BAHAN KRT – RABU, 28 JULI 2021
EFESUS 3 : 14-21
Salah satu sarana terbaik untuk memahami kasih Allah adalah melalui anak-anak. Berapa kali kita dapat belajar tentang pengampunan, kesabaran yang seringkali sudah sampai pada batasnya, harapan yang tetap harus ditampakkan ditengah kekecewaan dan semua kekesalan. Kita belajar mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk anak-anak yang membuat kita bangga dan yang tidak membanggakan. Melalui pengalaman itu kita dapat mengerti betapa agung dan dalamnya kasih Allah.
Menurut Paulus kasih Allah itu lebar, panjang, tinggi dan dalam serta melampaui segala pengetahuan (ayat 18,19). Artinya, tidak ada ukuran yang pasti bagi kasih yang telah Allah nyatakan kepada kita seluruh ciptaanNya. Kasih Allah tak terukur sekaligus bersifat universal dan komunal. KasihNya dialami oleh banyak orang; kelompok, golongan kepentingan, sehingga setiap orang yang hendak memahami kasih Allah perlu menyelami batin, karena di sanalah Roh Allah menguatkan dan meneguhkan (ayat 16), Kristus hadir dan kita pun berakar di dalamnya (ayat 17).
Dapat dibayangkan bagaimana kuatnya Roh Allah dalam diri Paulus, rohnya mampu mengajak orang untuk juga kagum pada kasih Allah. Ia berdoa agar jemaat Efesus mengalami kepenuhan Allah (ayat 19). Kepenuhan Allah yang dimaksudkan adalah karya Allah di dalam Kristus yang mana Paulus sendiri menganggap hal itu sebagai kasih karunia (3:8) dan karenanya kita semua beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah (3:12). Ia ingin agar jemaatnya berproses ke arah kepenuhan tersebut.
Semasa pandemi, banyak orang yang mengalami keterpurukan, kesusahan dan penderitaan lainnya. Kita ingat di awal tahun ini, perjalanan bangsa kita pun diwarnai oleh beragam bencana, baik yang sifatnya alami maupun buatan / akibat dari ulah manusia. Situasi tersebut jangan justru meluluhlantakkan semangat iman dan kasih kita. Allah mampu melakukan jauh dari yang kita doakan dan pikirkan (ayat 20). Yang perlu kita lakukan adalah percaya dan terus mengupayakan yang terbaik karena kuasaNya bekerja di dalam kita.
Sebagai gereja, mengupayakan yang terbaik tentunya tidak mudah. Analogi hubungan orangtua dan anak di bagian pengantar dapat mewakili perjuangan kita menuju kepenuhan Allah. Biarlah doa Paulus juga menjadi doa kita semua sebagai pemimpin gereja, umat yang berkarya di tengah masyarakat.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
- Adakah pengalaman yang membawa kita semakin memahami akan penyelenggaraan kasih Allah dalam kehidupan kita?
- Hal-hal apa saja yang dapat kita nyatakan sebagai aksi dalam situasi kita saat ini?
(GMK)