu disebut minggu-minggu Prapaskah. Mengapa? Karena, pada minggu-minggu Prapaskah itu Yesus dalam kisah hidup-Nya memang belum menjalani kesengsaraan-Nya. Yesus sendiri memasuki Yerusalem, seminggu sebelum kematian-Nya. Itulah sebabnya minggu terakhir sebelum hari Paskah disebut Minggu Sengsara atau Minggu Palmarum. Jadi penamaan yang lebih tepat adalah: Minggu Prapaskah I sampai dengan Minggu Prapaskah VI atau Minggu Palmarum (Sengsara) – dengan penanda (simbol) penyalaan lilin Prapaskah I-VI, atau dapat juga dengan penamaan Minggu VI sebelum Paskah, s.d. Minggu I sebelum Paskah – dengan penanda pemadaman lilin (hitungan mundur VI – I), hingga pada Jumat Agung dirayakan tanpa simbol cahaya.
B. Masa Prapaskah secara lengkap sebagai berikut:
- Rabu Abu
Rabu Abu adalah awal masa 40 hari atau pembuka masa Prapaskah (dengan tidak menghitung hari minggu), yakni sebuah masa pertobatan, perkabungan, intropeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Dalam tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan manusiawi (Kej. 3:19; 18:27), agar manusia menyesali diri dan bertobat (Yos. 7:6; 2 Sam. 13:19; Est. 4:3; Ayb. 2:12; Yes. 58:5-7; Yeh. 27:30; Dan. 9:3; Yun. 3:6; bnd. Yl. 2:12-13; Mrk. 1:15).
Prapaskah diawali pada hari Rabu sejak abad VI. Saat itu belum disebut Rabu Abu. Baru akhir abad XI hingga XIII unsur abu mulai digunakan. Penggunaan abu sebagai tanda pertobatan dan perkabungan sebelumnya terbatas pada ritus pribadi. Bahkan hingga tahun 1970, penaburan abu dilakukan sebelum kebaktian. Baru kemudian, abu ditaburkan kepada umat setelah Injil dan khotbah dengan formula “ingatlah, kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19) atau – di zaman modern digunakan – “bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15); masuk dalam liturgi firman.
Lalu, dari manakah abunya diperoleh? Pada abad XII, untuk pertama kali abu diambil dari daun palem yang dikeringkan sejak Minggu Palem/Palmarum setahun sebelumnya. Itulah sebabnya banyak orang Kristen meletakkan daun palem yang dibawanya dari Minggu Palem di patung salib di rumahnya. Dan daun Palem mengandung makna kemenangan.
2. Pekan Suci
Mulai dari Minggu Prapaskah VI atau Minggu Sengsara gereja memasuki Pekan suci hingga Kamis Putih. Dalam Pekan ini, umat diajak untuk mengayati perbuatan Yesus selama di Yerusalem, yang menegur dosa-dosa umat Allah secara keras dan mengundangkan pertobatan bagi Israel.
3. Kamis Putih
Kamis Putih adalah hari raya terakhir di Pekan Suci sebelum memasuki Trihari Suci dan sekaligus dijadikan sebagai penutup masa Prapaskah. Mulai abad VII, Kamis Putih lazim dilayankan dalam tiga kebaktian, sebagai berikut:
- Kebaktian pagi sebagai rekonsiliasi umum bagi pendosa dan penutup Prapaskah. Orang-orang yang telah mengaku berdosa dan menyesalinya diterima kembali setelah beberapa saat lamanya menjalani sanksi gerejawi.
- Kebaktian siang sebagai kebaktian krisma. Minyak dan alat-alat sakramen disucikan untuk kemudian digunakan kembali pada tahun selanjutnya.
- Kebaktian senja sebagai peringatan perjamuan malam terakhir dan pembuka trihari Paskah.
Dalam liturgi Kamis Putih, dilaksanakan pembasuhan kaki sebagai respons umat terhadap pemberitaan Firman. Beberapa orang yang telah dipilih (sebagai anamnesis, dipilih 12 orang wakil jemaat), duduk di tempat yang telah tersedia, dengan bantuan para pelayan, Imam menghampiri mereka, memercikan air ke kaki orang-orang itu dan membasuhnya. Untuk mempertegas keterlibatan umat, bisa dengan melibatkan seluruh umat untuk “saling membasuh” kaki orang disebelahnya.
4. Trihari Suci
Setelah Kamis Putih, tanda dimulainya Trihari Suci, tidak ada lagi perayaan perjamuan di dalam liturgi Jumat Agung dan selama Sabtu Sunyi. Bahkan gereja dibuat menjadi sunyi, senyap dan gelap, tanpa lilin, salib, atau ornamen dan aksesoris dekorasi gereja. Trihari Paskah atau “tiga hari suci Paskah” merupakan hasil perkembangan siklus Paskah pada abad IV. Agustinus (354-430) menetapkan bahwa sejak Jumat Agung hingga Paskah adalah masa sacratissiumum triduum crucifixi, sepulti, suscitati, yakni trihari terkudus untuk penyaliban, pemakaman, kebangkitan.
- Jumat Agung
Kebaktian Jumat Agung dimulai pada tengah hari dan berlangsung hingga sekitar pukul 15.00. Awalnya, dalam perayaan Jumat Agung tidak diadakan perjamuan (eucharistia = pengucapan syukur) yang dipahami sebagai cara gereja turut dalam detik-detik sengsara dan wafat Kristus. Salah satu alasan tidak dilakukannya Perjamuan Kudus adalah karena para Bapa gereja menganggap bahwa tidaklah pantas gereja mengucap syukur di dalam penderitaan Kristus. Oleh karena itu dalam perayaan Jumat Agung hanya ada pengenangan kesengsaraan Kristus, melalui pembacaan kisah sengsara dan wafat Kristus dan dilanjutkan dengan doa syafaat dan ibadah salib.
Namun dalam perkembangan liturgi selanjutnya, gereja melayankan sakramen Perjamuan Kudus pada kebaktian Jumat Agung. Hal ini didasarkan pada pemaknaan sakramen Perjamuan Kudus sebagai anamnesis (mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib). GKP sendiri melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus dalam kebaktian Jumat Agung atas dasar pemahaman tersebut.
- Sabtu Sunyi
Setelah kebaktian Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan. Bersama umat Tuhan di muka bumi, gereja mengenangkan kesendirian Yesus di dalam makam-Nya. Namun, berpuasa dan berpantang tetap dijalankan di luar liturgi gereja sambil terus merenungkan kesengsaraan Kristus.
- Paskah [1}
Trihari Paskah berakhir pada Sabtu malam, yaitu pada saat dirayakan kebaktian Paskah malam. Di Indonesia, kebaktian paskah malam jarang dilakukan karena biasanya dilaksanakan sebelum fajar. Saat berduka yang diikuti dengan berpuasa dan berpantang selama trihari Paskah diakhiri dengan sorak-sorai nyanyian “Haleluya!” pada hari raya Paskah. Umat tidak lagi berpuasa daging dan telur. Itulah sebabnya, perayaan Paskah dimeriahkan juga dengan makan telur. Selain tradisi masyarakat dalam menyambut musim semi atau kehidupan pertama dengan kiasan telur, telur juga merupakan makanan yang selama 40 hari Prapaskah tidak boleh dimakan.
Ada empat bagian dalam liturgi Paskah, yaitu ritus cahaya, liturgi firman, liturgi baptisan, dan liturgi perjamuan kudus. Dalam ritus cahaya, liturgi diawali dari luar gedung Gereja. Imam, dengan mengenakan jubah putih, membawa lilin Paskah yang menyala untuk kemudian meletakkannya di altar. Sejak abad II, Gereja merayakan Paskah dengan baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus. Perayaan baptisan dan Perjamuan Kudus pada Minggu Paskah mempunyai makna yang dalam bagi kehidupan iman.
[1] Kata Paskah berasal dari kata Yunani Pascha atau Ibrani Pesach, artinya: melewati atau menyeberangi/transitus