1 KORINTUS 1:18-25
PENJELASAN BAHAN
Menurut KBBI hikmat berarti kebijakan dan kearifan. Yang dimaksudkan dengan kebijakan adalah:
1. Kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan
2. Rangkaian konsep dan asas yang menjadi dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak.
Sedangkan arif artinya tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan. Dengan demikian dapat kita simpulkan hikmat menurut KBBI adalah rencana dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan yang bersangkutan).
Dalam menjalani minggu Pra Paskah III menuju Jumat Agung dan Hari Raya Paskah, khususnya dalam mempersiapkan rencana kerja dan pelayanan kita sebagai GKP pada periode 2021/2022 (khususnya menyambut Sidang Sinode XXIX GKP tahun 2022), tentu saja kita tidak boleh mengandalkan hikmat manusia dalam mencapai tujuan-tujuan berdasarkan visi dan misi GKP, tetapi kita harus mengandalkan hikmat Allah.
Rasul Paulus dalam surat pertamanya ke jemaat Korintus menegaskan tentang pentingnya Hikmat Allah untuk menjadi dasar kehidupan jemaat Korintus dalam memberitakan Kristus yang disalibkan (ayat 23-24) : “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan : untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah”. Rahasia pengorbanan Yesus Kristus yang menderita dan mati di salib adalah hikmat Allah yang akan membukakan mata dan hati manusia yang masih mengandalkan hikmat dunia, yang membuat dirinya tidak dapat melihat kasih Allah yang besar di dalam berita Injil yang merupakan kebodohan bagi manusia yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, kebijaksanaan dan kearifan dunia untuk melihat tanda-tanda dan mencari hikmat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani (ayat 21-22) ; “Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat”.
Menghayati minggu-minggu Pra Paskah, Minggu Sengsara, Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Hari Raya Paskah menjadi sangat penting di saat kita menjalani masa pandemi yang berat, karena hikmat kepandaian dan pengalaman manusia tidak akan mampu mengerti tentang mengapa Allah mengizinkan Covid-19 melanda dunia, termasuk kita sebagai orang-orang pilihan-Nya. Penghayatan Masa Raya Paskah juga merupakan kekuatan bagi kita dalam melanjutkan karya dan karsa kita dalam melaksanakan keputusan-keputusan Rapat Kerja Sinode GKP tahun 2021 dan dalam mempersiapkan diri menyongsong Sidang Sinode XXIX GKP tahun 2022, di mana kita akan menetapkan Tema 5 tahunan GKP dan Keputusan-Keputusan Sidang Sinode serta memilih dan menetapkan pemimpin sinodal yang akan melanjutkan kepemimpinan GKP dalam melaksanakan karya dan pelayanan GKP pada periode 2022-2027 mendatang.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Menurut Saudara hikmat dan pengalaman apa yang sering kita andalkan dan yang menyebabkan kita menjadi tidak dapat mengerti tentang pemberitaan Injil yang berpusat pada pengorbanan Yesus Kristus di salib?
- Bagaimana caranya agar dalam masa pandemi Covid-19, yang sangat membatasi kita dalam bersekutu, melayani dan melakukan perjalanan untuk memberitakan kabar baik, kita tetap memiliki semangat dan tetap setia memberitakan Injil Yesus Kristus? Berikan contoh-contoh kreatif dengan memanfaatkan berbagai media yang ada.
- Program-program Jemaat seperti apa yang menurut Saudara perlu dikembangkan oleh Pimpinan Sinode, Klasis dan Jemaat untuk memperlengkapi warga GKP dalam melaksanakan keputusan-keputusan Rakersin beserta Tema tahun 2021 : “Allah adalah Sumber Pengharapan dan Kekuatan Kita (Yer 14:22 dan Kel 15:2); dan subtemanya : “Bersama Seluruh Bagian Bangsa Dalam Perjuangan Mengatasi Dampak Pandemi”; dan Tema Sidang Sinode XXVIII GKP : “Dengan Karsa dan Pembaruan Allah : GKP mengukir Karya Dalam Pelayanan”. (EGK)