Bacaan : Ayub 42:1-6
Kata “pengetahuan” yang Allah gunakan saat Ia memberi jawab kepada Ayub di dalam badainya (ayub 38:2; 42:3) yaitu kata Daath (Ibrani). Kata ini juga dipakai untuk menunjukkan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, pohon yang Allah tempatkan di tengah taman Eden bersama dengan pohon kehidupan dimana Allah telah memperingatkan manusia untuk tidak memakan buahnya (kej 2:16-17). Pengetahuan memiliki makna yang bukan sekedar perbuatan baik atau benar dan perbuatan yang jahat atau salah. Di dalam bahasa aslinya, kata baik dan jahat adalah Tob (baik) dan Ra (jahat). Tob terdiri dari 3 huruf Ibrani yang mewakili simbol tertentu. Teht, Vav dan Beth. Teth mengambarkan ular/naga, godaan setan; Vav adalah kata hubung dan, secara spiritual melukiskan usaha manusia dalam mengalahkan godaan setan, namun membangkitkan keinginan-keinginan lainnya. Beth simbol dari rumah Allah, yaitu Kemahakuasaaan Allah sebagai pencipta terhadap seluruh ciptaan-Nya. Kata Ra (jahat), dikenal sebagai ego, roh najis yang bermanifestasi menjadi berbagai keinginan antara lain marah, sombong, iri hati, cemburu, takut, rakus dan malas. Roh itu tetap tinggal di dalam diri manusia selama ia hidup.
Pengetahuan sejatinya mengungkapkan siapa diri Allah. Sebagai pencipta alam semesta, Ia berdaulat dan berkuasa penuh atas segala sesuatu yang pada mulanya tercipta dengan sangat baik. Pengetahuan juga mengungkapkan siapa sebenarnya manusia itu. Tanpa Allah, manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri. Ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah membuka jalan iblis untuk dapat mencobai manusia. Dosa memaksa manusia keluar dari pengetahuan Allah, meninggalkan taman Eden, hidup di padang gurun, mengalami penderitaan dan kematian. Yang lebih menyedihkannya lagi adalah bahwa semua keturunannya akan mengalami keadaan yang rendah, yaitu keberadaannya di dunia mengalami penderitaan dan kematian, tidak terkecuali Ayub.
Kepada Iblis, Allah memperkenalkan Ayub dengan sebutan hambaKu, sebuah kata panggilan untuk seseorang yang dibedakan karena ketaatan dan imannya yang teguh kepada Allah (ayub 1:8). Kisah Ayub dimulai dengan kesalehan dan kejujuran seorang kepala keluarga yang hidup menurut jalan yang ditetapkan Allah. Namun suatu ketika ia dihadapkan pada musibah yang sangat berat. Meskipun awalnya ia kuat menjalaninya, namun pada akhirnya ia tidak sanggup lagi menanggung kesengsaraannya. Di dalam keputusasaannya, Ayub meminta keadilan atas perkaranya, mempertanyakan keberadaan Allah dan menyalahkan Allah atas penderitaannya. Ayub berbicara tanpa pengetahuan dan perkataannya tidak mengandung pengertian (ayub 34:35).
Allah tidak memberi jawab atas semua pertanyaan Ayub, namun Ia mengungkapkan diri Ayub yang sebenarnya. “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?” (ayub 38:2). Kepada Ayub Allah ‘menelanjangi ‘ kesalahannya, Ia menegur Ayub yang tanpa pengetahuan yang benar tentang Allah berani berkata menentang Allah. Kemudian Allah menyatakan Kemahakuasaan-Nya, bahwa segala ciptaan-Nya berada di dalam kendali dan kuasa-Nya dan tidak ada satupun yang luput dari perhatian-Nya. Untuk segala perbuatan-Nya yang besar dan ajaib, Allah layak menerima hormat, pujian dan kemuliaan.
Di dalam penyesalannya, Ayub menyatakan kebesaran Allah (42:2), ia menyadari kesalahannya (42:3). Ayub membuka hatinya hanya untuk mendengar langsung perkataan Allah, sang empunya pengetahuan itu (42:4). Ayub mengarahkan pandangannya pada Allah (42:5) dan dengan kerendahan hati, ayub meratapi dosa-dosanya dan bertobat (42:6). Kehadiran Allah di tengah penderitaan Ayub memuaskan jiwanya. Ayub telah belajar mengenal Allah, bukan saja dari pengertiannya sendiri, maupun dari apa yang diungkapkan para sahabatnya. Allah sendiri yang telah datang menyatakan diri-Nya. Penyataan Allah memberinya keberanian untuk mengakui bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal (ayub 42:2), termasuk didalamnya rencana Allah atas penderitaan Ayub. Ketika Ayub dipulihkan, ia mengerti bahwa Allah di dalam keputusan Ilahi, menggunakan dirinya sebagai alat untuk melaksanakan rencana-Nya (ayub 46:11). Penderitaan, meskipun bukan berasal dari Allah, dapat terjadi atas seijin-Nya. Penderitaan dapat dipakai Allah untuk melaksanakan keputusan Allah di dalam rencana indah-Nya. Penderitaan juga dapat menjadi sarana Allah untuk membawa orang lain datang kepada-Nya. Sebagai orang berdosa, penderitaan kita adalah layak dibandingkan apa yang diderita oleh Yesus. Ia yang tidak berdosa adalah Allah yang sedia merendahkan diri-Nya, mengalahkan dosa dan maut, agar manusia memperoleh pengampunan dan anugerah Allah. Di dalam penderitaan Yesus, Allah menyediakan jaminan kehidupan kekal. Ketika kita menderita kiranya kita boleh terus memandang Allah yang adalah setia dan baik, yang oleh-Nya kita diberi pengharapan akan hidup kekal yang telah tersedia bagi setiap orang yang percaya dan menerima-Nya. Amin. (NGT)