BERJUANG UNTUK TAAT

Roma 7:15-26

Ketaatan selalu didasari dengan kasih, contoh:  seseorang taat pada tuannya karena mencintai pekerjaan yang dilakukannya;  seorang isteri taat pada suaminya karena dasar kasih yang mengikat hatinya, begitu pula sebaliknya. Ketaatan tidak datang dengan sendirinya namun perlu dilatih setiap saat, karena ketaatan tidak dapat dibatasi oleh waktu maupun keadaan apa pun. Bagaimana dengan ketaatan kita pada Tuhan? Kita semua tentu sadar bahwa kita dipanggil untuk taat kepada Tuhan. Ketaatan bukan hanya pada saat segalanya berjalan baik, melainkan juga pada saat pencobaan datang. Banyak orang terjatuh pada ketidaksetiaan saat pencobaan datang. Untuk dapat tetap taat kepada Tuhan di dalam pencobaan, dibutuhkan proses pembentukan diri. Di kala hidup kita tidak ada masalah dan baik-baik saja kita bisa berkata, “Tuhan itu baik bagiku”, namun saat kita mengalami suatu proses yang mengharuskan kita untuk menderita bagi Tuhan, apakah kita tetap taat dan setia melayani-Nya? Oleh karena itu ketaatan adalah suatu perjuangan dan perjuangan itu sendiri membutuhkan pengorbanan.

Rasul Paulus bergumul dan berjuang untuk dapat menjalankan ketaatannya kepada Allah. Dalam perikop ini Paulus memperlihatkan adanya dua kepribadian dalam dirinya yang saling bertolak belakang (ayat 15-26). Ia melakukan apa yang dibencinya, bukan apa yang dikehendakinya (lht ayat 15-17). Ia memiliki kehendak, tetapi bukan apa yang baik meski ia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan (ayat 18-20). Ia mengalami pergumulan dan berjuang untuk melakukan apa yang baik, namun di sisi lain ia sadar bahwa dalam dirinya memikirkan apa yang jahat (ayat 21-23). Dengan kata lain, perikop ini mengupas pergumulan batin Paulus antara dosa dan hidup benar.

Paulus bergumul dengan dosa bukan karena ia orang berdosa, melainkan karena ia sudah dikuduskan Allah. Dosa membuatnya mati rasa. Orang yang berbuat dosa berulang kali lebih mudah terpengaruh melakukan perbuatan dosa. Alasan Paulus “bergumul dan berjuang” sedemikian berat karena ia tidak terperangkap  dalam  jaring dosa, bukan pula karena dirinya tidak berpengharapan sehingga ingin menyerah ke dalam pencobaan-pencobaan yang dihadapinya. Karena Paulus menjalani hidup yang kudus, kepekaan terhadap Roh Allah membuat dirinya bergairah memuliakan Allah. Itulah sebabnya mengapa ia begitu sensitif saat melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hati Allah. Bagaimana supaya kita bisa terlepas dari dosa yang membelenggu itu? Dengan kekuatan sendiri kita pasti tidak akan mampu.  Satu-satunya Pribadi yang dapat menolong dan melepaskan kita dari dosa adalah Tuhan Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah!  oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Roma 7:24-25). Melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib, kita telah dimerdekakan dari dosa; kita bukan lagi menjadi hamba dosa melainkan sebagai hamba kebenaran. Rasul Paulus menyadari dirinya bukan manusia sempurna dan masih dapat jatuh dalam perilaku keberdosaan. Dalam pergumulannya, Paulus tidak berakhir dalam keputusasaan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah menjadi milik Yesus Kristus.

Kasih kita kepada Allah akan membuat kita senantiasa berjuang untuk hidup kudus dan taat dihadapan-Nya. Yang perlu diingat adalah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita, maka hidup dalam ketaatan adalah sarana bagi kita untuk mengucap syukur atas kasih-Nya bagi kita. Kini tidak ada jalan lain selain kita harus terus melekat kepada Tuhan dalam ketaatan dan mensyukuri karya penebusan Kristus. Dan selanjutnya, milikilah komitmen untuk meninggalkan dosa dengan sepenuh hati. Menghargai pengorbanan Kristus harus dinyatakan dalam hidup sehari-hari dengan hidup penuh ketaatan seperti yang diinginkan-Nya. Melalui sikap hidup yang benar dan taat, orang percaya adalah saksi-saksi Kristus yang hidup.

UNTUK DIDISKUSIKAN

  1. Apa yang saudara lakukan ketika ada godaan untuk melakukan hal-hal kedagingan, sehingga membuat Saudara sulit taat kepada Tuhan?
  2. Mengapa kita tidak bisa hidup dalam kesucian dan ketaatan untuk terus berada di dalam kasih Allah? (DEW)