1 Petrus 4 : 12 – 14
Pendahuluan
Bila kita perhatikan dengan seksama, tema KRT di bulan Mei ini nampaknya tertuju pada topik penderitaan dan kesetiaan. Bahan bacaannya pun terambil dari satu sumber yang sama dengan perikop yang berbeda-beda, yakni dari surat 1 Petrus. Pesan yang hendak disampaikan melalui setiap bacaan sangat jelas, yakni bagaimana setiap orang percaya menyikapi sebuah penderitaan yang dialami, khususnya penderitaan yang diakibatkan oleh karena menanggung segala konsekuensi sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus, berhadapan dengan pihak yang tidak suka dan membenci pada kekristenan. Pun dengan bahan bacaan saat ini, 1 Petrus 4 : 12 – 14. Sangat jelas sekali berbicara mengenai hal tersebut. Dengan mengingat topik-topik sebelumnya yang tentunya memiliki konteks yang sama, saya kira tidak perlu lagi menguraikan latar belakang perlunya surat ini ditulis oleh Petrus kepada para pembacanya.
1 Petrus 4 : 12 – 14
Saat ini, mari kita fokus pada teks 1 Petrus 4 : 12 – 14, serta mencari nilai-nilai yang dikatakan oleh teks itu sendiri.
- Menurut Petrus, bila kita berada pada konteks di mana ada orang yang tidak menyukai dan membenci kita akan keyakinan kita, maka penderitaan merupakan hal yang tak dapat dihindari. Kalimat “….. janganlah kamu heran” (ay. 12) sudah lebih dari cukup untuk menjadi buktinya. Sekarang mari kita teliti dalam kehidupan sehari-hari, apakah benar demikian? Nampaknya benar! Walaupun tidak sepenuhnya benar bila yang dimaksud adalah penderitaan secara fisik. Bukankah di republik ini kita dapat dengan mudah mendapati banyak orang Kristen yang menderita baik fisik maupun psikis karena identitas kekristenannya. Dari sini kita belajar bahwa kita tidak dapat lari dan menjauhkan diri dari penderitaan. Hal itu merupakan upaya yang sia-sia. Selama identitas kekristenan itu melekat pada diri kita, dan selama ada orang yang membenci kekristenan, maka kita akan mengalaminya.
- Petrus menghendaki supaya setiap umat percaya memandang penderitaan sebagai ujian. Dalam ayat 12 terdapat kalimat “… sebagai ujian” (ay. 12). Ujian terhadap apa? Ujian terhadap iman. Ketika kita hidup dalam kelimpahan, hati kita senang, jalan kita mulus bebas hambatan, sungguh sangat mudah untuk kita memuji-muji Tuhan. Tetapi apa istimewanya? Bukankah orang lain pun bisa. Lain sekali dan akan sangat istimewa kalau dalam pencobaan; kesulitan menerjang, problem hidup menghujam, tetapi kita masih bisa bersyukur dan memuliakan Tuhan. Itulah iman sejati. Kesetiaan seseorang terhadap suatu prinsip dapat diukur dengan kerelaannya menderita untuk prinsip tersebut. Oleh karena itu, setiap penderitaan adalah ujian terhadap iman seseorang.
- Menurut Petrus, penderitaan berarti turut ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Ayat 13 berkata “… sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus” (ay. 13). Ketika seseorang harus menderita demi kekristenannya, sesungguhnya ia sedang melalui jalan-jalan yang pernah dilalui oleh Tuhannya dan turut memikul salib yang dipikul Tuhannya. Hal ini merupakan pemikiran yang khas dari Perjanjian Baru. Roma 8:17 berkata “….. yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Begitu pula 2 Tim. 2:12 yang menyatakan “jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia”. Bila mengingat teks-teks tersebut, maka setiap penderitaan yang harus kita pikul demi Kristus, adalah hak istimewa, dan bukan hukuman.
- Menurut Petrus, penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan. Ayat 14 berkata: “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan,…. ada padamu” (ay. 14). Sama halnya dengan salib yang diterima oleh Yesus menuju mahkota, demikianlah mereka yang menderita dalam nama Yesus pun memperoleh kemuliaan. Ketika Stefanus diadili dan akan dijatuhi hukuman mati, semua orang yang menatap Stefanus melihat wajahnya sama seperti wajah seorang malaikat (Kis. 6:15).
Refleksi Dalam Menyikapi Penderitaan
Penderitaan sebagaimana halnya disebutkan tadi, tidak dapat terhindarkan dari kehidupan manusia. Penderitaan, seperti juga kesukacitaan, pernah dan akan dialami manusia. Oleh karena itu, kita harus memandang dan menerima penderitaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seperti halnya kesukacitaan yang kita alami. Suka-duka, bahagia-kecewa, tawa-air mata, manis-pahit, ibarat dua sisi dalam satu keping uang yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak dapat memilih satu bagian saja dan menolak bagian yang lain. Seperti yang Pengkhotbah katakan “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya….. Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (Pkh. 3:1-15). Takut bukan dalam arti takut seperti melihat binatang buas, namun takut dalam arti hikmat yang dikaruniakan (Bdk. Amsal 9:10). Lebih lanjut, iman kepada Tuhan akan menjaga dan menguatkan hidup kita ketika kita menjalani penderitaan. Hanya iman yang mampu melihat pelangi di balik badai yang bergemuruh. Demikianlah iman akan menguatkan pengharapan kita kepada Tuhan. Dalam penderitaan justru iman kita akan semakin kokoh. Bayangkan ketika kita mendaki gunung, jalanan yang menanjak, terjal, berbatu, berliku-liku, tentu membuat kita menjadi letih lesu, terkadang hendak menyerah untuk kembali ke bawah. Tetapi setiba di puncak, lalu kita melihat ke bawah, seolah kita dapat menjangkau awan, dan bahkan setara dengan elang yang terbang, betapa kagum dan leganya perasaan tersebut. Persis seperti ketika kita merasakan nikmatnya makan pada saat lapar. Jadi, dalam menjalani hidup ini tidak ada alasan untuk kita tidak bersyukur. Pun ketika pencobaan dan penderitaan menindih berat. Justru dalam keadaan demikian, iman kita menemukan bentuknya dan pengharapan kita akan terwujud. Sulit, iya! Namun bukan berarti mustahil!
Disiapkan oleh: Pdt. Albert Naibaho, S.Si.
Dalam kehidupan,terutama kita sebagai umat Kristen sudah dipastikan akan mengalami suka dan duka yang tidak dapat dihindari.Semuanya perlu persiapan yang bentuknya tiap2 orang akan berlainan dan mungkin saja bisa berbanding terbalik yang dialami selama hidup lebih ternilai pengorbanan atau penderitaan selama hidup.Yang penting rasa syukur kita kepada pencipta sampai dimana selama kita hidup.
Refrensi bacaan pengalaman orang lain,khotbah dan dalam pemvacaan Alkitab sangat banyak,tetapi apakah kita cukup pandai dan bijaksana untuk memaknainya pada setiap kondisi,tentu masing-masing akan berbeda yang pernah dirasakan dalam hidup ini dan berserah kepada Tuhan bukan berarti terserah apa adanya tapi manusia harus yakin memiliki talenta untuk mengelola hidupnya dengan baik dimata Tuhan Kita Yesus Kristus.Amin
Hatur nuhun kang Agus sudah berbagi.