Hidup Kaya Raya

Lukas 12:17-18

Suatu hari Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang yang sangat kaya. Lumbung-lumbung yang dimilikinya tidak lagi dapat menampung kekayaannya. Lalu katanya “Aku akan merombak lumbung- lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangku”. Dalam konsep hidup duniawi, cara pikir dan ide orang kaya ini nampaknya normal dan inovatif karena demikianlah orang-orang dunia menambah nilai materi yang mereka miliki dengan menumpukkan sebanyak-banyaknya harta yang mereka raih.

Dan kisah selanjutnya, Yesus memperhadapkan situasi orang kaya ini dengan sebuah pertanyaan, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu diambil… Untuk siapakah itu nanti”? Yesus menghentikan kesibukan orang kaya ini yang sedang membangun lumbung-lumbung besar untuk menyimpan harta yang lama dan baru serta mengajukan pertanyaan yang kritis untuk mengubah konsep kehidupannya agar lebih fokus pada konsep mengosongkan lumbung dan berbagi dengan sesama.

Acap kali kita pun terlena dengan model kehidupan orang kaya ini. Kita sibuk memperbesar lumbung dan menghitung harta yang semakin bertambah sehingga kita lupa untuk mengosongkannya dan berbuat baik dengan berbagi kepada sesama yang berkekurangan. Orang kaya ini mati dan menghadap ke hadirat Tuhan dengan hati yang miskin di hadapan Tuhan. Dengan kata lain kuantitas kekayaannya tidak menambah kualitas nilai rohaninya di hadapan Tuhan. Betapa sia-sianya kehidupan yang seperti ini dimata Tuhan kita mendapatkan predikat “Orang kaya yang Bodoh” karena kitu lupa bahwa kita diberkati untuk memberkati. Seharusnya kita hidup dengan kesadaran rohani yang tinggi bahwa ketika Tuhan melimpahkan kita dengan berkat-berkat yang baru, itu berarti saatnya kita mengeluarkan berkat-berkat yang lama.  Hidup yang  menjadi

                      corong saluran berkat Tuhan.

Banyak orang berpikir bahwa jauh lebih mudah menyalurkan berkat ketika kita kelimpahan berkat. Namun, Alkitab membantahnya dengan kisah orang kaya yang bodoh ini, dan kisah orang kaya dan Lazarus. Sebagian lagi terkonsep bahwa kemiskinan akan membuat kita sulit untuk memberi. Namun, kisah janda miskin dalam Lukas 16 akan membuka mata rohani kita bahwa kemampuan kita untuk memberi lahir dari kemurahan hati, bukan dari nilai harta yang kita miliki. Dengan kata lain, jangan tunggu sampai lumbung terisi penuh tetapi mulailah dengan apa yang kita miliki, karena apa yang mendorong kita untuk memberi jauh lebih berharga dimata Tuhan dari pada nilai pemberian itu sendiri. Demikianlah kita belajar untuk memiliki hidup yang kaya di hadapan Tuhan daripada mati dalam keadaan kaya. (TIA)