YAKOBUS 3:1-12
RABU, 15 SEPTEMBER 2021
Seorang filsuf bernama Socrates pernah bertemu dengan seorang pria, kenalannya. Pria ini hendak menceritakan suatu kabar. Sebelum pria tersebut bercerita, Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan padanya, sebuah tes yang kini dikenal dengan sebutan Tes Tiga Filter (Triple Filter Test). Tes ini berisi pertanyaan saringan yang harus dijawab untuk mengetahui apakah cerita tersebut benar-benar perlu disampaikan atau tidak. Filter yang pertama adalah tentang kebenaran. Apakah kabar yang dia akan ceritakan ini adalah sebuah kebenaran? Filter kedua adalah tentang kebaikan. Apakah yang akan dikatakannya itu adalah sesuatu yang baik? Dan filter ketiga adalah kegunaan. Apakah yang akan dia ceritakan itu berguna bagi Socrates? Pada ketiga filter itu, pria tersebut menjawab: “tidak”, tiga kali. Lalu Socrates berkata, “Bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan tidak berguna bagi saya, mengapa Anda harus menceritakannya pada saya?”.[1]
Kisah Socrates ini mengingatkan kita bahwa sering kali lidah kita mengatakan sesuatu tanpa disaring (difilter) terlebih dahulu. Dan tanpa disaring seperti itu, terkadang yang keluar adalah gosip, hinaan, fitnah, kata kasar, kebohongan, kemunafikan, dan lain-lain. Semua itu adalah dosa yang disebabkan oleh lidah. Semua itu dapat berdampak buruk menjadi perselisihan, pengucilan, melukai orang lain atau diri sendiri, membunuh seseorang, dan lain sebagainya.
Seperti itu jugalah yang coba Yakobus maksudkan dalam suratnya tentang dosa yang ditimbulkan oleh lidah. Dia menggambarkan lidah itu seperti api, yang apabila tersulut, akan menghanguskan semua yang ada di hadapannya. Lidah juga seperti noda yang membawa kecemaran pada seluruh tubuh. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar tidak terjadi kerusakan dalam hidup oleh karena lidah? Tidak ada cara lain selain belajar mengendalikan lidah. Kenapa? Karena menurut Yakobus, lidah itu seperti kekang pada mulut kuda atau kemudi pada kapal, yang artinya lidah mampu mengendalikan hidup kita. Dan ini sangat merepotkan sekali, baik buruknya hidup kita bergantung pada lidah. Oleh karena itu, saat ini kita diingatkan bahwa orang bijaksana bukanlah mereka yang hidupnya dikendalikan oleh lidah, melainkan mereka yang mampu mengendalikan lidah mereka. Kalau mereka sudah bisa mengendalikan lidah mereka, mereka telah mengendalikan hidup mereka sendiri.
Surat Yakobus ini juga hendak mengkritik perilaku orang-orang Kristen Yahudi yang sering kali bisa memiliki dua sifat yang sangat bertentangan dengan mulutnya. Dengan lidah, mereka diajarkan untuk memuji Tuhan, yang senantiasa mereka lakukan dalam ritual keagamaan, tetapi dengan lidah yang sama, seseorang bisa mengutuk sesama manusia. Jika lidah kita senang memuji Tuhan, maka seharusnyalah lidah kita kita pakai untuk bersikap ramah, lemah lembuh, tidak mencaci maki, dan memberi rasa hormat pada sesama. Untuk memperjelasnya, Yakobus pun mengibaratkan seperti mata air yang tidak mungkin menghasilkan dua rasa berbeda dan pohon yang tidak mungkin menghasilkan buah yang berbeda. Artinya, orang Kristen sejati tidak akan menghasilkan perkataan yang buruk terhadap sesamanya.
Di masa pandemi dan era digital ini, perkataan kita tidak lagi hanya kita sampaikan lewat lidah tetapi juga lewat jemari kita. Kita bisa menemukan orang-orang yang sangat suka memasang status rohani dan penuh hikmat, tapi di media sosial lainnya mereka ikut mencaci maki seorang publik figur atau berkata kasar terhadap berita yang ia belum tahu kebenarannya. Dalam hal lainnya, sekarang ini orang dengan mudah menyebarkan berita hoax dan memprovokasi masyarakat. Semua itu bertaburan dalam grup-grup chatting dan bertebaran di berbagai macam platform media sosial.
Terhadap momok di atas ini, kita perlu melawannya dengan terus menerapkan saring sebelum sharing (membagikan). Kita perlu benar-benar menilai, apakah yang akan kita sampaikan ini akan berdampak buruk atau tidak dan apakah itu juga berguna dan merupakan sebuah kebenaran atau tidak. Selain menyaring, justru kita perlu juga untuk menunjukkan mana berita yang salah, meredam atau mencegah perkataan yang menyakitkan dan berdampak buruk. Kita tidak boleh diam, karena dengan diam kita sama saja seperti membiarkan api kecil menyala dan lama-kelamaan menjadi besar.
Yakobus dalam perikop sebelumnya menyampaikan bahwa iman tanpa perbuatan hakikatnya adalah mati. Jadi, kalau ada sesuatu yang salah dan kita diam saja, lantas apakah iman kita masih hidup di dalam diri kita?
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Menurut Saudara, hal apa lagi yang perlu diperhatikan untuk menjaga perkataan kita?
- Seberapa sulit bagi Saudara untuk menyaring perkataan sebelum benar-benar mengatakannya?
- Jika perkataan kita terlanjur menyakiti hati sesama atau berdampak buruk, hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?
(JHS)
[1] Kisah ini sudah dipersingkat oleh Penulis. Untuk kisah lebih lengkap dapat membuka https://www.kompasiana.com/burungparkit_/552e34c56ea834401f8b457c/triple-filter-test-ala-socrates?page=all (diakses 8 Juli 2021 pukul 20.05)