Roma 5: 1-11
Sebuah iklan makanan ringan pernah membuat tagline “life is never flat”. Artinya hidup tidak akan datar atau lurus-lurus saja. Hidup yang dialami pasti ada naik, ada turun, ada kemiringan, ada guncangan ringan bahkan ada guncangan berat. Ada kala di mana kita mengalami kemudahan, ada kala juga mengalami rintangan kesulitan. Suka dan duka, Tawa dan tangis. Semua itu dapat menjadi bagian dari kehidupan ini. Pada saat mengalami masalah mungkin pernah melihat kebahagiaan orang lain dengan pertanyaan: “Mengapa harus saya yang mengalami ini, mengapa orang lain tidak seperti saya?” Apalagi pada saat masalah belum usai, telah hadir masalah baru. Hidup merasa tidak seberuntung seperti orang lain. Kita mungkin sedang mengalami kegagalan, kerugian, kekurangan, kesakitan, kegalauan, kehilangan, dan lain sebagainya.
Saat melihat orang lain bahagia malah membuat tidak bersemangat. Hal ini bukan karena iri tetapi karena benak pikiran yang bertanya “mengapa senyuman kebahagiaan belum berkunjung menghampiri saya?” Apabila menemukan seseorang yang dianggap kehidupannya bahagia, mungkin bisa saja dia pandai menyembunyikan pergumulan hidupnya. Kita tentu tidak tahu tentang cerita hidup orang lain seluruhnya. Senyuman pun tidak selalu menunjukkan kebahagiaan. Ada banyak orang yang bersikap baik-baik saja padahal sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Yang jelas setiap orang mempunyai perjuangannya masing-masing untuk bisa bertahan hidup di dunia ini.
Roma 5: 3 menuliskan demikian: “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.” Kesengsaraan berasal dari bahasa latin tribulum. Kata tribulum digunakan untuk menjelaskan pemisahan antara gandum dan sekam melalui batu kisaran. Aktivitas ini tentu membutuhkan sikap tekun dan rasa sabar. Melalui kata tribulum maka berarti kesengsaraan yang dialami akan mendatangkan ketekunan dan kesabaran. Orang yang mampu mengatasi kesengsaraan akan menghasilkan karakter sikap yang sesuai dengan keinginan Allah. Jadi saat sengsara terjadi bukan hanya kita yang akan semakin dekat pada Allah tetapi juga pribadi kita sedang diubahkan sebagaimana yang Allah kehendaki.
Dalam perikop ini, kata bermegah bukan dalam arti menyombongkan diri namun sangat bangga. Bangga tidak berdasarkan kemampuan sebagai manusia tetapi karena kasih Allah yang terberi bagi kita. Kasih Allah dituliskan di ayat ke-5 telah dicurahkan di dalam hati kita. Kata dicurahkan menggambarkan suatu pemberian yang luar biasa, yang berarti kasih-Nya begitu melimpah. Kesengsaraan yang dihadapi harus diiringi dengan keyakinan bahwa kasih Allah melalui Roh Kudus melimpah di dalam hidup kita. Barangkali kita pernah menyangkalinya karena tertutup oleh kesedihan dan kekecewaan, namun dapatkah kita menyangkali kenyataan bahwa Kristus telah mati bagi kita dan telah mencurahkan darah-Nya di atas salib demi mendamaikan kita dengan Allah (ayat 6). Allah telah memberikan kasih-Nya yang terbesar. Allah mengorbankan putra tunggal-Nya maka berarti Ia pun tak akan ragu untuk memberi segala yang terbaik bagi kita.
Allah sedemikian mengasihi hidup kita. Kasih Allah adalah tumpuan kita untuk tetap bisa berdiri menghadapi semua yang terjadi. Kasih Allah bukan seperti kasih manusia yang sering kali mengecewakan. Ketika ada beban yang dianggap mustahil bisa diatasi, maka ingatlah kasih Allah. Allah akan memberi apa saja yang diperlukan demi keselamatan kita. Allah bukan hanya mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik tetapi Allah juga tentu mau memberikannya bagi kita. Allah menopang kita untuk bisa mengatasi setiap permasalahan hidup.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apakah Saudara pernah meragukan kasih pemeliharaan Allah?
- Bagaimana menghayati kasih Allah di saat hidup sedang mengalami permasalahan?
- Bagaimana memaknai kalimat doa “Ya Tuhan biarlah terjadi sebagaimana kehendak-Mu?”.
(JST)