Tidak Instan!

PangeranMenulis: Tidak ada yang INSTAN untuk menuju Kesuksesan

Yohanes 1:1-14

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. (Yohanes 1 : 12)

Klaus Schwab dalam buku “Revolusi Industri Keempat” mengingatkan pembaca, bahwa teknologi informasi yang kita gunakan bukan hanya alat untuk mempermudah kita berkomunikasi. Lebih dari itu, teknologi informasi turut menentukan keberadaan kita. Salah satu pengaruh dari kecanggihan teknologi informasi terhadap manusia adalah membentuk “mental instan.”

                Manusia ingin cepat mendapatkan hasil besar, tetapi tidak mau menempuh proses. Inilah mental instan. Padahal, hidup ini penuh dengan kejutan. Tidak semua hal yang diinginkan akan didapatkan, kendati seseorang mungkin sudah menempuh proses panjang. Bahkan, tidak jarang manusia sering mendapati situasi kekacaubalauan/disrupsi, padahal perencanaan yang matang sudah dibuat. Karena itulah, dalam bacaan ini Yohanes mencatat satu kabar gembira: “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah”. Kuasa ini bukan untuk membuat sulap, sim-salabim, lalu apa yang diinginkan segera didapatkan. Namun, supaya bisa hidup sebagai anak-anak Allah.                 Sahabat, hidup sebagai anak Allah berarti tetap bersabar kendati harapan belum atau tidak menjadi kenyataan. Hidup sebagai anak Allah berarti terus berjuang walaupun berhadapan dengan kegagalan. Hidup sebagai anak Allah berarti tidak takut mengubah haluan apabila hal itulah yang diinginkan Tuhan. Hidup sebagai anak Allah berarti  mau  melakukan  apa  yang  Allah kehendaki, bukan apa kita maui. Hal ini tidak mudah. Hasilnya pun tidak instan! Tidak seperti kita mencari informasi di google, yang tinggal klik langsung dapat. Mengapa? Allah mau kita belajar menjadi anak-anak-Nya. (Renungan Harian Sahabat)