Yohanes 12:1-8

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang melakukan kebaikan, menolong sesama kemudian di unggah ke media sosial (panjat sosial). Dengan salah satu tujuan untuk kebahagiaan jika banyak yang menonton dan juga banyak disukai. Bagi yang hidup dalam dunia teknologi, perilaku demikian adalah sesuatu yang biasa. Menjadi persoalan adalah bagaimana menjaga agar setiap kebaikan yang dilakukan memiliki motivasi yang benar, yaitu membantu dan menolong sesama bukan untuk kepentingan diri sendiri apalagi dengan harapan mencari popularitas dan agar terkenal. Apakah benar, orang yang lemah, miskin dan termarginalkan adalah obyek untuk kepentingan para pemberi?
Yohanes 12:1-8 menceritakan tentang dua tokoh kontras, yaitu Maria dan Yudas. Dikisahkan enam hari sebelum Paskah, Tuhan Yesus datang ke Betania tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus. Di rumah tersebut diadakah perjamuan. Tuhan Yesus, menghubungkan perjamuan ini dengan penguburan diri-Nya (ayat 7) karena Dia tahu bahwa tidak lama lagi akan menjalani jalan penderitaan. Dia akan ditangkap, disidang di mahkamah agama, memikul salib, dan disalibkan di Golgota.
Dalam perjamuan tersebut, Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal itu dan kemudian menyeka dengan rambutnya. Dengan tindakannya ini, Maria ingin menunjukkan cintanya yang sungguh-sungguh kepada Yesus, tanpa memperhitungkan harga. Dia benar-benar ingin memberikan yang terbaik bagi Yesus. Perlakuan Maria mendapat kecaman dari Yudas karena dianggap suatu tindakan pemborosan. Yudas berpendapat bahwa lebih baik minyak yang mahal itu dijual dan hasilnya diberikan kepada orang-orang miskin. Gagasan Yudas mendapat pertentangan dari Yesus karena Yesus paham kedalaman hati Yudas. Yesus memahami bahwa terdapat kepentingan pribadi dibandingkan dengan memperhatikan orang-orang miskin. Yudas seorang koruptor yang mengambil uang kas untuk memperkaya diri sendiri (ayat 7).
Di Minggu Prapaskah V (lima) ini kita sebagai umat Allah, diajak bersama-sama untuk memberikan rasa hormat yang setinggi-tingginya terhadap penderitaan yang Yesus alami. Dikaitkan dengan orang-orang miskin, kita tidak menjadikan orang-orang yang lemah, miskin dan termarginal menjadi obyek kepentingan para pemberi. Hendaklah kebaikan yang diberikan benar-benar sebagai bentuk rasa syukur dan tulus membantu mereka yang membutuhkan.
Rasa cinta kepada Yesus yang sungguh-sungguh memampukan kita untuk melayani dan memperhatikan orang-orang miskin yang ada di sekitar kita, karena itulah panggilan hidup sebagai murid Yesus.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap penderitaan yang Kristus alami?
- Apa upaya yang dapat kita dilakukan untuk menghindarkan diri dari kecenderungan mencari keuntungan diri sendiri?
(KRS)