SIAP MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP

2  KORINTUS  6 : 1-13

Sebagai orang percaya, kita senantiasa berhadapan dengan tantangan, baik yang bersumber dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar diri kita yaitu sesama kita manusia dan alam lingkungan di sekitar kita. Tantangan itu bisa bersifat peluang atau ancaman. Apapun bentuknya, tantangan itu mendorong kita kepada suatu pilihan : hadapi atau hindari ? Tentu saja, sesuai judul renungan/pokok pikiran pekan ini, apapun bentuknya serta kapanpun datangnya, maka tantangan itu harus siap kita hadapi. 

Hari ini kita mendapat pesan penting dari rasul Paulus melalui suratnya kepada Jemaat Korintus umumnya dan khususnya kepada para pemimpin dan pelayanan Jemaat yang ada. Apa pesan penting itu ? Tidak lain ialah ajakan dan nasehat rasul Paulus untuk siap sedia menghadapi berbagai bentuk tantangan hidup di tengah realitas dan dinamika kehidupan di dunia ini, yakni dengan siap sedia menyatakan jati diri sebagai pelayan Allah yang telah menerima panggilan dan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.

Dalam perikop pembacaan Alkitab hari ini kita menemukan pesan penting dari rasul Paulus kepada jemaat dan pemimpin jemaat Korintus, yang bagi Paulus adalah rekan sekerja dalam pekerjaan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Apa pesan penting itu ? Rasul Paulus mengingatkan rekan-rekan sekerjanya itu agar tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah mereka terima dalam Yesus Kristus. Kasih karunia Allah (kesempatan untuk menerima dan mengalami pengampunan, perdamaian, penyelamatan, berbagai berkat, pertolongan dan penyertaan yang disediakan Allah dalam Yesus Kristus) dinyatakan dalam waktu Tuhan sendiri, yaitu waktu ini, hari ini, saat ini (6:1-2 ; bandingkan Yesaya 48:8, 62:1-2). Ya saat ketika orang-orang percaya menghadapi berbagai ajaran iman atau ajaran berbeda yang menjauh dari kasih karunia Allah, serta berbagai tindakan hambatan dan ancaman yang melemahkan iman.

Nasihat rasul Paulus ini dikemukakan karena diantara mereka rupanya masih ada yang dipengaruhi oleh : (a) adanya pengajaran dan pemahaman agama lama, agama Yahudi, dan ajaran lain yang berbeda dengan yang diberitakan oleh Paulus sebelumnya, (b) adanya berbagai sikap, tindakan dan perlakuan dari aparat yang tidak adil serta warga masyarakat yang membenci, memusuhi, mengintimidasi, menyakiti dan menakutkan, yang kesemuanya itu menyebabkan mereka tidak dapat bahkan tidak berani mewujudkan kehidupan iman dan panggilan mereka sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia dari Tuhan dalam Yesus Kristus. Selain karena kenyataan itu, Paulus mengetahui (c) adanya orang-orang yang mempertanyakan kerasulannya, sehingga Paulus dengan segala pemberitaan, nasehat dan pengajarannya “hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu” (6:12b). Semua itu dapat menjadi batu sandungan dalam relasi sebagai sesama rekan sekerja selaku pelayan Allah, dan terutama dalam pekerjaan pekabaran Injil Yesus Kristus.

Sebagai rekan sekerja, rasul Paulus bukan sebatas memberi nasehat, tetapi sekaligus memberikan kesaksian nyata dari perjalanan kehidupannya sendiri, bagaimana ia sebagai seorang yang telah menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus menghadapi dan menjalani tantangan kehidupan yang luar biasa berat. Baginya, kasih karunia Allah yang telah diterimanya itu amat sangat besar nilai dan kuasanya. Karena itu, alih-alih melemahkan dan menghentikan langkahnya, berbagai bentuk kesukaran, kesusahan, penghinaan, penderitaan yang dialami Paulus karena berbagai sikap dan tindakan buruk yang diterimanya dari berbagai pihak (dari aparat, warga masyarakat, para pengajar sesat dengan para simpatisannya) malah menjadi kekuatan dan penghiburan yang luar biasa, sehingga dalam situasi terburuk serta resiko yang paling berat sekalipun, semuanya itu dapat diterima, dihadapi dan dijalani dengan dengan tabah, setia, semangat, syukur dan sucakita (6:4-10). Dengan hidup dan melayani yang demikianlah Injil Yesus Kristus dapat terus diberitakan dan semakin banyak orang mendengar dan menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, tentu bukan dengan kekuatan insani Paulus, melainkan kekuatan dari Allah (band. 2 Kor 4: 7-11).

Dengan membeberkan harapan dan kesaksian hidupnya, rasul Paulus membuka diri untuk dikenal dan dipahami lebih jelas dan tepat, sehingga segala niat, nasehat dan harapan Paulus dapat diterima dengan hati dan pikiran yang positif dan terbuka, sebagaimana Jemaat dan rekan sekerja di Korintus selama ini mendapat ruang dan tempat yang lebar di hati rasul Paulus dan rekan sekerja yang bersamanya (6:12a). Harapan ini disampaikan rasul Paulus tak sebatas hubungan antar rekan kerja, melainkan dalam relasi yang lebih dekat dan kuat sebagai orang tua dan anak (6:13).

Sebagai anggota jemaat dan pelayan Jemaat pada masa kini, kita pun tidak dapat lepas dan bebas dari berbagai tantangan kehidupan. Ya tantangan untuk mewujudkan hidup sebagai pelayan Allah, sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Konteks situasi kehidupan kita saat ini pada dasarnya tidak jauh berbeda, walaupun mungkin situasi dan kondisinya tidak separah dan semenakutkan pada masa rasul Paulus serta pemimpin dan anggota Jemaat Korintus saat itu. Kita sering menemukan kenyataan bahwa atas nama demokrasi, ada pribadi atau kelompok orang yang memaksakan kehendak dan kebenarannya, sehingga menimbulkan suasana yang tidak aman dan nyaman dalam kehidupan bersama sebagai gereja atau bangsa yang heterogen. Di tengah situasi dan keadaan ini, setiap orang percaya ditantang untuk mewujudkan panggilan hidupnya sebagai pelayan Allah yang telah menerima kasih karunia Allah, supaya kasih karunia Allah didengar dan dialami oleh semakin banyak orang.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSIKAN

  1. Apa tantangan internal dan eksternal yang saat ini berpotensi besar (paling) melemahkan semangat hidup orang percaya?
  2. Bagaimana membangun pengertian dan tanggung jawab bersama anggota keluarga dalam mendukung anggota keluarga mampu menghadapi berbagai tantangan hidupnya?
  3. Agar tiap-tiap warga jemaat siap (mau dan mampu) menghadapi tantangan eksternal yang paling melemahkan kehidupan diri dan persekutuannya, sikap dan peran seperti apakah yang dibutuhkan dari setiap pemimpin dan anggota Jemaat?

       (KLS)