ROMA 8:12-17
Apa yang akan anda lakukan jika mendapatkan kesempatan yang kedua? Mudah menjawabnya, pasti kita akan melakukan yang terbaik atau memperbaiki apa yang telah kita lakukan. Bagaimana jika kesempatan kedua itu datang dari Allah ketika ia mengangkat dari maut dan menjadikan kita sebagai anak-Nya?
Paulus memperkenalkan kepada kita suatu kiasan, yang di dalamnya ia menggambarkan hubungan baru antara orang Kristen dengan Allah. Orang Kristen disebutnya: diangkat (adopsi) menjadi anggota dari keluarga Allah. Kita hanya akan mengerti tentang arti yang mendalam dari hal ini, apabila kita mengerti bagaimana serius dan berbelit-belitnya proses adopsi di lingkungan orang Romawi.
Pengangkatan anak (adopsi) orang Romawi dibuat lebih serius dan lebih sulit dengan adanya konsep patria potestas, yaitu kekuasaan ayah atas keluarganya. Inilah kekuasaan mutlak seorang ayah untuk membuang dan menguasai, dan pada mulanya benar-benar kuasa atas hidup-mati anaknya. Dalam hubungan dengan ayahnya, seorang anak laki-laki Romawi sebenarnya tak pernah menginjak dewasa. Tak peduli berapa pun umurnya, ia tetap di bawah patria potestas, di dalam pemilikan absolut dan di bawah penguasaan mutlak dari ayahnya. Jelas, hal ini membuat pengangkatan anak ke dalam keluarga lain sangat sulit, suatu langkah yang berat. Dalam pengangkatan anak seorang harus bisa keluar dari satu patria potestas dan masuk ke bawah yang lain.
Langkah yang harus dilakukan dalam pengangkatan anak (adopsi) dikenal sebagai mancipatio, yang dilambangkan dengan hal jual-beli, dimana anak timbangan dan timbangan itu dipakai secara simbolis. Tiga kali jual beli simbolis itu dilaksanakan; dua kali secara simbolis, ayah menjual anaknya dan dua kali ia membelinya kembali; tetapi yang ketiga kalinya ia tidak membelinya kembali dan dengan demikian patria potestas itu dibatalkan. Langkah itu diikuti dengan suatu upacara yang disebut vindicatio. Ayah angkat itu pergi menghadap praetor, salah seorang pejabat Romawi dan memohonkan secara hukum untuk pemindahan hak atas orang yang diadopsinya ke dalam patria potestasnya. Apabila semua ini telah beres, pengangkatan orang itu selesai.
Tetapi konsekwensi dari pengangkatan ini :
- Orang yang diangkat itu kehilangan seluruh hak di dalam keluarganya yang lama dan mendapat hak sebagai anak yang sah dalam keluarganya yang baru. Melalui jalan sah yang sangat mengikat itu, ia mendapat seorang ayah baru.
- Ia menjadi ahli waris atas harta ayah barunya. Meskipun sesudah itu lahir anak yang lain, hal itu tidak mempengaruhi haknya.
- Secara hukum, kehidupan yang lama dari orang yang diadopsi itu dihapuskan. Ia dianggap sebagai orang baru yang masuk ke dalam kehidupan yang baru; yang lama sama sekali tidak berlaku lagi
- Dalam pandangan hukum, ia adalah mutlak anak dari ayah barunya.
Paulus kemudian menggunakan gambaran lain lagi dari pengangkatan anak orang Romawi, ia berkata, bahwa Roh Allah bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita benar-benar anak-Nya. Upacara pengangkatan dilakukan di hadapan tujuh saksi. Seandainya ayah angkat itu mati dan ada percekcokan tentang hak dari anak angkat itu untuk mewarisi, seorang atau lebih dari saksi-saksi itu melangkah ke depan dan bersumpah bahwa pengangkatan itu benar. Maka hak dari anak angkat itu terjamin dan ia betul-betul menjadi warisnya. Paulus berkata, bahwa Roh Kudus sendiri menjadi saksi untuk pengangkatan kita ke dalam keluarga Allah.
Dahulu kita ada di dalam kekuasaan mutlak dari tabiat kita yang berdosa; tetapi Allah karena kasih setianya, telah membawa kita ke dalam ikatan kasihNya yang mutlak. Kehidupan lama tidak lagi mempunyai hak atas kita; Allah yang mempunyai hak mutlak. Yang lama telah dibatalkan dan hutangnya telah dihapuskan; kita mulai suatu kehidupan baru dengan Allah dan menjadi ahli waris seluruh kekayaanNya. Jika demikian, kita menjadi pewaris bersama-sama dengan Yesus Kristus, Anak Allah yang sejati. Apa yang Kristus warisi, kita juga mewarisinya. Jika Kristus harus menderita, kita juga mewarisi penderitaan itu; tetapi jika Kristus dibangkitkan untuk kehidupan dan kemuliaan, kita juga mewarisi kehidupan dan kemuliaan itu.
Dalam gambaran Paulus, apabila seseorang menjadi Kristen, ia masuk ke dalam keluarga Allah. Ia tidak berbuat sesuatu supaya layak menerima itu, Allah, Bapa yang Mahabesar, di dalam kasih setia-Nya yang menakjubkan telah mengambil yang hilang, yang tak berdaya, papa, berdosa dan mengangkatnya menjadi anak-Nya, sehingga hutangnya dibatalkan dan ia mewarisi kemuliaan.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Kita patut bersyukur karena Allah mengangkat kita menjadi anak-Nya sehingga kita memiliki kehidupan baru, oleh karena itu apa yang bisa kita wujudkan sebagai tindakan nyata dari ungkapan syukur kita kepada Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari di tengah keluarga, gereja dan masyarakat?
- Apa tantangan dalam mewujudkan hidup sebagai anak-anak Allah dan bagaimana kita mengatasinya?
- Bagikan pengalaman hidup anda dalam mengalami hidup baru di dalam Tuhan!
(CEK)