YOHANES 12:12-16
Seorang penulis bernama Oswald Chambers pernah berkata bahwa akar dari semua dosa adalah rasa tidak percaya bahwa Allah itu baik. Orang yang berpikir bahwa Allah tidak baik akan melihat dosa sebagai sesuatu yang menarik dan menggoda, sedangkan perintah Allah adalah penyebab manusia kehilangan kesenangan mereka.
Mungkin yang dikatakannya bisa kita pahami dengan mudah. Saat kita percaya bahwa perintah Allah diberikan supaya manusia tidak menemukan kesenangan dalam hidup, maka kita akan melihat dosa sebagai sesuatu yang kita inginkan. Sebaliknya, saat kita tahu bahwa kuasa Allah adalah kuasa yang memulihkan dan perintah Allah adalah demi keselamatan kita, maka kita akan hidup dalam kesetiaan pada firman dan kehendak-Nya. Tetapi untuk dapat percaya pada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya, kita haruslah mengenal-Nya terlebih dahulu.
Dalam sebuah kisah dikatakan pemimpin gereja awal, Agustinus, pada suatu hari disapa oleh seorang yang mengikuti agama Yunani dan menunjukkan patung tuhannya. Pengikut agama Yunani itu menunjukkan patung tuhannya sambil berkata, “Ini adalah tuhanku, dimana tuhanmu?” Agustinus kemudian menjawab, “Saya tidak dapat menunjukkan Tuhan saya. Bukan karena tidak ada Tuhan yang dapat saya tunjukkan, tetapi kamu tidak mempunyai mata untuk melihat Dia!” Memiliki mata yang mampu melihat dengan tepat dan mengenali karya Allah dalam dunia akan membuat kita memuliakan Allah atas karya-Nya di dunia ini lalu dapat merespon dan bertindak dengan tepat dalam karya kita di dunia ini.
Injil Yohanes pasal 12 menggambarkan makna dari kematian dan kebangkitan Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus adalah dua hal dari tindakan tunggal Allah yang dikerjakan di dalam dan oleh Yesus, Anak Allah. Tindakan dan karya Allah yang dikerjakan di dalam Yesus itu adalah tindakan yang patut untuk dimuliakan oleh manusia.
Injil Yohanes menggambarkan orang-orang yang sudah ada di Yerusalem keluar untuk menyambut Yesus yang memasuki kota mereka. Sudut pandang sambutan dari penduduk Yerusalem ini agak berbeda dari Injil Sinoptik yang mencatat bahwa orang-orang yang memuliakan Yesus adalah para peziarah dari segenap penjuru Israel yang akan memasuki kota Yerusalem. Tetapi memang dapat saja kita katakan bahwa kedua kisah ini terjadi dalam peristiwa yang sama. Injil Sinoptik mencatat dari sudut pandang orang yang sedang berjalan bersama Yesus memasuki Yerusalem, sedangkan Injil Yohanes mencatat dari sudut pandang orang yang sudah ada di Yerusalem.
Mereka menyambut Yesus dengan mengangkat daun palem tinggi-tinggi. Tindakan mengangkat daun palem adalah tanda kemenangan. Saat Simon Makabe mengusir orang yang tidak percaya pada ‘Allah orang Israel’ dari puri di Yerusalem, Kitab Deuterokanonika 1 Makabe 13:51 mencatat, “Pada tanggal dua puluh tiga bulan kedua tahun seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan daun palem, diiringi dengan kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah dan gita. Sebab musuh besar Israel sudah digempur.”
Tetapi selain itu, seruan ‘Hosana’ yang dihubungkan dengan mengangkat daun palem juga sangat akrab dalam imaji orang Israel. Kata ‘Hosana’ adalah bentuk perintah dari kata ‘selamatkan’ dengan tambahan penekanan dalam konteks waktu. “Selamatkan [kami] sekarang juga.” Seperti teriakan orang yang sedang terancam tenggelam. Kemudian kata ‘Hosana’ itu menjadi bagian dari salam atau dapat juga menjadi ungkapan pujian kepada Tuhan. Dalam hari raya Pondok Daun, Mazmur 113-118 dinyanyikan setiap pagi dan saat tiba pada kata ‘Hosana’ yang ada di Mazmur 118:25, setiap lelaki yang ada di Bait Allah menggoyangkan ‘lulab’. ‘Lulab’ adalah seikat ranting gandarusa dan ranting murad yang disatukan dengan daun palem. Seruan ‘Hosana’ dalam bacaan Mazmur 118:25 itu diulang tiga kali untuk semakin menunjukkan harapan mereka akan pertolongan Tuhan. Dengan adanya konotasi yang kuat antara seruan ‘Hosana’ dengan mengangkat daun palem, menunjukkan secara jelas bahwa mereka menganggap Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan.
Kita percaya bahwa tindakan dan karya Allah di dalam dunia juga masih dikerjakan-Nya sampai saat ini. Dunia selalu akan penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Kesulitan dan pergumulan adalah bagian yang tidak terpisahkan karena dunia ini dikuasai oleh dosa. Meskipun demikian, karena kita tahu bahwa Allah itu baik dan Dia terus berkarya di dalam dunia ini maka kita perlu melihat dan mengenali karya Allah yang sedang dikerjakan-Nya saat ini. Menyambut karya Yesus yang bekerja di dalam dunia seperti penduduk Yerusalem yang menyambut Yesus masuk ke dalam kota Yerusalem. Berseru ‘Hosana’ dan mengharapkan karya penyelamatan-Nya terjadi saat ini. Memuliakan Allah atas karya dan kebaikan-Nya serta turut ambil bagian dalam karya Allah di dunia ini.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Bagaimana kita memandang perintah dari Tuhan? Sesuatu yang baik atau sesuatu yang tidak menyenangkan? Jelaskan!
- Karya apa yang saudara lihat sedang dikerjakan oleh Tuhan saat ini?
Bagaimana saudara ambil bagian dalam karya penyelamatan Tuhan yang sedang dikerjakan-Nya hingga karya Tuhan dikenal, kasihnya diwartakan dan nama Tuhan dimuliakan? (RDY)