“Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh, engkau tidak mengikuti perintah Tuhan Allahmu yang diperintahkanNya kepadamu. Sebab sedianya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel selama-lamanya” (1 Samuel 13 : 13).
Ketika seorang guru Zen bernama Bankei mengajar, para pendengarnya bukan hanya murid Zen, melainkan juga orang awam dan banyak orang lain dari sekte yang berbeda-beda. Dalam mengajar dia tidak pernah mengutip ajaran suci ataupun pemikiran spekulatif. Sebaliknya dia langsung mengajar dari hatinya dan menyentuh hati para pendengarnya. Suatu ketika ada seorang pengikut sekte Nichiren yang meninggalkan sekte itu dan belajar ajaran Zen. Mengetahui hal tersebut, pemimpin sekte ini sangat marah dan mendatangi Bankei untuk berdebat. Pemimpin sekte ini mendatangi Bankei dan berteriak: “Hei Guru Zen, aku telah mendengar, banyak orang sangat menghormatimu sehingga taat pada semua perintahmu. Tetapi, aku tidak menghormatimu. Apakah kamu dapat membuatku menaatimu?”
“Datanglah kemari, duduk di sebelah kananku dan akan kutunjukkan kepadamu!” Jawab Bankei dengan lembut, penuh wibawa. Dengan angkuhnya orang tersebut menerobos kumpulan banyak orang yang sedang mendengarkan ajaran Bankei. Kemudian ia duduk di samping Bankei. “Maaf, kursi itu kotor. Muridku lupa membersihkannya. Silakan duduk di kursi sebelah kiriku ini” Kata Bankei sambil tersenyum ramah. Orang tersebut menuruti perintah Bankei. “Tidak!” Kata Bankei. “Kurasa kita lebih baik berdiri berhadapan supaya dapat berdebat dengan bebas” perintah Bankei,
Dengan gaya amat sombong, orang tersebut berdiri di depan Bankei. Lalu Bankei berkata “kamu telah melihat bahwa aku telah membuatmu taat. Sekarang duduklah di lantai bersama dengan orang lain dan dengarkan ajaranku”. (diambil dari buku Secangkir Teh, hal. 35).
Dalam kotbah minggu lalu (6 Juni 2021-red), kita menyimak bangsa Israel yang menghendaki adanya seorang raja kepada Samuel, sehingga peranan Samuel sebagai hakim menjadi tidak dibutuhkan. Maka diangkatlah seorang raja, yakni Saul. Nas Alkitab yang menjadi judul di atas adalah perkataan Samuel ketika Saul sebagai Raja Israel pertama justru tidak taat akan perintah Tuhan. Sangat disayangkan, orang yang Tuhan pilih ternyata tidak taat kepada Tuhan. Hal ini menjadikan Tuhan menyesal telah memilih Saul menjadi raja (1 Sam. 15:35). Dari ketidaktaatan Saul, kita dapat belajar bahwa ketaatan adalah sebuah pilihan. Pilih untuk mau melakukan sesuai dengan yang sudah ditetapkan atau tidak, dalam hal ini ketetapan Allah. Namun demikian, ketaatan bagaimana pun juga sebetulnya telah ada dalam diri kita. Ketaatan akan timbul dengan sendirinya jika kita memiliki penghargaan dan penghormatan kepada sosok yang memiliki ketetapan di mana kita harus taat, dalam hal ini Tuhan. Namun sebaliknya, jika kita tidak taat, berarti kita tidak memiliki penghormatan dan penghargaan itu terhadap Tuhan. Jadi, hormatilah Tuhan. Jadikan dia Allah yang harus kita agungkan mengatasi segala hal, maka kita akan taat kepada-Nya. (AL)