PENGEMBANGAN KARUNIA UNTUK PERTUMBUHAN BERSAMA

1 Korintus 1 : 3-9

9 Karunia Roh Kudus Dalam 1 Korintus 12 - RUBRIK KRISTEN

Surat yang kita baca pada hari ini adalah surat dari Rasul Paulus kepada Jemaat di kota Korintus. Frances Blankkenbaker mencatat bahwa kota ini merupakan kota yang penting di Yunani. Letaknya strategis di persimpangan jalan perdagangan. Penduduknya mendirikan banyak kuil berhala tempat beribadat. Mereka sangat menyukai kemewahan dan kenikmatan duniawi dan mereka banyak berbuat dosa. Orang Kristen di Korintus mengalami banyak persoalan dan Paulus menasehati mereka tentang berbagai masalah seperti perpecahan antar anggota jemaat, masalah antar pasangan suami isteri, makanan yang halal dan haram serta kebangkitan Yesus Kristus. 

Pada suratnya tersebut, sebagaimana lazimnya surat pada masa itu, kita dapat menemukan bagian salam. Salam merupakan bagian awal dari kerangka surat. Pada kebiasan kuno, ucapan syukur lazim ditemukan pada salam pembuka sebuah surat. Biasanya ucapan syukur itu terkait dengan keadaan pengirim surat. Penulis surat biasanya mulai dengan mengungkapkan syukur atas kesehatan atau kesejahteraan mereka, dengan menggunakan kesempatan untuk memberikan informasi kepada pembaca mereka tentang keadaan mereka sekarang. Namun, tidak demikian dengan Paulus. Ia tidak mengucap syukur atas keadaan dirinya melainkan atas keadaan Jemaat di Korintus. Ia mengucap syukur atas rahmat yang telah diterima Jemaat di Korintus.

Paulus mengucap syukur kepada Allah atas Jemaat di Korintus. Ia  mengakui bahwa Jemaat di Korintus telah “menjadi kaya dalam segala hal”. Jemaat itu tidak kekurangan suatu karunia pun. Dengan mengatakan demikian sebenarnya Paulus sedang mengingatkan Jemaat Korintus bahwa karunia yang ada pada mereka adalah cukup (Ing: suficient) atau memadai. Hal ini diingatkan oleh Paulus sebab ada kecenderungan Jemaat di Korintus untuk menyombongkan karunia-karunia rohani dan pengetahuan (Yunani: gnosis) yang mereka miliki. Penting bagi Paulus untuk menekankan bahwa semua karunia dan pengetahuan itu berasal dari Allah (1 Kor.12:5). Hal ini disebabkan segala macam karunia dan pengetahuan tersebut menjadi alasan terjadinya perpecahan.

Paulus mengingatkan bahwa yang penting bukanlah karunia siapa yang hebat atau kurang hebat, tetapi sejauh mana karunia dapat digunakan untuk mengembangkan kasih persaudaran diantara mereka. Semuanya akan mereka pertanggungjawabkan ketika Tuhan Yesus menyatakan dirinya kembali. Paulus juga menghibur Jemaat Korintus dengan mengatakan bahwa Allah sendiri lah yang akan meneguhkan jemaat itu sehingga dapat terus berjuang untuk hidup benar sesuai dengan yang Allah kehendaki sampai pada hari Tuhan sehingga jemaat itu kedapatan tidak bercacat dan bercela. 

W.R.F Browning dalam Kamus Alkitab  mencatat bahwa dalam Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan karunia adalah pengasihan Allah kepada umat Israel (Za.12:10) yang terwujud dalam pengampunan dosa. Dalam Perjanjian Baru, karunia seringkali disebut sebagai karya Roh Kudus. Karunia-karunia tersebut mewujud dalam berbagai hal seperti karunia berbicara (khotbah dan mengajar), karunia bernubuat, karunia bahasa roh, karunia melayani, serta karunia penyembuhan. Pada saat ini kita diingatkan bahwa karunia-karunia yang kita miliki juga berasal dari Allah. Karunia bukan untuk disombongkan melainkan untuk dikembangkan demi kemajuan persekutuan. 

Untuk didiskusikan:

  1. Karunia-karunia apa saja yang ada di jemaat saudara? 
  2. Bagaimana karunia-karunia itu telah dikembangkan?  (OMJ)