1 YOHANES 3 : 16-24
Ada sebuah lagu lawas yang terkenal yang liriknya berbunyi demikian, “Memang lidah tak bertulang, tak berbekas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.” Lagu ini seperti sedang mengingatkan bahkan juga menyindir manusia yang seringkali punya kecenderungan menyatakan kasih yang ingkar. Kita bisa janji pergi tak lama, namun ternyata dia tak pernah kembali. Lidah kita memang tak bertulang. Jadi, ucapan apa pun, bisa dengan mudah kita tarik kembali. Entah dibatalkan atau begitu saja diingkari. Lagu ini juga mengajarkan bahwa memegang teguh janji untuk melakukan sesuatu dengan benar, nampaknya bukan perkara mudah. Dalam beberapa kasus, proses itu membutuhkan pengorbanan bahkan terkadang harus mengalahkan kepentingan diri sendiri, agar janji itu bisa ditepati. Tapi, itulah resiko janji. Ia harus ditunaikan. Nilai yang sama juga berlaku dalam hidup beriman manusia di tengah berbagai dinamika kehidupan. Keselarasan dalam kata dan perbuatan memang harus menjadi gaya hidup terutama menyangkut percaya kepada Tuhan dan melakukan kehendakNya. Percaya bukan sekadar percaya tetapi percaya dengan benar yang selalu dilanjutkan dengan sikap mau belajar melakukan kehendak-Nya.
Surat 1 Yohanes 3 : 16-24 menyatakan kepada kita bahwa kita disebut anak-anak Allah karena kita berasal dari Allah dan lahir dari kebenaran. Kebenaran itu mampu meneguhkan seseorang untuk percaya bahwa dirinya mampu melakukan yang benar di hadapan Allah. Mengapa? Karena Allah tahu isi hati kita, Allah tahu motivasi kita dalam melakukan sesuatu. Relasi yang dekat dengan Allah akan membuat kita lebih memahami apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam kehidupan ini, yaitu mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Bagaimana mengasihi dengan perbuatan dalam kebenaran? Penulis surat Yohanes memberi contoh jika kita mempunyai harta duniawi dan melihat saudara kita menderita kekurangan tetapi kita menutup pintu hati kita terhadap saudara kita itu, maka kasih Allah tidak ada di dalam diri dan hidup kita.
Predikat sebagai anak-anak Allah memang harus nyata dalam kehidupan yang saling mengasihi. Allah memampukan manusia untuk hidup saling mengasihi, yaitu dengan keberadaan Roh Kudus dalam diri manusia. Artinya, kemampuan untuk hidup dalam kasih itu juga merupakan karya Roh Kudus dalam hidup manusia, demikian juga dengan memberlakukan hidup benar di hadapan Allah. Allah tentu tidak akan melepaskan manusia begitu saja untuk berusaha, bekerja dan berkarya seorang diri. Sebaliknya, kita bisa menaruh percaya kepada Kristus dan hidup dalam kasih. Hidup dalam kasih adalah anugerah Allah yang paling indah dan mulia. Kita diingatkan bahwa jika kita menuruti segala perintah-Nya, maka kita akan diam di dalam Allah dan Allah di dalam kita. Dan dengan demikian kita akan tahu bahwa Allah ada di dalam kita, itu karena Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
Lalu apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam kehidupan ini? Pertama, kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya. Kedua, kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Bagaimana cara yang nyata dalam mewujudkan percaya yang benar kepada Allah?
- Apa kesulitan yang seringkali kita alami ketika kita ingin belajar melakukan yang benar?
(ASR)