IMAN MEMBUATMU BERDAYA

Lukas 9:37-43a

Jika kita membaca teks Lukas 9:37-43a ini, kita bisa mendapat beberapa
informasi lebih lanjut dari teks paralelnya, yakni Matius 17:14-21 dan
Markus 9:14-29. Dari teks paralel, kita bisa mendapatkan informasi, bahwa
anak yang diceritakan dalam teks ini menderita sejenis penyakit ayan. Dari
ketiga Injil yang menceritakan peristiwa ini, semuanya kompak menyebut
adanya kuasa roh jahat yang membuat anak ini menderita. Bukan hanya
kompak menceritakan adanya kuasa roh jahat, ketiga Injil juga sama-sama
memberi kesaksian, bahwa ayah dari si anak sudah meminta pertolongan
kepada murid-murid Yesus, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkan si
anak tersebut.

Dari cerita yang disampaikan, kita bisa membayangkan betapa sedihnya
hati si ayah melihat anak satu-satunya menderita. Pasti dia akan
mengupayakan berbagai cara untuk bisa membuat anaknya kembali
sehat. Oleh sebab itu, ia datang kepada murid-murid Yesus untuk bisa
membantu menyembuhkan anaknya. Mungkin, murid-murid Yesus yang
didatangi adalah kesembilan murid lainnya yang tidak ikut bersama Yesus
ke atas gunung (di mana Yesus dimuliakan). Mengapa si ayah datang
kepada murid Yesus? Karena dalam teks sebelumnya (Lukas 9:1-6), para
murid Yesus telah diberi kuasa oleh Yesus untuk menguasai setan-setan
dan menyembuhkan penyakit; dan para murid pun ternyata mampu (ayat
6). Itulah yang mungkin membuat si ayah ini menjumpai murid Yesus
untuk meminta pertolongan. Akan tetapi, betapa sedihnya ia, ketika para
murid Yesus ini tidak bisa menyembuhkan anaknya. Oleh sebab itulah,
saat Yesus turun dari gunung, di tengah kerumunan orang banyak, ia
mencoba untuk berteriak memohon (boao: berteriak lantang, bisa juga

dengan menangis). Dia berjuang agar Yesus bisa mendengar suaranya dan
bisa menengok/memperhatikan (epiblepo) anaknya. Mendengar seruan
dan aduan dari si ayah, betapa kecewa dan marahnya Yesus kepada
murid-murid-Nya. Ia menyebut murid-murid-Nya sebagai Angkatan yang
tidak percaya dan sesat! Teguran ini sejatinya menjadi sebuah
kekecewaan Yesus atas kuasa yang telah diberikan oleh-Nya kepada para
murid! Yesus telah memberikan kuasa dan karunia, tetapi mereka tidak
bisa mempergunakannya dengan konsisten. Iman para murid hanya
menjadi iman yang ‘temporer’. Hal seperti inilah yang membuat Yesus
menyebut mereka dengan kata SESAT (yang juga bermakna ‘palsu’). Iman
yang sesat/palsu adalah iman yang hanya ‘ditampilkan’ atau dirayakan di
saat-saat tertentu saja.

Hal iman ini justru berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan oleh
si ayah. Ungkapan iman si ayah, lebih jelas terdapat dalam catatan Markus
9:22-24. Si ayah mungkin dengan frustrasi mengatakan “jika Engkau dapat
berbuat sesuatu”, dan Yesus menegurnya dengan mengatakan “Tidak
ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Si ayah kemudian
merespons dengan sebuah pengakuan yang unik, yakni “Aku percaya.
Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Ketika Yesus menyuruh agar
anaknya dibawa kepada-Nya, ia segera membawanya, walaupun pasti
dengan susah payah (karena setan itu membanting-bantingkan tubuh
anaknya). Yesus kemudian menyembuhkan si anak (dari penyakitnya dan
kuasa roh jahat) dan mengembalikan kepada ayahnya.
Cerita ini membuat kita berefleksi, betapa sering kali kita memiliki iman
yang sesat. Kita hanya percaya, berserah, dan mengandalkan Tuhan di
saat-saat tertentu, sementara di saat lainnya, kita bergantung pada
kekuatan kita sendiri atau bahkan pada materi dan orang lain. Tak jarang
juga kita memiliki iman yang sesat/palsu, yang mau mengerjakan
pekerjaan Allah di saat-saat tertentu saja, sementara di saat yang lain kita
mengabaikan panggilan Allah. Iman yang seperti inilah yang akhirnya
membuat kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Iman yang sungguh

akan membuat kita berdaya untuk mengerjakan panggilan Allah. Iman
yang sungguh akan membuat hal yang mustahil bisa terjadi (sejauh sesuai
dengan kehendak Allah).
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Mengapa orang Kristen bisa jatuh pada iman yang sesat?
  2. Bagaimana cara menumbuhkan iman yang sejati di tengah
    kehidupan keluarga Saudara?