PEMBERIAN BOLEH BEDA, ASAL DAN TUJUAN TETAP SAMA

1 KORINTUS 12:1-11

Tim sepak bola sekalipun terdiri dari banyak orang dengan peran berbeda di setiap posisinya tetaplah dipandang sebagai satu tim jika mereka menang atau jika mereka kalah. Pemain penyerang yang berada di bagian depan di antara kawan lainnya seringkali mencuri perhatian banyak penonton dengan berbagai keterampilannya mencetak gol ke gawang lawan. Namun mari kita coba memperhatikan dengan lebih bijak ketika pemain penyerang berhasil mencetak gol. Bukankah dia tidak bergembira dan bangga sendirian? Bukankah keberhasilannya mencetak gol juga disambut dengan bangga oleh kawan lainnya yang turut membantu bola masuk ke gawang lawan? Mereka berpelukan satu sama lain dengan bahagia. Yang mencetak gol memang satu pemain, tetapi pemain tersebut tidak menjadi sombong dan merendahkan kawan lainnya ketika dia berhasil. Dia sadar bahwa apa yang dilakukannya dengan berhasil adalah untuk kemenangan suatu tim dan dia sadar bahwa dia adalah bagian di dalam tim tersebut sehingga dengan segala kemampuannya dia berupaya untuk membawa tim kepada kemenangan bersama bukan kemenangan atas kemampuan diri. Demikian pula kawan lain yang berada di posisi lainnya. Mereka tidak merasa menjadi rendah diri, atau bahkan kecewa ketika tidak dapat mencetak gol secara langsung. Mereka tidak sedang berkompetisi dengan kawannya yang ada di posisi depan sebagai penyerang. Itulah gambaran lain yang senada dengan apa yang Rasul Paulus sampaikan tentang berbagai karunia Allah yang diberikan dengan berbeda-beda di tengah kehidupan jemaat Korintus.

Karunia menurut KBBI adalah kasih, belas kasih, pemberian atau anugerah dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah. Dalam hal kehidupan jemaat Korintus, Rasul Paulus bermaksud mengingatkan dan hendak berusaha menyadarkan jemaat agar hidup saling menghormati satu sama lain dengan kemampuan diri yang berbeda-beda. Hal tersebut disampaikannya sebagai wujud ajakan agar jemaat menghayati bahwa kemampuan diri setiap orang di tengah jemaat adalah pemberian Allah, belas kasih dari Allah yang tidak dapat ditukar atau diprotes oleh jemaat. Bukan pula untuk menjadi suatu kompetisi di tengah kehidupan bersama, melainkan untuk saling melengkapi dan membangun kehidupan bersama sebagai satu tubuh dalam Kristus. Tidak ada pemberian Allah yang dianggap tidak berguna di hadapan Allah, karena semua kemampuan  yang dimiliki Allah-lah yang mengerjakannya (ay. 6). Andaikan pun manusia memiliki penilaian terhadap kemampuan seseorang, Rasul Paulus menyadarkan jemaat untuk hidup saling menghargai. Mengapa? Karena setiap kemampuan orang yang berbeda dan khas adalah pemberian Allah dalam Roh-Nya untuk kepentingan hidup bersama (ay. 7), dan lagi Allah yang menghendaki kemampuan setiap orang berbeda-beda (ay. 11). Ia memberikan kemampuan demikian beragam agar jangan terjadi perpecahan atau ajang berkompetisi yang tidak pada tempatnya (bdk. 1 Kor 12:25).

Semua orang diberikan Allah kemampuan yang khas demi alasan persekutuan bersama sebagai jemaat Kristus, tubuh Kristus. Tidak ada keberhasilan seorang diri, alias tidak ada pelayanan untuk kemuliaan diri sendiri. Semua yang diberikan oleh Allah adalah untuk kemuliaan Allah melalui persekutuan jemaat yang adalah satu tubuh. Oleh karena itu, apapun kompetensi yang Allah berikan dalam diri kita atau pun dalam diri sesama kita, mari kita terima, syukuri dan optimalkan untuk merespon berbagai perubahan situasi hidup di masa mendatang demi mencapai suatu kehidupan yang berlimpah rahmat dari Allah Sang Tujuan Hidup kita.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Kemampuan apa yang Anda sadari telah diberikan Allah kepada Anda ketika menghadapi pandemi dengan berbagai dampaknya dalam hidup Anda dan keluarga di tahun yang telah dilalui?
  2. Apa yang seringkali menghambat seseorang untuk menghargai kemampuan/kompetensi yang dimiliki orang lain dalam hidup bersama di tengah keluarga atau pun di tengah persekutuan?
  3. Bagaimana upaya yang tepat untuk menjalin kerjasama yang kompak dalam rangka memulihkan kehidupan dari berbagai dampak pandemi yang dialami?

(MAA)