Matius 12:46-50
“Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu”
Matius 12:50
Macam apakah keluarga yang telah mengasuh dan membesarkan Tuhan Yesus? Sebuah pertanyaan yang mengusik, bukan? Tidak banyak yang kita ketahui tentang keluarga yang dibangun Yusuf dan Maria. Apakah mereka bahagia, akur, harmonis, ataukah sekali-kali ada juga pertengkaran seperti keluarga lain?
Dalam Alkitab nama Yusuf tidak disebut-sebut lagi setelah peristiwa di Bait Allah ketika Yesus berusia dua belas tahun (Lukas 2:41-52). Ibu Maria lebih berperan aktif dan nampaknya Yusuf seorang ayah yang pendiam atau yang menyerahkan pendidikan Yesus kepada Maria. Pada zaman dulu inilah budaya yang umum terjadi, pertumbuhan, perkembangan dan pendidikan seorang anak lebih banyak dilakukan oleh ibunya. Demikian pula pada masa sekarang, meski ibu kerja di luar rumah, tetap saja segala sesuatu kebutuhan anak difasilitasi oleh ibunya. Yang jelas, Maria masih saja sebagai ibu Yesus ketika ia minta pertolongan Tuhan saat pesta pernikahan dalam kesulitan besar. Namun Maria tahu batas-batasnya (Yohanes 2:1-10). Bagaimana juga Tuhan mempunyai hubungan yang istimewa dengan ibuNya. Sampai akhir hayatNya pun Tuhan ingin menunjukkan kasihNya kepada ibuNya. Dia mengatur agar muridNya yang bernama Yohanes menggantikan tempatNya dan ibu Maria tidak kesepian dan terlantar.
Hari ini kita membaca Tuhan Yesus sebagai anak Maria yang sulung mempunyai saudara laki-laki dan perempuan. Dari jumlah mereka yang terdengar dan tercatat dalam Alkitab hanyalah Yakobus yang memimpin sidang gereja di Yerusalem dan yang dikemudian hari dikunjungi oleh Paulus (Kisah Para Rasul 15:13-21, 21:18-26). Namun, dari pernyataan Tuhan Yesus hari ini, kita dan juga saudara-saudara Yesus dan ibu Maria sadar bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Hubungan darah tidaklah otomatis diprioritaskan oleh Yesus. Syarat utama yang dikemukakan Tuhan adalah melakukan kehendak BapaNya. Jadi, pertanyaan kepada masing-masing kita adalah: “Apakah aku melakukan kehendak Allah Bapa yang di sorga?” Ataukah aku tidak mempedulikan kehendakNya?” Marilah kita berupaya dan berusaha untuk selalu melakukan kehendak Allah Bapa di sorga, agar kita diakui sebagai saudara Yesus Kristus. Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus senantiasa menyertai dan memberkati kita sekalian. Amin.(APM)