Menghargai Kehidupan dengan Saling Menghargai

Roma 14:1-12

Seorang motivator, Mike George mengatakan, “Ketika menghakimi dan menghina, kita berhenti untuk mencoba memahami orang lain, dan hubungan pun secara efektif terlumpuhkan”. Pernyataan ini benar, karena kita “melihat” orang lain dari kacamata negatif dan melekatkan label negatif pada diri orang lain, sesungguhnya kita sedang menciptakan penghalang dalam hubungan kita. Hal ini bisa dikarenakan oleh perbedaan-perbedaan yang ada, tidak dapat menerima perbedaan, bahkan membawa pada sifat menghakimi (dia/mereka tidak beriman, tapi saya beriman). Ini menjadi awal rusaknya hubungan kita dengan orang lain. Peristiwa seperti ini terjadi di berbagai “wilayah”: di tempat pekerjaan, kehidupan bertetangga, keluarga tanpa terkecuali dalam kehidupan persekutuan. 

Orang-orang Kristen di Roma, berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada orang Yahudi dan non Yahudi, ada orang Yahudi  yang  percaya kepada Yesus namun masih melekat pada Hukum Taurat. Pemahaman dan kebiasaan mereka pun berbeda-beda, ada yang hanya makan sayur-sayuran (vegetarian), sedangkan yang lain makan segala jenis makanan termasuk daging dan ada yang menganggap hari-hari tertentu adalah hari baik, sedangkan yang lain menganggap semua hari sama saja (ayat 2 dan 6). Mereka memperdebatkan masalah-masalah praktis, bukan mengenai prinsip iman yang benar bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Hal-hal praktis yang tidak bisa disikapi dengan bijak, ternyata memunculkan perselisihan di antara orang Kristen di Roma. Mereka menghakimi saudara-saudara yang lain dan menganggap iman orang lain lemah imannya, karena tidak menerapkan aturan hidup yang mengacu pada berbagai aturan Taurat. Rasul Paulus, yang mendengarkan hal itu, memberikan nasehat kepada mereka karena mulai sibuk dengan urusan menyalahkan orang lain dan membenarkan diri  sendiri. Hidup orang Kristen haruslah berfokus pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Rasul Paulus mengingatkan bahwa:

  • Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. 
  • Siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah
  • Siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah
  • Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan
  • Jika kita mati, kita mati untuk Tuhan

 Apa pun yang dilakukan semua untuk Tuhan, yang adalah Pemilik hidup dan mati kita, yaitu untuk Tuhan yang harus kita muliakan. Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan atas siapa pun. Tuhan menerima manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda itu. 

Manusia belajar menghargai sesama kita, sekalipun begitu banyak perbedaan yang kita temui. Belajar membuka diri dan mengasihi orang lain seperti Tuhan telah membuka hati-Nya untuk menerima manusia yang berdosa. Belajarlah untuk tidak “menempelkan” label negatif pada orang lain dan belajarlah untuk tidak menghakimi / menghina orang lain. Di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang beragam ini, belajar untuk terbuka menerima kehadiran orang lain menjadi  sangat penting untuk kita lakukan. Menerima perbedaan yang ada menjadi “pintu masuk” untuk dapat saling bekerja sama, peduli, mengasihi. Ingatlah bahwa adapun yang kita lakukan pada sesama, akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah (ayat 12).

Untuk didiskusikan:

  1. Bahaya apakah yang saudara “lihat” dari sikap menghakimi orang lain?
  2. Hal-hal apa saja yang harus kita lakukan supaya tidak melakukan sikap menghakimi orang lain?  (RTM)