HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

1 YOHANES 3:1-7

“Habis gelap terbitlah terang” dan Hari Kartini adalah dua hal yang selalu dikenang dan dikenal bersamaan. Keduanya adalah inspirasi bagi Indonesia untuk mengentaskan kebodohan/ kegelapan/ ketidaktahuan. Keduanya juga sangat relevan untuk kondisi kita saat ini, baik dalam konteks pribadi, bergereja, maupun bernegara. Sebab pada kenyataannya kita diperhadapkan pada situasi di mana kita seolah-olah telah tahu banyak hal, tetapi ternyata pengetahuan kita tersebut justru sangatlah terbatas. Kondisi ini kerap menjadi sasaran empuk bagi beredarnya berita-berita bohong yang berpotensi merusak hubungan antar pribadi dan bangsa.

Konteks Kartini “dari gelap ke terang” khusus di bidang pendidikan dan sosial. Jati diri bahwa perempuan juga bisa maju. Jati diri manusia baru dari gelap ke terang adalah karena kasih Allah semata-mata.

Penulis surat Yohanes memberikan pengingatan sekaligus penekanan atas pemahaman diri pengikut Kristus sebagai anak-anak Allah. Ia memisahkan dua kondisi:  (1) kondisi sebagai orang yang berdosa, disebutnya sebagai pelanggaran Hukum Allah, dan (2) kondisi berada di dalam Dia. Pemisahan ini sekaligus membuat setiap pembaca untuk dapat merenung ulang dengan mengajukan pertanyaan atas diri sediri: saya ada di posisi mana?

Bagi penulis surat Yohanes, amatlah penting bagi setiap orang Kristen, yaitu anak Allah, mengenali identitas dirinya, sebab dengan demikian setiap orang Kristen akan mengorientasikan dirinya berdasarkan identitas itu, yaitu menjadi sama Dia/ Kristus (ay.2). Singkatnya, penulis Surat Yohanes ingin membongkar kesadaran batin kita agar kita benar-benar mengenali diri sendiri, mengenali jati diri.

Penulis surat Yohanes nampaknya melihat bahwa pembaca suratnya sangat perlu mengenali jati dirinya dalam rangka menghadapi tantangan di luar diri mereka dan juga para penyusup jemaat yang berupaya menyesatkan jemaat. Ketidaktahuan jati diri sebagai anak-anak Allah dapat dimaknai sebagai kegelapan/ kebodohan, dengan demikian menjadi peluang besar untuk terbawa ke dalam pelanggaran Hukum Allah. Hal serupa dapat kita lihat dalam konteks jati diri kita sebagai gereja di Indonesia dan juga jati diri kita sebagai anak Bangsa Indonesia.

Catatan terakhir dari perikop ini adalah tentang peringatan penulis surat Yohanes pada ayat 7, yaitu “janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu”. Ini juga disampaikan oleh penulis surat Yohanes dalam rangka menolong pembaca menjadi waspada terhadap situasi yang mereka hadapi, yaitu ketika berhadapan dengan setiap orang. Penting sekali untuk dapat mengenali siapakah penyesat, baik itu orang di luar gereja, maupun penyusup. Lalu, bagaimana supaya tidak disesatkan? Bekalilah diri dengan pengetahuan iman yang cukup, bekalilah diri dengan mengenali kebenaran Allah, bekalilah diri dengan pengetahuan tentang arah hidup sebagai anak-anak Allah.

Mari bersama-sama berproses mengenali diri sebagai anak-anak Allah. Mari berproses untuk jeli mengenali hal-hal apa saja yang menutupi pikiran dan pandangan kita mengenali diri kita sendiri sebagai anak-anak Allah. Mari berproses menyingkirkan awan kelam sehingga habis gelap terbitlah terang.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa yang sering menghalangi pandangan kita memahami peran dan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah?
  2. Proses seperti apa yang Anda lakukan dalam rangka  mengenali peran dan tanggung jawab anak-anak Allah?
  3. Apa langkah yang akan Anda lakukan sebagai bentuk tersingkirnya kegelapan untuk masuk ke dalam kehidupan terang, baik dalam konteks hidup pribadi maupun bernegara?

              (SST)