BERITAKAN INJIL KEPADA SEMUA ORANG

Kisah Para Rasul 10:34-43

PENJELASAN BAHAN

Setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda (suku, gender, ekonomi, bangsa, karakter, dan lainnya). Perbedaan ini sering menjadi pemicu untuk menentukan kelompok yang paling baik dan pantas menjadi umat Allah. Namun, kita diingatkan kembali dengan lagu: Tuhan cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia. Putih, kuning, dan hitam, semua dicinta Tuhan. Tuhan cinta semua bangsa di dunia. Lagu ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mencintai semua orang. Kita semua sebagai manusia pun tidak berhak untuk menentukan tingkatan orang lain yang paling dicintai oleh Tuhan. Apa yang sebaiknya kita lakukan di bumi ini sebagai ciptaan Tuhan? Kita akan belajar dari Kisah Para Rasul 10:34-43.

Kisah Para Rasul  mengisahkan tentang jemaat perdana yang bergulat untuk menentukan orang-orang yang berhak menjadi anggota umat Allah. Hal ini dikarenakan jemaat perdana adalah  orang-orang Yahudi sehingga wajar jika mereka berpikir amanat Yesus hanya ditujukan kepada orang-orang Yahudi. Namun, Kisah Para Rasul memperlihatkan bahwa tidak ada yang menghalangi penyebarluasan Injil Yesus ke seluruh dunia, bahkan Allah bekerja melalui Roh Kudus untuk menuntun umat-Nya dalam memahami bahwa Yesus mengajak segala bangsa dan suku bangsa menjadi bagian dari umat Allah. Roh Kudus memimpin jemaat untuk menyapa orang  Yahudi dan orang bukan Yahudi. Hal ini juga menjadi dasar bagi Petrus ketika mengatakan: Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan semua orang. Setiap orang dari mana pun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya (Kis.10:34-35).

Petrus ingin menegaskan bahwa Allah tidak membedakan semua orang, bahkan semua orang dipakai dalam memberitakan Injil tanpa melihat latar belakang mereka. Hal ini nampak dalam pengalaman hidup Petrus dan Kornelius yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul pasal 10. Petrus dan Kornelius berasal dari latar belakang yang berbeda. Petrus sebagai orang awam sedangkan Kornelius seorang tentara, Petrus berasal dari Yahudi sedangkan Kornelius dari Romawi (secara sosial-politis, mereka mempunyai posisi berseberangan, bahkan bermusuhan). Selain itu, ada juga larangan untuk bergaul dengan orang bukan sebangsanya (Kis.10:28a). Namun Petrus menegaskan: Tetapi Allah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir (Kis 10:28b). Hal ini menunjukkan bahwa Petrus melampaui larangan itu karena Allah sendiri mengajarkan untuk tidak menentukan kelayakan seseorang di mata Allah. Melalui ini, kita dapat melihat bahwa Petrus tidak hanya memberitakan Injil melainkan dia pun melakukannya dalam kehidupan sehari-hari bersama orang lain. Petrus menerima Kornelius dengan latar belakang yang berbeda darinya, bahkan mereka bergaul bersama.

Hal yang menyatukan mereka ialah inspirasi dari Roh Kudus melalui penglihatan mereka masing-masing. Melalui penglihatan Kisah Para Rasul 10:11-12, Petrus mendapatkan  pencerahan untuk memahami bahwa keselamatan bukan hanya milik Yahudi saja melainkan semua orang di dunia ini. Kita semua sama di mata Tuhan, kita sama berharga di mata Tuhan. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk Petrus tidak menerima Kornelius. Penerimaan Petrus terhadap Kornelius menunjukkan bahwa tembok pemisah antara orang Yahudi dan bukan Yahudi telah dirubuhkan. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama, bukan hanya satu suku melainkan semua orang. Bukan hanya berbicara masalah kasih untuk semua orang melainkan berita baik yang disampaikan Petrus pun merujuk kepada semua orang, termasuk Kornelius.

Petrus menjelaskan tentang Yesus yang telah mereka salibkan, mati, pada hari yang ketiga Dia bangkit dan menampakkan diri kepada para saksi yang sebelumnya ditunjuk Allah. Yesus memberi perintah kepada para rasul untuk menjadi saksi-Nya. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa bahwa dialah yang ditentukan oleh Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati (Kis.10:42). Petrus melaksanakan perintah Yesus untuk memberitakan firman tersebut kepada orang-orang Israel yakni firman yang mendatangkan damai sejahtera oleh Yesus, Tuhan semua orang.

Tuhan dari semua orang dan hakim atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Kedua kata ini perlu diingat ketika mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus. Kita mendapatkan kehidupan kekal karena iman dan ketaatan yang melampaui sekat-sekat kultural. Dengan iman dan ketaatan dari latar belakang yang berbeda, kita dipanggil untuk memerangi rasisme (kebencian rasial, superioritas etnis, stigma negatif terhadap suku tertentu, dan lain-lain), sebab setiap orang dari bangsa mana pun dipandang sama oleh Tuhan sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Pada Minggu ini, kita menghayati Yesus yang bangkit bagi kita semua sebagai ciptaan-Nya. Kebangkitan-Nya membuat kita semua bersaudara. Kebangkitan-Nya mempersatukan kita untuk menjalankan tugas yakni memberitakan dan bersaksi tentang Yesus melalui kehidupan dan pelayanan kita. Hal ini dapat kita lakukan ketika kita menyusun program kerja. Kita memperluas sasaran pelayanan kita, bukan hanya orang Kristen melainkan kepada semua orang. Dengan ini, kita memberitakan Injil kepada semua orang  dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan bukan menjadi rintangan pelayanan melainkan pembelajaran yang berharga dalam memberitakan kebaikan.  (TK)

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa tantangan terbesar kita untuk memberitakan Injil kepada semua orang?
  2. Ceritakan pengalaman pelayananmu yang bertujuan merangkul semua orang tanpa memandang suku, ekonomi, dan agama.

Referensi Bacaan:

https://www.renunganharian.net/2011/9-oktober/40-merayakan-perbedaan.html
https://www.rec.or.id/injil-merobohkan-tembok-pemisah-kisah-para-rasul-10/

Keener, Craig S. 2013. Acts: An Exegetical Commentary. Grand Rapids: Baker Academic. Lembaga Alkitab Indonesia. 2012. Alkitab: Edisi Studi. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.