ROMA 13:8-14
Bolehlah kita katakan bahwa kasih Tuhan yang sudah kita terima dan rasakan, membuat kita seolah-olah “berutang” untuk berusaha mengasihi sesama. Oleh karena itu, adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang percaya untuk berusaha mengasihi sesamanya manusia. Dalam perikop ini, Paulus mengutip Imamat 18;19 untuk menegaskan konsep kasih kepada Jemaat di Roma yang terdiri dari orang-orang Yahudi yang menjadi percaya dan juga orang-orang bukan Yahudi. Dengan mengutip Imamat 18:19 ini, Paulus hendak menyampaikan bahwa Jemaat di Roma harus berusaha saling mengasihi di antara anggota jemaat dan juga kepada sesama manusia. Hal ini justru harus mereka lakukan di tengah keadaan mendapatkan tekanan, baik dari masyarakat pada umumnya di Kota Roma maupun komunitas Yahudi sendiri yang belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Kepada Jemaat di Roma, secara eksplisit, Paulus menyatakan bahwa mereka tidak perlu terikat kepada Hukum Taurat, karena sebenarnya ada hukum lain, yaitu Hukum Kasih yang menyimpulkan 613 peraturan yang ada dalam Taurat. Hanya saja, konsep kasih yang Paulus beritakan tentu berbeda dengan konsep kasih yang berlaku dalam tradisi Yahudi. Dalam tradisi tersebut kasih kepada sesama adalah kasih yang dinyatakan kepada saudara sedarah atau sebangsa. Namun, Paulus memberitakan sikap kasih yang jauh lebih luas dan universal, yaitu kasih dalam tradisi Yesus. Kasih yang dinyatakan kepada sesama manusia tanpa membedakan latar belakang adapun. Artinya, selama seseorang bernafas, maka ia wajib mengasihi sesamanya.
Tentu ini menjadi tantangan bagi Jemaat Roma pada saat itu. Di tengah kebencian yang dialami dan dirasakan, justru mereka ditantang untuk mengasihi sesama tanpa terkecuali, termasuk orang-orang yang memusuhi mereka. Salah satu yang memungkinkan Jemaat Roma mengasihi lebih jauh dan lebih dalam musuh-musuh mereka adalah pengampunan. Mereka harus memulai dan belajar mengampuni kendati sesama mereka menebarkan kebencian tanpa ampun. Kondisi sama tentu dapat terjadi pada diri dan kehidupan kita. Kita seperti Jemaat Roma yang mungkin tidak mudah untuk mengasihi dan mengampuni sesama. Namun bukan berarti tidak mungkin, toh sesuatu yang sulit dapat kita pelajari.
Seorang teolog Amerika, Reinhold Niebuhr, pernah mengatakan bahwa, “pengampunan adalah bentuk akhir dari kasih”. Ungkapan ini seolah hendak menegaskan bahwa dari berbagai bentuk kasih, pengampunan menjadi bentuk kasih yang tidak dapat dilampaui oleh bentuk kasih apa pun. Seolah pengampunan menjadi penentu apakah seseorang dapat mengasihi sesamanya dengan penuh dan utuh atau tidak. Ungkapan tersebut mungkin terdengar “lebay” dan subjektif, toh bentuk kasih tidak dapat diperbandingkan karena masing-masing memiliki kekuatannya sendiri dan dimensinya juga berbeda-beda. Namun demikian, mari kita refleksikan mungkinkah kita dapat mencintai, memberi, dan menolong sesama yang mungkin telah melakukan yang jahat terhadap diri kita, tanpa lebih dulu mengampuninya?
Pengampunan terhadap sesama menjadi kunci bagi kita untuk melakukan tindakan kasih lainnya. Mari kita belajar mengampuni sesama kita, sekalipun mereka tidak memohon pengampunan kepada kita. Sambil mengingat bahwa pada hakikatnya kita adalah manusia yang diampuni Allah dan senantiasa membutuhkan pengampunan.
Untuk didiskusikan:
- Jika mengampuni adalah tantangan yang sulit, dimanakah letak kesulitannya atau apa bentuk kesulitannya?
- Hal apa yang memotivasi saudara untuk mengampuni, minimal belajar mengampuni? (HSV)