Penjelasan Bahan KRT: Rabu 10 Juni 2020 2 Korintus 13 : 11 – 13 “Tegak dalam Iman, Hidup dalam damai sejahtera, dan lakukan kebenaran”

Oleh Pdt. Fierdhaus Y. Nyman, M.Si.

Audio penjelasan KRT Pdt. Fierdhaus Y. Nyman, M.Si.

Jelegur belah kidul, jeleger belah kaler, beledag belah wetan, ting karoceak belah kulon. Gambaran Keadaan yang luar biasa penuh masalah, sehingga banyak korban berjatuhan. Hal seperti di atas, terjadi juga dalam pergumulan kita bersama pada situasi pandemi virus korona. Pandemi ini tidak pandang bulu, semua kita bisa kena, dan dilibas olehnya. Dalam situasi yang pelik ini, tentu tidak mudah untuk kita bisa tetap bertahan. Bahkan sukacita bisa hilang, damai sejatera makin sirna, kesatuan bisa luntur, dan iman pun terancam goyah. Jemaat Korintus sebagai salah satu jemaat yang multi talenta, sekaligus juga multi persoalan menghadapi pergumulan yang tidak mudah. Dua diantara masalah itu terkait pengajaran sesat dan masalah relasi. Persoalan itu, mengancam kesatuan di antara mereka yang terus bersaing dalam banyak hal. Situasi itu membuat Paulus memberi beberapa pesan praktis, yang dapat menjadi bekal bagi jemaat Korintus dan juga kita saat ini. Pesannya jelas, yaitu agar dalam situasi menghadapi persoalan apapun, setiap orang harus percaya dan tetap tegak dalam iman. Tegak berarti panceg (Sunda: teguh), memiliki iman yang tak tergoyahkan oleh apapun dan terus melakukan apa yang benar. Saudaraku, berdasarkan bacaan kita, sedikitnya ada tiga ciri orang yang memiliki iman yang tegak, yang terlihat dari tiga karakter di bawah ini:

  1. Dia tetap bersukacita, dan hidup dalam damai sejatera sekalipun susah. Dalam situasi sulit, tetap bersukacita tidaklah mudah. Orang biasanya bersukacita karena punya atau dapat ini dan itu. Sukacita yang seperti itu, sangat bergantung dari situasi yang ada. Tentu ini tidaklah tepat, sebab sebagai orang percaya, sukacita itu harus terus ada. Karena, sukacita kita berasal dari Kristus dan bukan dari dunia, sehingga tidak ditentukan dari apa pun yang ada di dunia ini.
  2. Dia terus berusaha supaya sempurna. Untuk mengarahkan hidup pada kesempurnaan, kita perlu melihat kata “Sampurasun”. Berasal dari kata sampurna ning ingsun yang bermakna sempurnakan diri anda. Kata sampurasun, mengajak orang yang berucap dan disapa, untuk bisa mengoreksi seluruh kesalahan diri dan kemudian memperjuangkan kebenaran yang akan diwujudkan. Sementara ucapan rampes memiliki makna mengiyakan arti salam atau membangun kesepakatan untuk saling menyempurnakan diri dan mengoreksi kesalahan. Karena itu, menjadi sempurna berawal dari kemauan untuk saling belajar dan mengoreksi. Dalam konteks ini, hidup sempurna bukan lah hidup tanpa dosa, sebab semua manusia berdosa. Hidup sempurna adalah sebuah upaya kita untuk terus menerus dan konsisten agar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Menjadi teladan dengan laku hidup kita.
  3. Dia tetap bersatu (sehati sepikir). Dalam situasi badai yang menerpa, seharusnya kita bisa tetap bersatu agar pergumulan apapun dapat dihadapi dengan baik. Hal kesatuan, Paulus ingatkan kepada jemaat Korintus, yang sedang mengalami perpecahan serius. Kondisi itu, berdampak pada relasi mereka yang semakin buruk, dan hilangnya damai sejahtera di antara mereka. Paulus menasehati mereka untuk sehati-sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Saudara, saat ini kondisi yang kita hadapi pun tidaklah mudah, namun marilah kita hidup di dalam semangat saling mengasihi di dalam persaudaraan.

Saudaraku, mari terus berusaha untuk tegak dalam Iman, selalu bersukacita dan hidup dalam damai sejahtera, tetaplah bersatu dan lakukan lah kebenaran setiap hari. Ingatlah “indit kudu bari cicing, lumampah ulah ngalengkah.