Belajar dari Ketaatan dan Cinta Bunda Kristus

Saudara-saudara kita umat Katolik, memiliki doktrin Mariologi yang sekilas nampak asing bagi kaum Protestan. Padahal sejatinya, doktrin ini bukannya me-nuhankan Maria melainkan memberi tempat yang layak bagi Maria yang menjadi wadah datangnya Juruselamat ke dalam dunia. Maria dianggap sebagai pribadi yang bersedia turut serta memikul risiko dari penyelamatan Allah bagi seisi ciptaan meski dia sendiri bisa kehilangan segala sesuatunya. Karenanya, kita bisa belajar banyak dari Maria ibu Yesus yang bukan sekadar perempuan yang taat melainkan juga berani menjadi bagian dari karya Tuhan yang besar dan agung ini.

Tentu, kita rindu memiliki motivasi hidup dan melayani seperti Maria. Ketaatan total seperti ini adalah sebuah pencapaian iman yang luar biasa. Yang, biasanya tak siap kita pikul adalah cara mencapainya. Menjadi seseorang yang bersedia memikul risiko dan mengorbankan diri bagi orang lain adalah sulit bagi hati yang tak mencintai dan memahami. Karena itu, bisa kita perkirakan, bahwa Maria taat dan berani karena dia adalah pribadi yang sungguh mencintai dan mengasihi Allah lebih dari dirinya sendiri

Menjalani panggilan hidup seperti Maria juga tak mudah, sebab bersama dengan Roh Allah dalam rahimnya, dia menahan diri dan bergumul selama berbulan-bulan. Tentu menjadi hal yang tak lazim, ketika dia bahkan belum pernah bersetubuh dan tiba-tiba harus mengandung dan melahirkan. Berbagai risiko secara fisik dan mental dia tanggung, tapi apa yang membuat Maria bersukacita

dalam melakukan ini semua?

Jawabannya lagi-lagi karena cinta. Maria merasakan betul cinta Allah yang tercurah kepada isi bumi. Alkitab selalu menggambarkan kedatangan Allah yang mewujud dalam peristiwa turun, tercurah, dalam ruang dan waktu. Maria menghayati kedatangan Mesias melalui kejadian-demi kejadian yang dia alami.  Hidupnya,  melalui badannya, hatinya, jiwanya semuanya dipakai

Allah untuk mewujudkan keselamatan. Kegirangan yang besar seperti ini melampaui rasa takutnya akan berbagai risiko yang mungkin ditimbulkan dari kehamilan ini.

Karenanya saudaraku, menghayati pergumulan berbulan-bulan kandungan Perawan Suci Maria, ketaatan dan keberaniannya, penghayatannya bahwa rahimnya dipakai sebagai alat keselamatan Allah, marilah kita juga merenungkan makna hidup, tubuh, jiwa dan pelayanan kita. Apakah kita sungguh bersukacita karena kehidupan kita dilawat dan dipakai Allah untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang? Jika kita tidak menyadarinya, maka kita akan larut terus menerus dalam kesedihan dan kemalasan. Kita akan terus bersungut-sungut dalam pelayanan, dan bahkan pelayanan kita akan menjadi pekerjaan tanpa pengabdian dan cinta sehingga tidak melahirkan sukacita dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, jika kita sungguh menapaki jalan yang Maria ibu Kristus jalani, maka kita akan memahami betapa Allah sungguh bersedia dengan sukacita hadir dan berproses selama berbulan-bulan dalam rahim seorang perempuan untuk kemudian menyatakan penyelamatan bagi umatNya. Dan, karenanya, kita juga akan bersedia bergumul dan bersabar dengan seluruh kehidupan kita. Bersama-sama dengan bundaNya, Kristus menanti dengan sabar saat di mana saat penyelamatan itu tiba, meski Dia bisa memaksakan semua berjalan cepat. Dia tidak melakukannya, karena Dia tahu, ada banyak bagian dalam hidup ini yang harus kita lewati dalam sabar dan tabah supaya kita bisa bersukacita dalam menuai semua yang baik. Jadi, apa pun pergumulan yang saudara sedang hadapi dalam hidup hari ini, bersabarlah dan jadilah tabah. Tetaplah taat dan mengabdi, karena suatu saat kita akan menuai semua yang baik itu! Tuhan memberkati! . (DE)