Penjelasan Bahan KRT 3 Juni 2020

Halo bapak ibu sahabatku terkasih, apa kabar? Semoga semua nya dalam kondisi yang sehat dan tetap bahagia.

Audio silahkan Play di atas

Masih dalam suasana berkebaktian di rumah, kita ketemu lagi di pembahasan KRT kita Rabu ini, masih dalam suasana Pentakosta.

Oh ya selamat Pentakosta! Semoga kita semua selalu dimampukan Tuhan menjadi Gereja yang dewasa, bertumbuh, bertanggungjawab, dan baik satu sama lain

Sahabatku, Rabu ini kita bahas teks menarik dari surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus pasal 12 :1-13. Apa tema yang paling sahabat paling ingat dari Korintus? Yap. Benar sekali. Paulus bicara soal kesatuan Gereja, bahasa roh, karunia dan kasih.

Tapi sebenarnya masalah di Korintus bukan hanya soal itu saja. Ada lima permasalahan besar muncul di jemaat Korintus : soal perpecahan, seks, makanan, pertemuan, dan soal kebangkitan. Karena Paulus pernah berada di sini satu setengah tahun, dia terkejut betapa setelah dia tinggalkan permasalahan besar terjadi di tempat ini.

Perikop yang kita bahas dalam KRT kali ini, terkait dengan permasalah terkait pertemuan. Dalam kumpulan kumpulan kebaktian di korintus ada beberapa orang yang punya karunia bahasa berbeda, ditambah dengan beberapa lagi yang punya karunia mengajar. Mereka saling berebutan bicara sehingga anggota jemaat lain bingung dan tidak bisa mendengarkan dengan baik pewartaan Injil. Ini menimbulkan keributan dalam persekutuan.

Lalu bagaimana Paulus menyelesaikan permasalahan ini?

Menarik sahabat, bahwa Paulus selalu mengawali mengajar Korintus dengan merumuskan masalah dan memerinci perilaku dan pikiran yang harus dikritik dari jemaat dan kemudian dia membahas dengan memberi sudut pandang dari kacamata Injil.

Pertama, rasul Paulus mengingatkan bahwa kalau mereka masih mau cari nama, atau hormat atau pamer, artinya mereka belum selamat. Orang yang sudah diselamatkan di dalam Kristus adalah mereka yang mengasihi sesamanya. Silih asih kudu nu pertama. Pami tos janten manusa anu pikaasihan ka sasama, baru kita kemudian bisa mempertajam diri melalui relasi kita menjadi gereja yang mengasuh satu sama lain.

Nah…gereja yang saling mengasuh adalah gereja yang empatik, gereja yang peka, sensitif, tidak gede rasa, tidak pongah atau merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Dengan kata lain, menyadari bahwa saya dan orang lain sesungguhnya ga berbeda. Kita sama saja. Manusia yang hina yang derajatnya sama. Manusia yang berdosa. Manusia yang diberi karunia bukan supaya sombong tapi untuk memakainya bagi kepentingan bersama. Roh yang bekerja dalam keberagaman itu adalah Roh yang satu yaitu Roh Kristus. Roh Allah.

Nah, gereja yang sudah mengalami Pentakosta harus selalu menyadari ini. Siapapun berharga. Siapapun bisa dipakai Allah. Siapapun berguna. Siapapun bisa berkarya. Itulah keindahan dan keajaiban karya Roh Kudus. Dan yang terpenting, Roh Kudus senantiasa mengingatkan kita bahwa Kristus sudah menjadi pemersatu antara bumi dengan Allah. Kristus melalui hidup dan pelayananNya telah menyelamatkan, memulihkan, merajut kembali, mempersatukan kita dengan Allah dan satu sama lain. Sekarang Roh Kristus itu ada di dalam dunia ini, dan dalam segenap ciptaan untuk menolong kita ikut serta dalam karya penyelamatan Allah.

Kenapa ada orang yang hidupnya masih teu puguh meski sudah merayakan Pentakosta? Mungkin saja, dia sudah menjalani Pentakosta tapi sebenarnya dia belum mengalami Pentakosta. Sehingga hidupnya tidak berubah. Masih besar egonya. Masih tak sadar bahwa hidupnya dilimpahi kasih karunia Allah. Ini yang membuat seseorang tak berubah. Merekedeweng.

Sahabat, kita semua masih belajar bagaimana berbuat baik. Kita masih belajar bagaimana menjadi silih asih, asah dan asuh. Bagi saya pribadi, untuk bisa asih, asah dan asuh kita harus bagja. Kudu bagja. Kudu bahagia. Kenapa? Orang yang kirang bagja, kirang bahagia pasti ga bisa mencintai. Kita harus bahagia dengan hidup kita, bahagia dengan pasangan kita, bahagia dengan anak kita, bahagia dengan orangtua kita, bahagia dengan pekerjaan kita, bahagia dengan gereja kita, bahagia dengan bangsa kita, bahagia dengan keselamatan kita, bahagia dengan juruselamat kita. Sudahkah kita bersyukur karena sudah diselamatkan? Bersyukurkah kita memiliki Allah yang tak pernah meninggalkan kita?

Tak susah bukan menjadi seorang penata layan, penyalur kebaikan melalui karunia yang Allah beri kepada kita? Saya belajar bahwa saya bisa gelisah karena tak bisa bersama orangtua saya secara lengkap. Selama dua bulan lebih, ayah dan ibu, adik2 terpisah dengan saya. Tapi saya tahu, Tuhan punya maksud. Ini saat saya meredam kegelisahan dengan hidup bersama ibu, dan adik2 saya juga menyesuikan dengan ayah saya di sana. Tak mudah kita bisa merasa nyaman dengan keluarga sendiri bukan? Tapi rumah kita adalah sumber bahagia kita. Bisa bahagia bersama keluarga adalah karunia roh.

Jadi, gak perlu jadi heboh atau hebat untuk menyadari karunia. Cukup dengan menjadi bagja bahagia dalam.menjalani tugas dan keseharian. Menjadi murid Kristus yang setia dan bertanggungjawab. Baik, setia dan murah hati. Semoga kita dimampukan melakukan firman Tuhan. Amin