{"id":99,"date":"2020-04-25T19:35:49","date_gmt":"2020-04-25T12:35:49","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=99"},"modified":"2020-04-25T19:35:49","modified_gmt":"2020-04-25T12:35:49","slug":"gereja-di-masa-covid-19-dan-setelahnya-sebuah-refleksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/04\/25\/gereja-di-masa-covid-19-dan-setelahnya-sebuah-refleksi\/","title":{"rendered":"Gereja di Masa Covid-19 dan Setelahnya: Sebuah Refleksi"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta<\/p>\n\n\n\n<p>Pagebluk Covid-19 yang menggebuk dunia telah meninggalkan tantangan dan peluang tersendiri bagi manusia untuk memikirkan ulang keberadaan dan kiprahnya di dalam dunia ciptaan Tuhan. Covid-19 yang super kecil dan tak kasat mata bukan hanya menyebabkan kesakitan dan kematian, melainkan juga mengguncang manusia dalam segala aspek kehidupan. Kehidupan sosial, ekonomi, politik, bahkan keagamaan tak luput dari gebukkan Covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak Maret 2020, tatkala Covid-19 dengan cepat mewabahi Indonesia, gereja-gereja mulai melakukan ibadat secara online. Peribadatan yang biasa dilakukan dalam perkumpulan ragawi digeser menjadi peribadatan secara virtual dengan basisnya pada keluarga-keluarga atau rumah masing-masing. Langkah dan cara ini merupakan sikap rensponsif gereja-gereja untuk memotong rantai penyebaran Covid-19. Jadi, dengan tinggal di rumah, bekerja dan belajar di rumah, sampai beribadat di rumah, gereja dan warga gereja serta seluruh anak bangsa ini telah melakukan sesuatu yang besar dalam mencegah penularan Covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita bersyukur bahwa dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita bisa selalu terhubung, saling bertatapan dan bercakap kendati kita berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Iptek menyiapkan platform yang bisa kita pakai untuk terus bersekutu dan beribadat. Dan, tampaknya anak-anak milenial lebih menyukai suasana ibadat virtual, walaupun ada juga warga jemaat dari golongan usia tertentu yang tergagap-gagap, bahkan ada yang tidak bisa mengikuti karena keterbatasan kuato dan sebab lain. Namun, ibadat virtual adalah salah satu jawaban dalam kondisi anomali yang kita sedang rasakan hari-hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Suasana anomali atau abnormal ini memang perlu respons yang tidak biasa. Dibutuhkan kreativitas dan keberanian untuk melakukan karya-karya pelayanan yang dapat menjawab kebutuhan warga jemaat dan masyarakat, seperti kebutuhan spiritual dan psikologis. Layanan-layanan konseling pastoral harus dilakukan dengan melibatkan tenaga-tenaga profesional seperti psikolog. Dari informasi, di masa pagebluk ini KDRT ternyata meningkat. Hal ini bisa terjadi karena orang tidak siap atau kesulitan beradaptasi dengan situasi yang baru. Dalam konteks ini, pelayanan afektif sangat dibutuhkan. Karena itu, mesti ada gugus tugas di setiap aras (termasuk jemaat\/lokal) yang dipersiapkan di masa ini untuk memberikan layanan afektif (mental-spiritual).<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, di masa pandemi ini kita pun melihat tumbuhnya gerakan filantropi di mana-mana. Gereja-gereja yang telah terbiasa dengan aksi diakonia karitatif terlibat dengan menyiapkan nasi bungkus atau membagi sembako bagi warga jemaat dan masyarakat. Aksi semacam ini sangat diperlukan guna menyatakan karitas atau cinta dan belarasa dengan sesama. Karya semacam ini pun akan membawa gereja untuk menyatu dengan suka-duka masyarakat. Gereja tidak lagi menjadi menara gading. Bahkan, jika diperlukan, para pimpinan Jemaat dapat membuka gedung-gedung gereja yang kosong untuk dipakai sebagai tempat isolasi atau penampungan sementara bagi mereka yang homeless. Covid-19 menyediakan kesempatan bagi gereja-gereja untuk berbuat lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, berbagai karya pelayanan di masa Covid ini sudah harus direfleksikan oleh para pimpinan gereja dan umat yang dikaruniakan Allah kemampuan untuk berpikir dan berefleksi. Bagaimana kita menjadi gereja pasca Covid-19? Refleksi ini penting, supaya gereja-gereja mengalami transformasi. Jangan sampai di masa pandemi ini gereja hanya sekadar menjadi aktivisme, dan setelah itu gereja kembali menjadi irelevan dan signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Gereja Pasca Covid-19<\/p>\n\n\n\n<p>Membayangkan gereja pasca Covid mesti bertolak dari dua kenyataan. Pertama, kenyataan bahwa gereja adalah persekutuan milik Allah Tritunggal. Kenyataan iman ini yang membedakan gereja dari partai politik, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas sosial lainnya. Gereja dibentuk oleh Allah Bapa di dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus untuk menjalankan misi-Nya. Sama seperti Allah yang berinkarnasi di dalam Yesus Kristus, maka gereja juga hadir secara konkret di dalam dunia. Gereja hidup di dalam dan meneladani Kristus yang inkarnasional, dan diikat oleh Roh Kudus dalam relasi persekutuan dengan Allah Tritunggal. Karena itu, relasi persekutuan gereja bercirikan relasi Allah Tritunggal, yakni relasi yang setara, inklusif, dan terarah bagi yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Bertolak dari kenyataan di atas, maka gereja itu punya watak atau DNA: misional, inkarnasional, dan relasional. Misional berarti gereja hidup dengan misi. Misi ini bukan pilihan, tetapi sesuatu yang harus ada. Misi yang diemban gereja adalah misi Allah. Jadi, gereja pada dirinya tidak mempunyai misi, tetapi gereja hidup karena dan untuk misi Allah. Inkarnasional berarti gereja itu selalu menubuh. Gereja hadir secara konkret dalam suatu sejarah dan struktur gerejawi tertentu, mengembangkan karya-karya pelayanan yang bersumber dari Kristus di tengah kenyataan hidup sehari-hari. Relasional berarti gereja adalah persekutuan yang terbuka bagi dunia, sama seperti Allah Tritunggal yang terbuka bagi dunia. Relasi persekutuan ini tidak hanya bersifat eksklusif, tetapi sekaligus inklusif dan pluralis. Ia melampaui kategori-kategori tersebut karena gereja ada di dalam Allah Tritunggal dan terarah bagi dunia ini dan ke masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kenyataan kedua yang mesti disadari oleh gereja-gereja adalah realitas dunia yang selalu berubah. Realitas yang terus berubah ini sarat dengan persoalan-persoalan yang datang dan pergi, dan tumbuh dengan kemajemukan dalam berbagai aspek seperti budaya, agama, politik, sosial, dll. Singkat kata, gereja hidup dalam dunia yang plural, dinamis, dan penuh dengan pergumulan atau persoalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua kenyataan di atas perlu dikorelasikan secara kritis-dialektis, sehingga transformasi gereja dan dunia dapat terjadi melalui relasi-relasi yang dibangun secara konstruktif. Misalnya, dalam situasi Covid-19 sekarang, ketika gereja-gereja melakukan diakonia karitatif, karya diakonal itu jika ditempatkan dalam dua kenyataan di atas, maka di satu sisi apa yang gereja lakukan itu sesuai dengan kebutuhan konteks, tetapi pada sisi lain diakonia itu bukan tugas sewaktu-waktu dari gereja, atau sebuah apendiks yang diimbuhkan begitu saja dalam situasi tertentu. Diakonia justru implementasi dari karya gereja meneladani Kristus. Diakonia adalah bagian dari misi Allah yang adalah DNA gereja. Karena itu, J.Sikkel pernah berkata, &#8220;gereja bisa hidup tanpa gedung, tetapi gereja tidak bisa ada tanpa diakonia.&#8221; Dan, kondisi Covid-19 mengafirmasi keyakinan dan pendapat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, pasca Covid-19 nanti, gereja-gereja sudah harus punya good will untuk memperbesar anggaran diakonia melebihi anggaran konsumsi rapat atau pengembangan sarana fisik. Gereja sudah harus semakin sadar bahwa subjek yang dilayani adalah manusia, bukan benda-benda dan organisasi atau birokrasi. Karena itu, konsentrasi dan keseriusan membangun manusia dalam segala aspek harus terus diperbesar melebihi hasrat kita memperbesar dan mempercantik gedung gereja.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasca Covid-19, karya diakonal gereja akan sangat dibutuhkan, mengingat dampak ekonomi dari pagebluk sangat besar. Banyak orang di-PHK dan warga jemaat kita sendiri bisa jadi adalah bagian dari mereka yang diputuskan hubungan kerja. Karena itu, diakonia pemberdayaan mesti dilakukan oleh gereja. Diakonia pemberdayaan ini akan menggeser fokus gereja dari lembaga rohani yang semata-mata menjalankan ritual menjadi lembaga yang yang juga peduli dengan kehidupan ekonomi, sehingga gereja menjadi lembaga yang lebih utuh. Tentu, kalau sebuah jemaat melakukan diakonia pemberdayaan ini sendiri-sendiri, mungkin saja akan terasa sulit. Maka, relasi dengan yang lain harus dibangun. Bahkan, relasi sebagaimana uraian di atas adalah hakikat dari gereja itu sendiri. Karena itu, jemaat-jemaat perlu memperluas relasi dan membangun kerjasama dengan jemaat lain, bahkan hal itu dilakukan secara lintas denominasi. Gereja harus berani keluar dari perangkap denominasi dan merayakan perbedaan dalam kerjasama yang konstruktif dengan yang lain untuk kebaikan semua, sehingga kesatuan tubuh Kristus pun akan semakin terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah contoh bagaimana dua kenyataan gerejawi di atas diperjumpakan secara dialektis dan menghasilkan pemikiran yang perlu diperjuangkan dalam rangka gereja menjalani hari ini dan mengantisipasi masa depannya.<\/p>\n\n\n\n<p>(Penulis adalah pendeta UK. Maranatha)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta Pagebluk Covid-19 yang menggebuk dunia telah meninggalkan tantangan dan peluang tersendiri bagi manusia untuk memikirkan ulang keberadaan dan kiprahnya di dalam dunia ciptaan Tuhan. Covid-19 &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":100,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-99","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-refleksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":101,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99\/revisions\/101"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}