“Bertekun di dalam Iman”

Ibrani 12:1-17

Surat Ibrani dikirim dari Italia (13:24), oleh seseorang yang tidak jelas siapa penulisnya, kepada orang Ibrani.  Isinya sebenarnya lebih merupakan sebuah khotbah daripada sebuah surat. Inti yang dibahas  berpusat kepada Yesus Kristus , Anak Allah, yang dalam pasal 1:1-4 disaksikan sebagai penggenap janji Tuhan dalam Perjanjian Lama, ditetapkan “sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, 4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.” Yesus adalah Juruselamat, Imam Besar Perjanjian Baru( 8:1-13), Pengantara dari Perjanjian yang baru (9:11-28). Karena itu dianjurkan agar orang beriman jangan sampai murtad (5:11-14).

Dalam Ibrani 12:1-17, penulis menekankan supaya orang beriman bertekun dalam iman. Dalam ayat 1, Orang beriman diajak supaya sadar:

  • bahwa hidupnya disaksikan banyak saksi. Saksi yang dimaksudkan di ayat ini menunjuk kepada banyak orang yang beriman dan setia. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Habel, Henokh, Nuh dan seterusnya seperti dikemukakan dalam pasal 11 termasuk dalam barisan saksi yang mengelilingi kehidupan pengikut Kristus;
  • menanggalkan beban dan dosa;
  • bertekun dalam perlombaan.

Selanjutnya di ayat 2, penulis menekankan bahwa hidup dilakukan dalam iman yang tertuju kepada Kristus yang memimpin dalam iman seperti dicontohkan-Nya melalui perjuangan sampai kematian-Nya di salib yang berakhir dalam kemenangan-Nya duduk dalam kemuliaan Allah. Kemudian kita menyimak ayat 3-8 di mana penulis memberikan anjuran agar orang beriman dalam menanggung cobaan, yang belum sampai menumpahkan darah, tidak menjadi lemah.  Dianjurkan untuk  ingat kepada perjuangan Kristus yang taat menghadapi bantahan hebat dari orang berdosa. Supaya sadar bahwa kalau dapat hajaran dari Tuhan, dasarnya, karena Tuhan menempatkan mereka sebagai anak-anak-Nya dan Dia mengasihinya. Anak yang tidak suka kepada ganjaran ayahnya sama dengan anak gampang. Hal ini juga hendak menggambarkan hubungan Allah dengan anak-anak-Nya dicontohkan melalui hubungan seorang bapa (dalam dunia) dengan anaknya. Ayahnya  menghajar anaknya  bukan karena benci atau kejam. Sebaliknya karena  kasihnya, demi kebaikan anaknya. Jadi kalau kepada hajaran ayah duniawi orang harus hormat, terlebih lagi kepada Tuhan sebagai Bapak segala roh, karena tindakan-Nya membawa kepada hidup (ayat 9-10). Tidak ada ganjaran yang menyenangkan, umumnya menyakitkan, tetapi kita harus melihat hasilnya, yaitu sukacita dan damai.

Penulis Kitab Ibrani juga menekankan berbagai nasihat yang konkret dalam bacaan kita. Bahwa Iman harus berdampak dalam kehidupan kita, sebab Iman ada untuk menguatkan yang lemah dan goyah (ay. 12), supaya berjalan lurus untuk dapat menolong dan menyembuhkan orang yang terpelecok (ay. 13), dan supaya hidup  damai dengan semua orang dan hidup kudus (ay. 14). Selain itu Iman juga hendak menyadarkan kita untuk dapat tumbuh di dalam Tuhan sehingga kita tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah sehingga tidak tumbuh akar pahit antara lain kerusuhan dan mencemarkan banyak orang (ay. 15) dan menahan nafsu dan keegoisan diri seperti Esau yang meremehkan hak kesulungannya demi semangkuk makanan(ay. 16,17). Mari, bertekunlah di dalam Iman kepada Allah sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Berkat jasmani dan rohani apa yang akan kita peroleh jika kita tekun berjalan dalam kasih Allah di dalam Kristus?
  2. Memperhatikan bacaan kita hari ini, sehubungan dengan HUT ke-77 RI, pada 17 Agustus 2022 ini, apa saja yang dapat menjadi bahan syukur kita,  sebagai pengikut Kristus, kepada Tuhan?
  3. Perbuatan apa yang layak kita saksikan di tengah masyarakat, untuk menunjukkan bahwa kita, sebagai pengikut Kristus, secara jujur dan tulus turut bertanggung jawab atas anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia.