“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10)
Bacaan : Ayub 23 : 1–17
Presiden Sukarno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menyatakan “Ambilah misalnya Leimena… saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati Nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.” Demikianlah Sukarno menggambarkan Johanes Leimena sebagai seorang yang sangat jujur.
Dalam pembacaan pada saat ini, kita melihat Ayub dalam penderitaannya sebagai ujian iman dan kasihnya kepada Tuhan. Ayub tetap beriman kepada Allah walau pun dia harus kehilangan banyak hal mulai dari harta maupun orang-orang yang sangat ia kasihi. Ujian iman yang sungguh sangat berat yang memunculkan siapa sebenarnya Ayub dihadapan teman-temannya Elifas, Bildad dan Zofar. Dan tentu saja Ayub tidak perlu menyembunyikan siapa dirinya di hadapan Tuhan, karena Tuhan sangat mengenal dirinya, mengetahui jalan hidupnya dan ia tidak bersembunyi kemanapun. Demikianlah Ayub diuji dihadapan Allah, dan didapati seperti emas.
Melalui teks di atas kita belajar siapa diri kita sebenarnya di hadapan Allah, ungkapan Bahasa latin Coram Deo melukiskan hubungan pribadi kita di hadapan Allah yang tidak ada tersebunyi sedikit pun di hadapan Allah. Seperti halnya seorang Presiden Sukarno sangat mengenal secara pribadi seorang kepercayaannya yang setia Johannes Leimena, terlebih Tuhan sangat mengenal secara mendalam siapa diri kita sebenarnya. Kesadaran kita akan makna Coram Deo meneguhkan kita untuk terus taat dan setia kepadaNya. (ITW)
Refleksi: Coram Deo mengingatkan siapa diri kita sesungguhnya di hadapan Allah.