{"id":3834,"date":"2023-04-01T11:21:45","date_gmt":"2023-04-01T04:21:45","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=3834"},"modified":"2023-04-01T11:21:45","modified_gmt":"2023-04-01T04:21:45","slug":"menghamba-dengan-taat-dan-setia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2023\/04\/01\/menghamba-dengan-taat-dan-setia\/","title":{"rendered":"<strong>MENGHAMBA DENGAN TAAT DAN SETIA<\/strong>"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Yesaya 50:4-9<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Teks ini merupakan bagian ketiga dari empat Nyanyian Hamba Tuhan. Nyanyian pertama terdapat dalam Yesaya 42: 1-9 yang berbicara mengenai penunjukan, tugas, pendekatan, dan keberhasilan sang hamba. Nyanyian kedua ada dalam Yesaya 49: 1-6 yang menjelaskan bahwa hamba itu bukan hanya berbicara kepada kalangannya sendiri tetapi juga kepada bangsa-bangsa. Sedangkan nyanyian keempat adalah Yesaya 52: 13-53:12, yang memuat deskripsi mengenai hamba yang menderita.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata hamba dalam bahasa Ibrani yaitu <em>\u2018eved<\/em> merujuk pada seseorang yang bekerja untuk keperluan orang lain, milik tuannya. Dengan demikian, hamba Tuhan berarti seseorang mendedikasikan dirinya kepada Tuhan dan bekerja melayani Tuhan. Seorang hamba Tuhan sudah sepatutnya menundukkan diri kepada Tuhan. Siapakah hamba Tuhan itu? Dalam Perjanjian Lama, hamba dapat menunjuk pada seorang individu seperti raja atau nabi, dan bisa juga menunjuk secara kolektif pada bangsa Israel. Jika merujuk pada pasal 41, Israel disebut sebagai hamba Tuhan. Ini menunjukkan kehambaan secara kolektif dalam diri bangsa Israel. Namun, Yesaya 42 juga menceritakan kegagalan Israel sebagai hamba Tuhan. Mereka disebut sebagai hamba yang buta dan tuli. Kegagalan itu bukan karena mereka tidak dapat hidup dalam kehambaan yang telah Allah tetapkan, tetapi karena keengganan mereka untuk melakukan peran itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat itu umat Israel tengah berada dalam pembuangan di Babel. Meski dalam pembuangan mereka masih menunjukkan hati dan sikap yang keras terhadap seruan Allah melalui nabi Yesaya. Sang hamba dalam Yesaya 50:4-9 memperlihatkan sikap yang patut diteladani. Di saat ia mengalami penolakan dan menghadapi situasi yang sulit, sang hamba tetap menunjukkan ketaatan dan kesetiaan. Ia tetap percaya bahwa Allah ada di pihaknya. Keyakinan itu bukan sekadar keyakinan kosong. Sang hamba benar-benar merasakan peran Allah dalam dirinya saat Allah memberikannya lidah seorang murid. Dengan lidah seorang murid, ia mampu menyemangati orang-orang yang telah kehilangan harapan. Allah terus mempertajam pendengarannya. Dengan telinga yang terbuka dan tajam ia memiliki kepekaan terhadap kehendak dan suara ilahi yang sulit dipahami. Sebagai hamba yang taat, ia juga mau menanggung setiap perlakuan buruk yang datang sebagai konsekuensi dari peran kehambaannya. Yesaya 50: 4-9 menunjukkan bahwa seorang hamba yang mau dibentuk dan dituntun oleh Allah, meski harus mengalami penolakan dan penderitaan, ia akan dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian, nyanyian ketiga dari Nyanyian Hamba Tuhan ini menunjukkan komitmen yang kuat, keberanian dan ketangguhan dari seorang hamba.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, siapa sebenarnya sang hamba yang dimaksud dalam perikop ini? Yang pasti bukan Israel dalam arti kolektif. Hamba Tuhan dalam Yesaya 50:4-9 menunjuk pada individu yang menaati Allah, membuka diri pada terhadap pengajaran Allah, dan tidak mundur dari panggilannya karena rasa sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita bisa mengasumsikan bahwa dalam konteks saat itu, individu tersebut adalah Yesaya. Namun, ini juga memberi peluang bagi setiap individu termasuk kita untuk menjadi seorang hamba Tuhan yang taat dan setia. Kita dapat memaknai Yesaya 50:4-9 sebagai undangan bagi kita semua umat Allah di masa kini. Dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang kita jumpai, kita diundang untuk memiliki lidah seorang murid yang mau mengalirkan semangat ilahi bagi orang-orang yang menderita, para korban kekerasan, ketidakadilan, dan yang putus asa. Kita dipanggil untuk terus mempertajam pendengaran dan membuka telinga bagi suara ilahi yang menuntun ke dalam damai sejahtera. (JPH)<\/p>\n\n\n\n<p>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\">\n<li>Bagaimana Anda memaknai dan menghayati diri sebagai hamba Tuhan?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana Anda mengasah diri untuk memiliki lidah seorang murid?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Dengan melihat realitas sosial yang ada di tengah masyarakat saat ini, bagaimana kita secara kolektif, sebagai gereja, menjadi hamba Tuhan?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yesaya 50:4-9 Teks ini merupakan bagian ketiga dari empat Nyanyian Hamba Tuhan. Nyanyian pertama terdapat dalam Yesaya 42: 1-9 yang berbicara mengenai penunjukan, tugas, pendekatan, dan keberhasilan sang hamba. Nyanyian &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":44,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3834","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Alkitab-scaled.jpg?fit=2560%2C1920&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3834","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3834"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3834\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3835,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3834\/revisions\/3835"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3834"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3834"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3834"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}