Habakuk 3 : 2-19
Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3 : 18)
Bagaimana sikap kita pada waktu mengalami krisis? Bingung, takut, frustasi, putus asa? Kita bisa belajar dari sikap Habakuk, yang tercermin dalam kalimat-kalimat doanya.
Pertama , ia bersikap rendah hati, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. Kedua. Ia menyatakan rasa hormat terhadap Allah. Dalam surat Ibrani kita membaca bahwa kita dapat menghadapi hadirat Allah dengan penuh keberanian melalui darah Kristus. Tetapi, hal itu bukan berarti mengurangi sikap hormat dan takut kita kepada Allah. Ketiga, ia memohon agar Allah menghidupkan dan menyatakan pekerjaan-Nya “dalam lintasan tahun”(ayat 2). Artinya, ditengah hal-hal mengerikan yang terjadi atau dalam tahun-tahun sengsara dan malapetaka yang dinubuatkan. Menghidupkan berarti memelihara, tetapi juga mengoreksi. Itulah yang seharusnya menjadi permohonan kita pada masa kini, yaitu agar Tuhan memelihara dan mengoreksi umat-Nya. Keempat, ia memohon agar Allah mengingat akan kasih sayang-Nya. Dengan kata lain Habakuk berkata, Bertindaklah sesuai dengan sifat-Mu. Dalam murka-Mu, tunjukanlah belas kasih-Mu kepada kami.”
Memang tidak mudah bersikap benar dalam menghadapi krisis. Tuhan Yesus saja perlu beberapa kali mempersiapkan murid-murid-Nya dalam menghadapi penyaliban-Nya. Walaupun demikian, para murid tetap tidak mengerti. Bahkan sampai Yesus bangkit kembali. Semoga kita tidak demikian. Semoga kita mengerti. Sungguh-sungguh mengerti. Sehingga kita dapat bersikap benar, di tengah krisis apapun. -HPG
KRISIS DATANG DAN BERLALU, PEMELIHARAAN TUHAN MENYERTAI SELALU