{"id":821,"date":"2020-10-04T22:22:01","date_gmt":"2020-10-04T15:22:01","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=821"},"modified":"2020-10-04T22:22:01","modified_gmt":"2020-10-04T15:22:01","slug":"berlari-larilah-kepada-tujuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/10\/04\/berlari-larilah-kepada-tujuan\/","title":{"rendered":"Berlari-larilah kepada Tujuan"},"content":{"rendered":"\n<p>Filipi 3 : 46 &#8211; 14<\/p>\n\n\n\n<p>Surat Filipi mengingatkan kita kepada nama kota yang pertama kali dikunjungi Rasul Paulus dalam perjalanan misinya di Eropa. Kepergiannya ke sana berdasarkan penglihatan yang dialami Paulus seperti diceritakan dalam Kisah Rasul 16 : 9. Paulus dibantu oleh Silas dan Timotius menyeberang ke sana dan sampai di Filipi. Di sanalah lahirnya kekristenan pertama kali di Eropa. Diawali dengan dibaptisnya seorang perempuan penjual kain bernama Lidia bersama keluarganya (Kisah 16:13-15), dan menyusul kepala penjara bersama keluarganya (Kisah 16:30-34). Warga Jemaat Filipi adalah orang-orang bukan orang Yahudi dan juga orang Yahudi yang menjadi Kristen.<\/p>\n\n\n\n<p>Surat ini dari Rasul Paulus di tulis kira-kira antara tahun 53-58 M dari dalam penjara (Filipi 1:7,14,17), yang diperkirakan terletak di kota Roma (lht. Filipi 4:22, ada penyebutan \u201cistana Kaisar\u201d). Surat ini ditujukan kepada Jemaat di Filipi dengan maksud dan tujuan penulisan yang dilatar-belakangi oleh keinginan Rasul Paulus untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian Jemaat Filipi yang telah dinyatakan melalui pemberian-pemberian yang mereka kirimkan kepadanya (lihat 4:10,14-18).<\/li><li>Menghilangkan kecemasan Jemaat Filipi sehubungan dengan pemenjaraan dirinya (1:12-26).<\/li><li>Memperingatkan Jemaat Filipi adanya bahaya perpecahan, supaya Jemaat Filipi hidup, berbuat dan bersaksi dalam kesatuan Roh (1:27; 2:1-11; 4:2 dst.).<\/li><li>Memperingatkan adanya pengaruh Yudaisme yang menekankan hidup dalam legalisme (sesuai aturan Taurat Musa) yang hakikatnya penyangkalan akan Injil (3:3-11) dan adanya bahaya \u201ckesempurnaan palsu\u201d (3:12-16).<\/li><li>Memberi semangat dan dorongan agar Jemaat Filipi untuk tahan menderita dengan teguh dan mempercayakan hidup mereka dalam segala hal kepada Tuhan (1:27-30; 2:12-18; 3:17-21; 4:4-9).<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Sering kali, kehidupan keagamaan sepanjang zaman cenderung ditandai dengan semangat yang sangat kuat mengutamakan peraturan hidup beragama dengan berbagai aturan hukum agama. Hidup \u2018sempurna\u2019 diukur dari sejauh mana seseorang taat menjalani aturan\/hukum&nbsp; agama.&nbsp; Hal seperti inilah yang Paulus lihat merongrong iman di Jemaat Filipi. Paham yang datang dari dalam agama Yahudi (Yudaisme) sangat menekankan soal-soal disiplin lahiriah. Paulus ungkapkan hal ini dalam pasal 3:4b. Hal-hal&nbsp; lahiriah&nbsp; yang&nbsp; dimaksudkan adalah sebagaimana Paulus kemukakan dalam ayat 2 dan 3. Apa yang dikemukakan dalam bacaan kita adalah suatu jawaban Paulus terhadap paham Yudaisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan dengan maksud menyombongkan diri, Paulus menyampaikan bagaimana ia pernah menjalani kehidupan, tetapi sekarang ia hidup beribadah dalam Roh. Tekanannya jelas. Ia meninggalkan kehidupan beragama yang mengagungkan hal-hal lahiriah dan sering kali menjadi ukuran kesalehan seseorang. Kini, iman dan hatinya yang dipenuhi pertobatan, ditampakkan dalam&nbsp; hidup penuh kerendahan hati dengan meneladani teladan ketaatan Kristus. Inilah hakikat hidup dalam Roh (lihat Filipi 2:5-8). Inti ketaatan itu, adalah, \u201cMengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (lihat Matius 22:37-40). Inilah hakikat dari seluruh isi kitab Taurat dan para nabi. Manusia seharusnya dapat bertingkah laku baik, bukan karena dipaksa oleh hukum seperti Taurat, tetapi karena dorongan hati\/jiwa dan pikiran yang dibarui oleh Roh Kudus.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau berdasar lahiriah, keagamaan&nbsp; Paulus sudah sempurna. Paulus, bukan hanya ahli dalam hal&nbsp; isi ajaran Taurat, tetapi juga dalam menaati&nbsp; dan mempraktikkannya, bahkan menjadi penganiaya Jemaat. Ia sudah sampai taraf menjadi seorang Farisi (3:5-6). Suatu jabatan bergengsi tertinggi dalam keahlian dan sikap hidup yang sesuai Taurat. Itulah keagamaan yang sempurna secara lahiriah.&nbsp; Akan tetapi&nbsp; bagaimana semua itu kalau dilihat dari pandangan iman di dalam Roh Kristus? Paulus katakan dalam ayat 7, \u201capa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.\u201d bahkan dalam ayat 8 dikatakannya apa yang dulu dibanggakannya adalah \u201csampah\u201d. Semua itu terjadi karena iman kepada Tuhan Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu yang Paulus rindukan sebagai orang yang beribadah dalam roh adalah hidup dipenuhi oleh keinginan, \u201cmengenal Kristus dalam kuasa kebangkitan-Nya dan bersekutu dalam penderitaan-Nya, serupa dalam kematian-Nya\u201d (ayat 8). Artinya, hidup bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi bagi Tuhan yang dinyatakan dalam kasih kepada sesama, penuh pengorbanan sampai mati (bandingkan 1:21). Apakah semua itu gampang? Apakah Paulus merasa sudah berhasil dengan sempurna? Tidak dan belum.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai pengikut Kristus, kita harus memiliki pegangan yang kuat. Dalam hal demikian, kita perlu hidup disiplin dalam hidup keagamaan kita, tetapi bukan pada disiplin yang menekankan aturan-aturan lahiriah. Aturan lahiriah sering kali mendorong manusia pada kesombongan rohani dan \u201ckesempurnaan palsu\u201d,&nbsp; sebab hatinya jauh dari Allah yang hidup (lihat ayat 17-19). Disiplin kita adalah hidup dalam Roh Kristus yang intinya adalah hati\/jiwa dan pikiran kita terikat kepada aturan Allah dalam Kristus, yaitu hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama. Dalam Kristus, kita bebas tetapi dalam ketaatan di dalam kasih. Apa ciri dari jiwa kasih? Hal ini dapat kita lihat dalam 1 Korintus 13: 4-7.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai pengikut Kristus kita perlu sadar betul bahwa selama dalam dunia ini perjuangan kita belum selesai. Kita masih harus terus berlari dalam iman, berjuang dalam pengharapan. Untuk berhasil perlu disiplin yang kuat dan punya tujuan yang jelas. Apa yang menguatkan kita? Kita punya satu tujuan yaitu tujuan iman dan hal ini harus menjadi pegangan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk didiskusikan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Bagaimanakah kita dapat sampai pada apa yang disebut \u201ctujuan iman\u201d? Apa yang harus dilakukan?<\/li><li>Dalam konteks kehidupan saat ini terutama di Indonesia, bagaimana cara kita menjalankan tugas kesaksian sebagai Gereja yang diutus ke tengah dunia ini? <strong>(HAD)<\/strong><\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Filipi 3 : 46 &#8211; 14 Surat Filipi mengingatkan kita kepada nama kota yang pertama kali dikunjungi Rasul Paulus dalam perjalanan misinya di Eropa. Kepergiannya ke sana berdasarkan penglihatan yang &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":822,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-821","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/821","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=821"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/821\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":823,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/821\/revisions\/823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=821"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=821"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=821"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}