IBRANI 5:5-10
Dalam tradisi Yahudi, imam adalah jabatan seseorang yang mempunyai peranan penting dalam sebuah peribadahan. Seorang imam bertugas sebagai pengantara antara umat dengan Allah, hal ini nampak dalam bagian ketika umat memohon pengampunan atas dosa-dosanya. Meskipun imam bertugas untuk memohon ampun atas dosa umat, tetapi imam sendiri adalah pribadi yang tidak luput dari dosa. Sehingga seorang imam harus menjaga dirinya agar tidak “terseret” dalam kehidupan umat yang berdosa. Setiap kali ia mempersembahkan korban penghapusan dosa, ia juga harus menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan anugerah pengampunan dari Allah. Sehingga para imam juga mesti hidup taat di dalam perintah Tuhan.
Di dalam Perjanjian Lama ada sosok imam yang sangat dihormati oleh umat, yaitu Melkisedek. Perjanjian Lama menggambarkan Melkisedek sebagai imam Allah Yang Mahatinggi dan raja Salem (Kej. 14:17-20). Ia juga yang memberkati Abraham dan menjanjikan berkat dari Allah.
Menurut kesaksian penulis Kitab Ibrani, saat ini kita memiliki Imam Besar Agung yaitu Yesus Kristus. Apabila tugas imam dalam tradisi Yahudi adalah menghantar korban persembahan kepada Allah, tetapi Yesus Kristus justru adalah Sang Kurban itu sendiri. Pengorbanan-Nya di atas kayu salib memberikan penebusan dan pengampunan manusia dari dosa. Melalui kehidupan dan kematian Yesus membawa anugerah bagi manusia. sekalipun diri-Nya adalah “Anak Allah” (ay. 8), tetapi Ia tetap memilih jalan penderitaan sebagai bentuk ketaatan-Nya kepada Sang Bapa. Ketaatan Yesus memberikan keteladanan bagi kita, bahwa sekalipun Ia bisa menolak dan menghindari jalan derita, namun Ia menerimanya dengan taat. Jalan ketaatan Yesus-lah pada akhirnya Allah memuliakan Dia. Allah memuliakan-Nya menjadi seorang Imam Besar yang telah menyerahkan diri-Nya menjadi pendamaian bagi orang berdosa.
Ketaatan Yesus untuk mengambil jalan penderitaan mengingatkan kita yang tengah bergumul dengan penderitaan dan pergumulan kehidupan. Ketaatan Yesus menyadarkan kita bahwa Ia tahu penderitaan kita, karena Ia pun pernah mengalaminya. Melalui ketaatan Yesus kita belajar untuk menyerahkan segala penderitaan kepada-Nya dan memohon kekuatan dari pada-Nya. Ketaatan Yesus mengajarkan kita juga untuk memiliki sikap kepekaan terhadap penderitaan sesama kita. Sehingga kita pun dipanggil untuk menyatakan kasih kepada mereka yang tengah dalam penderitaan. Dalam ketaatan, kita meyakini Yesus, Sang Imam Besar, akan menemani kita untuk melewati penderitaan.
Yesus taat dalam rangka melaksanakan panggilan sebagai Mesias, maka sebagai gerejaNya, Tubuh Kristus, kita pun belajar taat untuk melakukan panggilan bersekutu, melayani dan bersaksi.
UNTUK DIDISKUSIKAN
- Apakah yang menjadi tantangan orang percaya saat ini untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan di dalam penderitaan yang dialami?
- Bagaimana upaya kita untuk menolong sesama kita yang dalam penderitaan, sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan?
(FPA)