Wahyu 21:9-27
Pengharapan menjadi salah satu kekuatan di masa-masa yang sulit. Dalam kesukaran hidup, pastilah orang mencari secercah harapan agar ia kembali bersemangat dan mau berjuang melanjutkan kehidupannya. Ketika seseorang sakit, ada obat yang menjadi pengharapannya untuk sembuh; ketika ekonomi melemah, pekerjaan menjadi pengharapan untuk melanjutkan hidup. Namun di balik itu semua sebagai orang percaya kita meyakini bahwa setiap pengharapan semua asalnya dari Allah yang merancangkan kebaikan-kebaikan di tengah kondisi manusia yang tidak berdaya. Allah merancangkan segala sesuatu dengan baik, memberikan segala sesuatu di waktu yang tepat, dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Oleh sebab itu, kita sebagai seorang yang beriman mesti terus memiliki pengharapan dalam kehidupan agar tidak terjebak pada situasi keputusasaan dan kegoyahan hidup.
Dalam Teks Alkitab yang kita baca saat ini, orang-orang Kristen menghadapi penganiayaan yang berat oleh kekaisaran Romawi karena iman kepada Kristus; mereka menolak untuk menyembah kaisar sehingga dianggap sebagai musuh negara. Untuk itulah Yohanes menuliskan Wahyu untuk menguatkan orang-orang Kristen saat itu untuk mengingatkan mereka tentang janji pengharapan yang Allah berikan sehingga mereka tidak goyah dalam menghadapi kesulitan hidup. Namun di sisi lain, Yohanes juga hendak memperingatkan mereka yang tidak menyadari adanya ancaman yang jika tidak siap untuk dihadapi maka akan timbul perpecahan. Secara khusus dalam teks yang kita baca saat ini, Yohanes hendak menguatkan orang-orang Kristen saat itu dengan menggambarkan bahwa akan ada masa di mana Allah akan menghadirkan Kota yang Kudus di mana Allah hadir di sana dan tidak terkungkung di Bait Suci saja (ay. 22). Kota yang Kudus itu memang digambarkan oleh Yohanes dalam Wahyu sebagai sebuah tempat, tetapi jika kita membacanya lebih dalam lagi maka kita memahami bahwa bukan soal tempat saja tetapi soal keadaan dan situasi di mana Allah hadir dan memberikan pengharapan. Gambaran kehadiran Allah menjadi penting sebab dalam masa-masa yang sulit karena penganiayaan itu, semua orang mengharapkan kedatangan Allah untuk menolong mereka dan Yohanes menyampaikan bahwa Allah hadir dan memberikan pengharapan bagi mereka yang saat ini dalam penderitaan.
Dalam menjalani kehidupan, kita mungkin saja berada dalam situasi yang serupa dengan apa yang dialami oleh orang-orang Kristen saat menerima Wahyu Yohanes. Kita mengalami pelbagai penderitaan dalam hidup, ada banyak hal yang membuat kita goyah, ada berbagai tantangan hidup yang menerpa, dan ada kondisi yang mengimpit kehidupan kita. Namun Wahyu Yohanes ini juga hendak mengingatkan kita bahwa dalam kondisi tersulit kehidupan kita, yakinlah bahwa selalu ada harapan yang baru yang Allah berikan. Kita tidak sedang berjuang sendirian, tetapi bersama dengan Allah. Kita tidak sedang meratap sendirian, tetapi meratap di sisi Allah. Kita tidak menderita sendirian, tetapi Allah turut merasakan penderitaan kita dan Allah mau menolong dan menyelamatkan kita. Rasa takut dan cemas pasti kita miliki, tetapi yakinlah bahwa bersama Allah semua rasa itu sirna sebab kita selalu memiliki pengharapan yang baru yang diberikan oleh Allah.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa penderitaan hidup yang pernah atau sedang Bapak/Ibu alami dan dirasakan sangat berat sehingga tidak mampu untuk menghadapinya sendiri?
Mengapa kita sulit untuk memiliki pengharapan yang penuh kepada Allah, padahal kita tahu bahwa di dalam Allah selalu ada pengharapan yang baru dalam hidup kita?