Bacaan : 1 Korintus 2:1-5
Pada suatu waktu Michaelangelo diberi tugas untuk menghias kapel privat dari Paus dengan lukisan-lukisan mulai dari penciptaan sampai hari penghakiman terakhir. Lukisan penghakiman terakhir dibuatnya dengan konsep bahwa setiap orang telanjang di hadapan Allah, karena tidak ada suatu pun yang tidak diketahui oleh Allah. Michaelangelo kemudian dituduh sebagai seorang homo seksual karena melukis gambar dua pria telanjang. Kehidupannya diwarnai dengan kesulitan dan tekanan yang tidak banyak orang memahaminya. Dan pada lukisan penghakiman terakhir itu dia menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang yang sangat menderita, sesosok figur yang hanya tinggal kulit saja, tidak berdaging dan darah. Pada masa itu dengan akal dan keyakinan banyak orang melihat diri Michaelangelo yang sedang mengekspresikan imannya kepada Allah.
Paulus mendasari ajaran Kristus di kota Korintus dengan keyakinan dan kekuatan Roh Kudus di tengah pergumulan pengajaran mereka di sana. Secara ekonomi mungkin penginjilan Paulus di Korintus tidak akan berhasil. Kalaupun menggunakan kepandaian tentu tidak maksimal, ditambah lagi pola kehidupan moral dan etika yang tidak baik. Dalam kaitan itu, Paulus menyampaikan bahwa Roh Kudus bekerja melampaui akal dan pikiran manusia, membiarkan Roh Kudus mencari bentuk di dalam kehidupan dan pelayanan. Paulus memusatkan perhatian pada inti kebenaran yakni siapa Yesus itu – sang Kristus atau Mesias yang dijanjikan dan di mana letak keselamatan yaitu pada apa yang dilakukan Kristus; pada Mesias yang disalibkan. Ayat 5 menyatakan bahwa tujuan Paulus sejak mula ialah untuk meyakinkan bahwa iman mereka bergantung kepada kekuatan Allah dan bukan karena dibujuk oleh manusia. Iman yang dapat bertahan di kota seperti Korintus itu memerlukan dasar yang supra alami. Allah mengutus RohNya sebagai suatu pemberian bagi kita. Tetapi tidak jarang kita menjadi bingung. Apa yang harus kita perbuat dengan RohNya itu? Ada yang mengira bahwa Roh Kudus itu membuat kita menangis meraung-raung. Sebaliknya ada yang mengira Roh Kudus akan membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang menyangka bahwa Roh Kudus membuat kita jatuh terlentang atau terlungkup. Ada yang menggunakan Roh Kudus untuk mengusir setan. Ada pula yang memakai Roh Kudus untuk menyembuhkan penyakit. Jadi, seharusnya tidak ada sesuatu yang harus dipersoalkan dalam kita merespons Roh Kudus, tinggal keterbukaan hati kita saja menerima beragam karyaNya yang tidak terduga namun menguatkan iman kita. (GK)