BAHAN KRT-RABU, 1 SEPTEMBER 2021
YAKOBUS 1:17-27
Dalam bahasa Yunani, logos memiliki arti kata-kata, berita, pidato atau wacana. Sedangkan dalam konteks teologis, logos memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kata tersebut bisa berarti Firman Allah, nubuat yang disampaikan para nabi (dalam konteks Perjanjian Lama), bahkan dapat merujuk kepada Allah atau Yesus. Kita dapat melihat Injil menurut Yohanes yang mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah (1:1) dan Firman itu telah menjadi manusia (1:14). Dalam kehidupan sehari-hari kita juga dapat menyebut Alkitab sebagai logos, walaupun logos bukan hanya Alkitab. Singkat kata, kita akan masuk pada refleksi tentang logos dalam konteks surat Yakobus.
Surat Yakobus adalah surat bermuatan teologis yang ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi diaspora. Kekhasan yang paling menonjol dari pemikiran teologis Yakobus adalah mengimani dan menjalani Kekristenan dengan perbuatan. Artinya iman tidak hanya diterima namun juga dipelihara dan diekspresikan dalam tindakan konkret. Selain itu, Yakobus juga suka menggunakan hubungan sematik dua kata yang saling bertentangan dalam suratnya, misal kebaikan-kejahatan, kehidupan-kematian. Dalam perikop yang akan kita refleksikan, Yakobus memberikan perhatiannya bagi para penerima suratnya merespons firman (logos) dalam kehidupan iman mereka.
Ayat 22 memberikan penegasan bahwa kita akan menipu diri sendiri jika hanya sebatas menjadi pendengar firman. Kita menjadi seorang yang manipulatif bagi diri kita sendiri. Salah satu karakter seorang yang manipulatif terhadap diri sendiri adalah ketika ucapan dan kelakukan sering tidak sejalan. Dalam konteks pendengar dan pelaku firman, di satu sisi kita gemar mendengar firman, khotbah, mengikuti kebaktian, persekutuan namun kita abai menerjemahkan hal tersebut dalam kehidupan aktual kita, bahkan pikiran, perkataan dan tindakan kita kontras dengan firman yang kita dengar. Yakobus memberikan ilustrasi akan kondisi tersebut, kita yang gemar mendengar namun enggan melakukan sama seperti seorang yang bercermin, melihat rupa dirinya di depan cermin, lalu tiba-tiba pergi dan lupa akan rupanya (ay. 23-24). Ilustrasi ini mengindikasikan bahwa kita yang hanya mendengar sangat begitu mudah melupakan apa yang kita dengar. Alhasil, firman dalam kehidupan dan diri kita tidak berakar, berlalu begitu saja. Lalu apa faedahnya, bukannya itu menjadi sia-sia? Artinya, responslah firman dengan cara menerima satu “paket,” siap mendengar dan siap melakukan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, keduanya saling menjalin, keduanya saling mengisi.
Cara terbaik menjadi pendengar dan pelaku firman adalah dengan merefleksikan bahwa kita hidup karena logos (dibaca: Kristus), kita memperoleh pengampunan dan keselamatan dari logos, kita disertai oleh logos, maka hiduplah dengan menghidupi logos (perkataan Kritus). Tidak hanya didengar namun juga dihidupkan dengan cara menjadi pelaku firman, menerjemahkan setiap kata-kata yang berasal dari Allah lalu secara konret dinyatakan dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Dengan demikian, niscaya kita bukan golongan orang-orang yang manipulatif bagi diri kita di hadirat Kristus.
Ingat! Kita punya dua mata dan dua telinga untuk melihat dan mendengar. Jangan lupa kita juga punya dua tangan dan dua kaki untuk digunakan memegang dan berjalan menghidupi firman yang kita lihat dan kita dengar.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa tantangan maupun kendala yang membuat kita urung diri menjadi pelaku firman?
- Sebutkan bentuk konkret dari menghidupi firman dalam kehidupan di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat!
- Apa respons kita terhadap sebuah kondisi di mana seseorang tidak atau jarang mendengar dan membaca firman namun rajin menjadi pelaku firman?
(HSV)