Roma 8:1-11
Kerap kita mengartikan kemerdekaan sebagai sebuah kondisi di mana tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat dan bergantung kepada pihak tertentu, dan leluasa. Kondisi yang diidam-idamkan oleh sebagian besar orang yang hidup di jaman sekarang ini. Terbebas dari penderitaaan; sakit penyakit, masalah keuangan, dari kemacetan dan kepadatan lalu lintas, lepas dari tuntutan pekerjaan yang membuat kita jengah, tidak terikat kewajiban dan hutang. Jika mampu memang sebisa mungkin kita dapat berdiri sendiri dan berkreasi sesuai kapasitas yang kita miliki. Nah, seiring dengan perkembangan jaman, kondisi tersebut bukan tidak mungkin dapat terwujud. Tengok saja beragam bentuk usaha kecil menengah muncul di mana-mana bagai jamur yang tumbuh di musim penghujan, yang memberi ruang bagi pelakunya untuk mengembangkan kreatifitas sesuai dengan keahliannya. Kemudahan proses pengurusan didukung oleh kecanggihan teknologi masa kini membuatnya menarik perhatian banyak orang untuk turut serta dalam arak-arakan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat saat ini.
Di tengah arus perubahan jaman, setiap orang yang percaya Kristus sepantasnya menghidupi perubahan itu dengan penghayatan iman kepada Kristus. Allah di dalam Kristus telah membuat sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia berdosa yaitu menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat. Dengan demikian kita yang percaya kepada-Nya tidak lagi hidup menurut daging melainkan menurut Roh (ayat 4). Lebih lanjut Rasul Paulus menandaskan bahwa buah yang dihasilkan dari hidup menurut Roh ialah hidup oleh karena kebenaran dan damai sejahtera, sementara hidup menurut daging ialah maut. Ungkapan damai sejatera (Ibrani: Shalom, Yunani: eirene) sudah sering kita dengar bahkan kita nyatakan sebagai salam pembuka. Namun persoalannya ialah apakah damai sejahtera itu benar kita wujudnyatakan dalam perjumpaan dengan sesama atau hanya sebatas ungkapan artifisial? Rasul mengajak jemaat di Roma untuk hidup menurut Roh yakni memikirkan hal-hal yang dari Roh, karena sejatinya Roh yang ada di tubuh kita fana ini berasal dari Allah. Hidup menurut Roh berarti tampil laksana kencana dalam penghayatan iman kepada Kristus yang mengupayakan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan; memberi hidup untuk berbuah bagi sesama. Bukan perseteruan yang bersumber dari keinginan daging.
Lantas, di manakah letak kemerdekaan kita sebagai pengikut Kristus? Letak kemerdekaan kita terletak pada terbebasnya kita dari hukum dosa dan maut ketika kita berupaya secara konsisten dan kreatif, sesuai kemampuan dan kapasitas kita, memelihara kehidupan bersama yang di dalamnya tercipta damai sejahtera. Sifat dari Roh yang bebas, tak terikat dan berbatas, berbeda dengan daging yang fana dan terbatas, akan memampukan setiap orang yang membuka diri terhadap karya pertumbuhan-Nya. Keterbukaan dan kesediaan kita untuk mau dipimpin oleh Roh Allah menjadikan pertumbuhan iman kita mangkus (Kamus Besar Bahasa Indonesia: mustajab, mujarab, manjur, efektif, berhasil guna) dan menghasilkan buah-buah Roh yang diperlukan dalam menjalani hidup ini.
UNTUK DIDISKUSIKAN
- Apakah dengan hidup menurut Roh kita sama sekali tidak lagi hidup menurut daging? Jelaskan!
- Sebutkan buah-buah kehidupan menurut Roh yang sudah nyata dalam kehidupan persekutuan kita! Bagaimana caranya agar tetap dapat berbuah baik di tengah tantangan dan pergumulan yang ada? (GMK)
umat Kristen sudah memahami bahwa kehidupannya dijalani secara Roh dan kedagingan dalam hubungannya dengan Allah.Yang menjadi kesulitan atau bisa terjadi bahwa kehidupan Roh dan kedagingan itu lebih sangat bertentangan karena kedagingan itu lebih mendomininasi kemungkinan berbuat dosa malahan dosa kedagingan bisa dilihat orang lain sedangkan Roh yang menghubungkan manusia dengan Allah hanya dialami secara pribadi dalam kehidupan spiritual.
Menjadi masalah bagi manusia pada saat menjalani hidup kedagingan sangat terbuka untuk berdosa (baca Roma 3:23) kecuali kita 100 % hidup secara Roh.
Manusia dalam kehidupannya melakukan persekutuan Kristiani akan membentuk persekutuan menurut Roh dengan Allah,sedangkan persamaan pendapat Dan pemikiran hanya berupa kesepakatan yang sifatnya sementara.
Demikian hal ini untuk bisa dijelaskan lebih lanjut ,karena manusia walaupun ber Iman tetapi dalam menjalani kehidupan kedagingan masih dalam bentuk upaya untuk menyesuaikan hidup kedagingan dan kehidupan rohnya dengan Allah karena sudah menerima Kematian Dan kebangkitan Yesus Kristus.
Kehidupan yang baru adalah proses yang.masih dijalani oleh setiap orang yang percaya karena Allah memberikan karunia sejak Kita dalam kandungan dan setelah dilahirkan ,dan ini dilakukan sampai kelak saat penghakiman nanti.
umat Kristen sudah memahami bahwa kehidupannya dijalani secara Roh dan kedagingan dalam hubungannya dengan Allah.Yang menjadi kesulitan atau bisa terjadi bahwa kehidupan Roh dan kedagingan itu lebih sangat bertentangan karena kedagingan itu lebih mendomininasi kemungkinan berbuat dosa malahan dosa kedagingan bisa dilihat orang lain sedangkan Roh yang menghubungkan manusia dengan Allah hanya dialami secara pribadi dalam kehidupan spiritual.
Menjadi masalah bagi manusia pada saat menjalani hidup kedagingan sangat terbuka untuk berdosa (baca Roma 3:23) kecuali kita 100 % hidup secara Roh.
Manusia dalam kehidupannya melakukan persekutuan Kristiani akan membentuk persekutuan menurut Roh dengan Allah,sedangkan persamaan pendapat Dan pemikiran hanya berupa kesepakatan yang sifatnya sementara.
Demikian hal ini untuk bisa dijelaskan lebih lanjut ,karena manusia walaupun ber Iman tetapi dalam menjalani kehidupan kedagingan masih dalam bentuk upaya untuk menyesuaikan hidup kedagingan dan kehidupan rohnya dengan Allah karena sudah menerima Kematian Dan kebangkitan Yesus Kristus.
Kehidupan yang baru adalah proses yang.masih dijalani oleh setiap orang yang percaya karena Allah memberikan karunia sejak Kita dalam kandungan dan setelah dilahirkan ,dan ini dilakukan sampai kelak saat penghakiman nanti.
Pa Agus,
Terima kasih telah berbagi. Diantos sharing berikutnya.
Salam,
Admin