{"id":770,"date":"2020-09-19T20:17:10","date_gmt":"2020-09-19T13:17:10","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=770"},"modified":"2020-09-19T20:17:10","modified_gmt":"2020-09-19T13:17:10","slug":"bila-tuhan-tujuan-hidupku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/09\/19\/bila-tuhan-tujuan-hidupku\/","title":{"rendered":"Bila Tuhan Tujuan Hidupku"},"content":{"rendered":"\n<p>Filipi 1:21-30<\/p>\n\n\n\n<p>Paulus menulis surat kepada Jemaat di Filipi saat ia berada di dalam penjara dan tentunya berada di dalam situasi dan keadaan yang tidak mengenakkan. Meskipun demikian, dengan tetap menunjukkan adanya sukacita di dalam dirinya, ia mengatakan, \u201cKarena bagiku, hidup adalah Kristus\u201d (Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: Karena bagi saya, tujuan hidup saya hanya Kristus). Hal ini ia sampaikan kepada jemaat yang dikasihinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana kita dapat memahami perkataan Paulus ini? Terjemahan yang pertama (Alkitab TB) mengisyaratkan hidup yang dijalani adalah Kristus dan menjalani hidup seperti Kristus hidup. Sedangkan terjemahan kedua (Alkitab BIMK) mengindikasikan tujuan dari hidup yang dijalani saat ini adalah Kristus sendiri. Hidup ini memanglah sebuah perjalanan yang memiliki tujuan, dan bagi orang percaya tujuannya pasti dan jelas yaitu Kristus. Bila kita tahu apa (tepatnya: siapa) yang menjadi tujuan, maka seluruh aspek hidup ini seharusnya mengarah kepada Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, bagiamana cara mengarahkan hidup kepada Kristus? Dari isi Filipi 1:23-30 ini kita dapat mencatat perlunya untuk melakukan segala pekerjaan baik yang memberi buah (dalam konteks Paulus, hal ini terwujud dalam upaya menolong jemaat semakin kuat, maju dan bersukacita di dalam iman; ayat 24-26), hidup berpadanan dengan Injil Kristus (menjadikan Kristus sebagai prioritas hidup dan kehendak Allah sebagai hal yang harus selalu dilakukan; ayat 27), sehati sejiwa dalam satu roh di tengah perjuangan iman (ayat 27-28), dan penuh kerelaan, bukan saja percaya, tetapi juga untuk turut menderita bersama dan oleh karena nama Kristus (ayat 29-30).<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam Kebaktian Minggu, kita telah sama-sama belajar tentang bagaimana pentingnya bersyukur di dalam segala keadaan yang kita alami dan rasa. Senang dan susah, suka dan duka, sehat maupun sakit, bahkan dalam segala hal kita terpanggil untuk bersyukur. Kali ini, rasa syukur dalam segala hal itu, diikuti dengan panggilan untuk mengarahkan hidup kepada satu tujuan, yaitu Kristus. Rasa syukur yang menjadi alas dan dasar melakukan segala sesuatu di dalam nama Tuhan Yesus (lihat Kolose 3:17) seharusnya juga menjadi dasar bagi kita untuk melakukan karya perbuatan nyata lainnya yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Di bagian awal tulisan ini, kita telah diingatkan tentang bagaimana Paulus mengungkapkan harapan dirinya untuk menjalani hidup seperti Kristus, mendedikasikan hidup untuk Kristus dan mengarahkan seluruh aspek hidup kepada Kristus serta melakukan apa yang Kristus telah teladankan. Maka, dengan dasar melakukan segala sesuatu \u201csambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita\u201d (Kolose 3:17), kita menjalani hidup seperti Kristus dan melakukan apa yang Kristus lakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, hidup seperti Kristus seperti apa yang harus kita jalani? Di dalam segala karya-Nya yang dapat kita temukan kesaksiannya dalam Injil, maka Kristus selalu menunjukkan kepedulian-Nya, empati-Nya, dan keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang menderita, tersingkir, teraniaya dan bahkan kepada mereka yang bukan siapa-siapa di mata masyarakat. Lewat karya-Nya, Kristus memulihkan keadaan dan memanusiakan kembali orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan diri-Nya. Selain itu, dengan ketegasan-Nya, Kristus menyatakan kebenaran dan menegakkan keadilan, serta membawa pembaruan\/transformasi di tengah-tengah kehidupan. Hal-hal inilah yang harus kita hidupi dan jalani dalam rangka menjadikan Kristus sebagai tujuan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Konkretnya, setiap orang percaya terpanggil untuk melakukan karya nyata pelayanan kepada sesama, menunjukkan empati yang dalam atas penderitaan orang lain, berani menunjukkan keberpihakan kepada mereka yang menjadi korban ketidakadilan dan ketidakbenaran, berani menyuarakan suara kenabian dan terus berusaha menghadirkan transformasi sosial di tengah konteks keberadaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk didiskusikan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Menurut pendapat Saudara, bagaimana Saudara memahami hidup Saudara memiliki tujuan, yaitu Kristus?<\/li><li>Hal konkret apa saja yang dapat Gereja lakukan terhadap saudara-saudara kita kaum disabilitas (berkebutuhan khusus), anak dan perempuan korban kekerasan serta pelecehan seksual, anak-anak jalanan yang ada di sekitar gereja, dan warga miskin yang ada di tengah persekutuan dan masyarakat, sebagai bentuk pelayanan nyata dari hidup yang meneladani hidup Kristus, bersyukur dan memberi buah? <strong>(AAS)<\/strong><\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Filipi 1:21-30 Paulus menulis surat kepada Jemaat di Filipi saat ia berada di dalam penjara dan tentunya berada di dalam situasi dan keadaan yang tidak mengenakkan. Meskipun demikian, dengan tetap &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":771,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-770","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/770","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=770"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/770\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":772,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/770\/revisions\/772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/771"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=770"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=770"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=770"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}