{"id":675,"date":"2020-08-29T12:57:29","date_gmt":"2020-08-29T05:57:29","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=675"},"modified":"2020-08-29T12:57:29","modified_gmt":"2020-08-29T05:57:29","slug":"gaya-hidup-yang-selaras-dengan-iman-dan-perilaku-kristiani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/08\/29\/gaya-hidup-yang-selaras-dengan-iman-dan-perilaku-kristiani\/","title":{"rendered":"GAYA HIDUP YANG SELARAS DENGAN IMAN DAN PERILAKU KRISTIANI"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Ibrani 13:1-8, 15-16<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kehidupan modern ditandai dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi, salah satunya teknologi informasi seperti televisi, internet, sosial media maupun telepon pintar yang kita miliki. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan arus informasi semakin deras di terima oleh seseorang, baik informasi yang positif maupun yang negatif. Selain pemanfaatannya yang telah menjadi gaya hidup tersendiri, dan kemajuan teknologi informasi juga membuat kita dapat terpapar dengan gaya hidup yang bertentangan dengan iman Kristiani. Yaitu gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Para penganut materialisme memuja barang dan benda sebagai tujuan hidup. Para penganut hedonisme adalah orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kenikmatan dengan bersenang-senang dan pesta pora, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi nafsu yang tanpa batas. Para penganut individualisme menganggap diri sendiri lebih penting daripada yang lain, kepedulian terhadap orang lain tidak lagi penting, melainkan segala sesuatu berpusat pada diri sendiri. Para penganut konsumerisme suka menghabiskan waktu dan uang untuk berbelanja secara berlebihan (menghambur-hamburkan uang atau berfoya-foya). Bagi mereka, hidup berfoya-foya mencerminkan gengsi dan status dalam masyarakat. Gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme telah membuat seseorang, termasuk juga orang Kristen yang terjebak di dalamnya, kehilangan kasih, kepedulian terhadap sesama, rasa keadilan, kesetiaan, keteladanan iman dan perilaku hidup benar, serta rasa syukur yang harusnya menjadi gaya hidup pengikut Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p>Surat Ibrani ditulis awalnya untuk orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, dan juga kepada orang Kristen saat ini di mana kepercayaan kepada Yesus Kristus harus terlihat dalam pembaruan hidup. Orang percaya harus memperlihatkan karakter Kristus dalam kehidupan mereka. Kasih Kristus yang mendasari pikiran, perkataan dan tindakan. Dengan kasih Kristus, orang percaya akan sanggup memelihara kasih persaudaraan. Berbagai perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan, tetapi justru memperkaya dan melengkapi satu sama lain.&nbsp; (ayat 1).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kasih persaudaraan terwujud secara nyata melalui tindakan memberi tumpangan. Tindakan yang semakin sulit dilakukan, khususnya di kota-kota besar. Dengan melakukannya, kita memosisikan orang lain sebagai saudara, bagian dari keluarga kita sendiri dan hidup kita menjadi berkat bagi sesama (ayat 2) Orang-orang yang pernah melakukan kesalahan bahkan sampai dihukum setelah bebas cenderung sulit untuk diterima lagi oleh masyarakat bahkan diperlakukan sewenang-wenang. Orang percaya memberikan pertolongan sebagai perwujudan kasih. (ayat 3)<\/p>\n\n\n\n<p>Penerima surat ini dinasihati supaya dapat memelihara kekudusan perkawinan dan tidak pernah sekali-kali mencemarkan tempat tidur dengan perilaku zina (ayat 4), serta untuk tidak membuat diri menjadi hamba uang. Jemaat saat itu diingatkan untuk dapat mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan sudah berikan di dalam kehidupan mereka. Ini berarti, upaya untuk mengejar kekayaan dan harta adalah sebuah kesia-siaan belaka. Sama seperti \u201cminum air laut\u201d, bukannya menghilangkan dahaga tetapi justru akan menambah rasa haus. Tidak akan ada rasa cukup. Untuk hal ini, jemaat diingatkan akan janji Tuhan sendiri yang mengatakan, &#8220;Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau&#8221; (ayat 5). Dengan mengimani hal tersebut, maka tidak ada lagi rasa kuatir bahkan dengan penuh keyakinan dapat berkata, \u201c&#8221;Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?&#8221; (ayat 6). Keyakinan iman yang telah diperlihatkan oleh para pemimpin jemaat saat itu yang menyandarkan hidupnya hanya kepada Tuhan Yesus yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (ayat 7-8).<\/p>\n\n\n\n<p>Dan akhirnya, jemaat Ibrani diingatkan bahwa gaya hidup yang harus terus melekat di dalam diri mereka adalah bersyukur kepada Allah, beribadah dan memuliakan Allah lewat kehidupan mereka yang tidak pernah lupa untuk &#8220;berbuat baik dan memberikan bantuan\u201d kepada sesama (ayat 15-16).<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai pengikut Kristus, sudah sepantasnya kita memiliki gaya hidup yang sesuai dengan iman dan panggilan kita sebagai umat-Nya. Gaya hidup berupa kemampuan dan kesediaan untuk selalu hidup dalam kasih, menunjukkan kepedulian kepada sesama, berlaku adil dan benar, mencintai kesetiaan dan selalu belajar untuk mengucap syukur kepada Allah atas segala berkat pemeliharaan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Untuk didiskusikan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Apakah akibat gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme dalam kehidupan pribadi, keluarga dan persekutuan kita?<\/li><li>Apa yang harus kita lakukan untuk melawan agar tidak terjebak dalam gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme? (RNK)<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ibrani 13:1-8, 15-16 Kehidupan modern ditandai dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi, salah satunya teknologi informasi seperti televisi, internet, sosial media maupun telepon pintar yang kita miliki. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":676,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-675","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=675"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":677,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions\/677"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/676"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}