Roma 12:-1-8
Rasul Paulus membuka suratnya kepada Jemaat di kota Roma dengan menginformasikan bahwa isi suratnya adalah dalam rangka memberikan nasihat kepada Jemaat. Nasihat yang pertama adalah agar seluruh orang percaya mempersembahkan tubuhnya (baca: hidupnya) sebagai persembahan terbaik kepada Allah. Paulus menekankan persembahan semacam ini adalah ibadah yang sejati kepada Allah (Yunani: λογικην λατρειαν baca: logiken latreian; atau dengan kata lain “bentuk ibadah yang paling logis / masuk akal” kepada Allah).
Bentuk paling logis dari ibadah kepada Allah itu rupanya tidak berhenti pada ritus keagamaan saja. Bagi Paulus ibadah paling logis itu adalah:
Ayat 2. Adanya pembaharuan budi (buat penulis kata yang penting di ayat 2 ini bukan saja “berubahlah”–Yunani: μεταμορφουσθε metamorphooste yang berasal dari kata metamorphoo, tetapi juga “pembaharuan” – Yunani: ανακαινωσει anakainosei yang berasal dari kata anakainosis, yang berarti “complete change for the better” – perubahan yang paripurna menjadi lebih baik) sehingga mampu mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah;
- Ayat 3. Kemampuan untuk menguasai diri menurut ukuran iman (Yunani: σωφρονειν sophoronein yang berasal dari kata dasar sophroneo – “to exercise self control, be in right mind” atau dengan kata lain “melatih diri untuk dapat mengontrol diri, selalu berada di pikiran yang benar”);
- Ayat 4-8. Masing-masing orang memiliki “tugas” berdasarkan kasih karunia yang diberikan oleh Allah. Kata “tugas” dalam bahasa Yunani: πρᾶξις / praxis, dan karena itu dalam kesatuan sebagai satu tubuh di dalam Kristus, setiap orang bekerja dengan rajin (tepatnya ketekunan dan kesungguhan; Yunani: σπουδη spoude – diligence, earnestness) dan penuh sukacita (Yunani: ̔λαρότης – hilarotes).
Berangkat dari catatan di atas, maka “ibadah yang logis kepada Allah” (logiken latreian) adalah juga kesediaan untuk melakukan “tugas” (praxis, Indonesia: praksis) dengan penuh ketekunan, kesungguhan dan sukacita sebagai bagian dari tubuh Kristus. “Tugas” yang dimaksud tidak lain adalah upaya setiap orang percaya menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu: kasih, kebenaran, keadilan dan damai sejahtera di segala bidang kehidupan. Usaha yang tekun, sungguh-sungguh dan penuh sukacita dalam melaksanakan tugas adalah bentuk dan wujud nyata dari ungkapan syukur kepada Allah atas segala karunia yang telah diberikan-Nya.
UNTUK DIDISKUSIKAN
- Apakah yang dipahami dari “pembaharuan budimu” (ayat 2) dan “menguasasi diri” (ayat 3) dalam konteks isu lingkungan hidup? (kembangkan diskusi sehingga tidak berhenti hanya pada percakapan biasa tentang pembaharuan budi dan menguasai diri yang biasanya tentang, misalnya dulu hidup dalam dosa, lalu sekarang tidak lagi, tetapi pada isu lingkungan hidup dan tentang “karya Gereja” di tengah masyarakat, yaitu tentang apa yang belum dilakukan jemaat secara pribadi maupun dalam konteks persekutuan jemaat)
- Dalam konteks kehidupan Jemaat masing-masing, “tugas” (praksis) apa saja yang dapat dilakukan dalam waktu dekat ini dalam upaya menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu di tengah kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam isu lingkungan hidup? (catatan: hasil diskusi dapat diimplementasikan langsung ke dalam program kerja jemaat)
- Langkah apa saja yang harus dilakukan untuk dapat menggerakkan anggota jemaat mengetahui apa yang menjadi “tugas”-nya dan melaksanakannya dengan penuh ketekunan, kesungguhan dan sukacita? (AAS)