Bersama Hadirkan Masa Depan yang Lebih Baik

Kata Kata Masa Depan - Penuh Harapan dan Motivasi

1 Tesalonika 5:1-11

Penjelasan Bahan

Bahan KRT hari ini memiliki  kesamaan dengan bacaan Alkitab dan tema  pada kebaktian akhir minggu II tanggal 15 November 2020, dengan pokok utama renungan menyikapi masa depan sebagai umat Tuhan. Pada umumnya, kita ingin agar masa depan kita lebih baik dari saat yang lalu dan masa kini. Selanjutnya, kita akan mencari tahu bagaimana cara untuk mencapainya. Salah satu faktor yang akan dipertimbangkan adalah apa yang menjadi gambaran masa depan itu sendiri dan apa yang kita miliki sekarang. Misalnya karena mendung, maka ada kemungkinan akan hujan dan karena itu, kita akan membawa payung atau mantel. Contoh lainnya, di bidang ekonomi misalnya, untuk mengantisipasi biaya pendidikan anak dan kesehatan tinggi, maka kita ikut asuransi kesehatan dan pendidikan.

Sebagai orang percaya, masa depan yang antisipatif terkait dengan apa yang kita imani tentang akhir zaman (lihat Matius pasal 24-25) dan tentang kedatangan Yesus yang kedua kali (bandingkan: Alkitab TB memberi judul “Berjaga-jaga” sementara itu, Alkitab BIMK memberi judul “Bersedialah untuk kedatangan Tuhan”). Hal ini hendak mengatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua yang dikatakan sebagai akhir zaman dengan hadirnya langit baru dan bumi baru, adalah suasana yang lebih baik, indah, dan membahagiakan bila dibandingkan dengan kehidupan dunia saat ini. Hal yang dijanjikan oleh Tuhan ini juga diungkapkan juga dalam Pengakuan Iman Rasuli kita.

Dari dua pemberian judul yang berbeda dalam Alkitab versi TB dan BIMK tadi, membantu kita dua hal, yaitu:

Pertama, Rasul Paulus mengingatkan bahwa masa depan dengan kedatangan Yesus yang dijanjikan membawa kebahagiaan, karena itu patut dinantikan oleh umat-Nya. Bahkan di Doa Bapa Kami, pengharapan dan permohonan itu terungkap dalam kata-kata, “datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu….” Lalu bagaimana menanti sesuatu yang diharapkan ini? Bersedialah dan berjaga-jagalah. Mengapa? Surat Rasul Paulus kepada Jemaat Tesalonika ini menjelaskannya. Jemaat mula-mula umumnya terdiri dari orang-orang sederhana, bukan dari kalangan masyarakat atas atau berkuasa. Jadi hidup mereka tidak mudah. Mereka kadang mengalami kesulitan atau hambatan, bahkan juga aniaya dari berbagai kalangan. Karena itu tidak heran mereka ingin dan mengira Yesus akan segera datang membawa perubahan. Sementara itu sudah ada yang mulai menghitung-hitung atau meramal kapan Tuhan datang. Akibatnya, terbengkalailah tugas dan perhatian hidup mereka. Bukankah pada umumnya, di setiap zaman dan waktu bila ada bencana, kesulitan, dan penderitaan maka orang pun mulai menduga-duga serta menghitung-hitung lalu meramal? Itulah yang Rasul Paulus ingatkan di ayat 1 yaitu tentang tidak perlunya Jemaat tahu kapan waktunya akan terjadi. Ilustrasinya adalah seperti datangnya pencuri, yang datang secara tidak terduga dan seperti sakitnya rasa saat seorang ibu bersalin (ayat 2-3). Dari ilustrasi tadi, maka satu hal yang pasti yaitu peristiwa itu pasti akan datang. Jadi, tugas kita adalah untuk selalu bersedia atau bersiap-siap dan berjaga jaga.  

Kedua, karena menanti terlalu lama, Jemaat bisa lalu terlena atau lupa. Diilustrasikan seperti bedanya yang di dalam terang dan gelap. Ketidaksadaran sebagai yang tidur dengan yang mabuk (ayat 4-7). Maka, untuk tetap sadar dan bersedia atau berjaga jaga sebagai anak terang, orang percaya kepada Yesus harus berusaha hidup tetap dalam kesadaran atau menghayati iman, kasih dan pengharapannya (ayat 8, bedakan 1 Kor 13:13). Dalam hidup sehari-hari, setiap orang percaya terus berusaha menjadi anak terang, semata-mata karena sadar akan tindakan Allah yang mengasihi, memilih dan menyelamatkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus (ayat 9-10). Setiap orang percaya di dalam masa penantian ini, haruslah ada dalam kondisi siap, entah saat berjaga-jaga, entah saat tidur (BIMK: entah kita masih hidup, entah kita sudah mati). Berjaga-jaga dengan cara kita hidup bersama Dia (ayat 10b).  

Akhirnya, bagaimana sikap orang percaya dalam penantian menyongsong masa depan? Nasihat Rasul Paulus diakhiri dengan kata-kata, “Karena atau sebab itu, nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan”. Sesuatu yang tidak asing, yakni dengan melakukan salah satu perwujudan panggilan persekutuan (Koinonia) sebagai umat Tuhan. Hal ini berarti dalam masa penantian kedatangan Yesus yang kedua kali, cita-cita manusia membangun dan mengusahakan masa depannya dengan lebih baik adalah dengan memberitakan dan mewujudkan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah yakni damai sejahtera-Nya. Umat Tuhan terpanggil untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dengan iman, harap dan kasih dalam doa, upaya dan kerja nyata bersama.  

Ada ungkapan: Tidak ada yang abadi, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Maka, masa depan itu juga berarti adanya antisipasi, adaptasi, dan partisipasi untuk perubahan. Ada yang mengatakan bahwa hal yang penting dalam memasuki era revolusi 4.0 adalah kolaborasi, artinya upaya komunikasi. Harus selalu ada upaya mendengar dan melakukan apa yang didengar. Mendengar Tuhan dan sesama, agar berguna dalam panggilan untuk berbagi dan membangun masa depan bersama.  

Untuk didiskusikan:

  1. Sebagai bentuk ungkapan syukur atas anugerah Allah, GKP ikut serta dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik antara lain melalui pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan. Apakah yang menjadi ciri khas pelayanan tersebut bila dikaitkan dengan bacaan hari ini dan bagaimana meningkatkan kualitasnya?
  2. Bagaimana upaya membangun kerja sama untuk menghadirkan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih toleran, adil dan sejahtera?

“Yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-samakan”.

Bagaimanakah kita mempraktikan ungkapan tersebut di dalam kehidupan

keseharian kita di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia? (DJA)