{"id":344,"date":"2020-06-13T13:02:17","date_gmt":"2020-06-13T06:02:17","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=344"},"modified":"2020-06-13T13:02:17","modified_gmt":"2020-06-13T06:02:17","slug":"dibenarkan-oleh-allah-untuk-melakukan-kebenaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/06\/13\/dibenarkan-oleh-allah-untuk-melakukan-kebenaran\/","title":{"rendered":"DIBENARKAN OLEH ALLAH UNTUK MELAKUKAN KEBENARAN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Roma5:12-18<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam iman percaya kepada Kristus, kita meyakini bahwa sebagai manusia kita diselamatkan dan dibenarkan dari keberdosaan dengan pengorbanan Kristus di salib. Maka, ketika menyadari hal itu, kita melihat bahwa ada tanggung jawab moril yang seharusnya membuat kita terbeban dalam menjalani hidup&nbsp; yang &nbsp;Allah &nbsp;anugerahkan &nbsp;&nbsp;bagi &nbsp;setiap kita. Ketika kita bersama-sama &nbsp;meyakini &nbsp;&nbsp;bahwa &nbsp;dalam &nbsp;kerapuhan &nbsp;diri &nbsp;kita &nbsp;sebagai &nbsp;manusia &nbsp;terhadap &nbsp;dosa &nbsp;telah &nbsp;membuat &nbsp;kita &nbsp;seringkali &nbsp;bertindak tidak benar di hadapan Allah dan tindakan yang tidak benar itu berdampak bagi sesama. Sebagai contoh, ketika kita berdusta maka kita bukan hanya melakukan ketidakbenaran di hadapan Allah, tetapi kita telah merugikan orang lain yang kita dustai. Atau tindakan koruptif yang kita lakukan, agaknya itu juga bukan hanya tindakan ketidakbenaran di hadapan Allah tetapi juga tindakan yang merugikan sesama. Konsekuensi tindakan yang tidak benar, bukan hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga pada sesama.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembacaan Alkitab kita hari ini mau membawa kita dalam sebuah perenungan tentang kemanusiaan kita yang berdosa dan dampak dari dosa itu sendiri. Rasul Paulus dalam tulisannya kepada Jemaat di Roma&nbsp; &nbsp;menegaskan&nbsp; &nbsp;pengajaran&nbsp; &nbsp;tentang&nbsp; &nbsp;anugerah&nbsp; &nbsp;keselamatan&nbsp; &nbsp;yang&nbsp; &nbsp;Allah&nbsp; &nbsp;berikan&nbsp; &nbsp;dengan mempertontonkan kemanusiaan kita yang tidak luput dari dosa. Rasul Paulus merefleksikan bahwa sejak mulanya, dosa telah menjadi bagian hidup manusia di dalam dunia. Manusia tidak dapat lepas dari &nbsp;dosa &nbsp;dan &nbsp;dosa &nbsp;itu &nbsp;mengikat, &nbsp;sehingga &nbsp;menghasilkan &nbsp;maut &nbsp;bagi &nbsp;manusia &nbsp;(ayat 12). &nbsp;Bahkan penegasan &nbsp;tentang &nbsp;keberdosaan &nbsp;itu &nbsp;ditekankan &nbsp;kembali &nbsp;oleh &nbsp;Rasul &nbsp;Paulus &nbsp;dengan &nbsp;mengatakan bahwa &nbsp;dosa &nbsp;itu &nbsp;sudah &nbsp;ada &nbsp;bahkan &nbsp;sebelum &nbsp;adanya &nbsp;Hukum &nbsp;Taurat &nbsp;yang &nbsp;diyakini &nbsp;diberikan &nbsp;Allah kepada Musa. Hukum Taurat pada akhirnya bukan hanya hukum yang diberikan untuk mengatur cara hidup manusia agar tidak melakukan hal yang tidak benar di hadapan Allah \u2013 karena Hukum Taurat itu tidak menjamin manusia lebas dari keberdosaannya (ayat 13-14), tetapi Hukum Taurat juga sebagai cerminan &nbsp;yang &nbsp;memperlihatkan &nbsp;kepada &nbsp;manusia betapa &nbsp;berdosanya &nbsp;mereka &nbsp;dan &nbsp;betapa &nbsp;mereka membutuhkan pengampunan Allah (Alkitab Edisi Studi, 1848).<\/p>\n\n\n\n<p>Maka &nbsp;Rasul &nbsp;Paulus mengingatkan &nbsp;dan mengajarkan kembali bahwa ada &nbsp;kasih &nbsp;karunia &nbsp;yang Allah berikan, yakni pengampunan yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang percaya kepada Yesus Kristus yang membawa pengampunan \u2013 melalui pengorbanan di kayu salib dan menjadikan manusia \u201cdibenarkan\u201d &nbsp;yakni &nbsp;diterima oleh &nbsp;Allah &nbsp;(ayat &nbsp;15-17). &nbsp;Dengan &nbsp;demikian, &nbsp;Rasul &nbsp;Paulus &nbsp;menekankan betapa kita semestinya bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah bahwa pengampunan itu telah Allah&nbsp; &nbsp;berikan&nbsp; &nbsp;melalui&nbsp; &nbsp;pengorbanan&nbsp; &nbsp;Kristus&nbsp; &nbsp;dan&nbsp; &nbsp;dalam&nbsp; &nbsp;pengampunan&nbsp; &nbsp;itu,&nbsp; &nbsp;manusia&nbsp; &nbsp;menjadi dibenarkan. Maka ketika sudah diampuni dan dibenarkan, ada konsekuensi yang harus diterima oleh manusia, yakni hidup dalam kebenaran. Konsekuensi logis ini yang harus bersama-sama kita ingat dan kita lakukan dalam kehidupan. Bahwa ketika kita sudah menerima anugerah pengampunan dan pembenaran, &nbsp;maka &nbsp;selayaknya &nbsp;kita &nbsp;melakukan &nbsp;hal &nbsp;yang &nbsp;benar &nbsp;di &nbsp;hadapan &nbsp;Allah, &nbsp;yakni &nbsp;dengan mengikuti &nbsp;teladan &nbsp;Yesus &nbsp;Kristus. &nbsp;Dalam &nbsp;khotbah &nbsp;hari &nbsp;Minggu &nbsp;lalu, &nbsp;kita &nbsp;diingatkan &nbsp;untuk &nbsp;bisa berempati\/berbelas kasihan kepada sesama, maka itu menjadi bagian yang dapat kita lakukan sebagai ungkapan syukur dan konsekuensi &nbsp;sudah &nbsp;diampuni &nbsp;dan &nbsp;dibenarkan oleh Allah. Melakukan apa yang diteladani dan diperintahkan Allah, menjadikan kita hidup dalam kebenaran. Jangan menjadi manusia yang tidak tahu berterima kasih dengan tetap hidup dalam keberdosaan sementara kita sudah diberikan anugerah pengampunan dan pembenaran &nbsp;oleh &nbsp;Allah.<\/p>\n\n\n\n<h1 class=\"wp-block-heading\">UNTUK DIDISKUSIKAN<\/h1>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Faktor \u00a0\u00a0apa \u00a0\u00a0yang \u00a0mempengaruhi \u00a0kita \u00a0\u00a0sehingga \u00a0tidak \u00a0bisa \u00a0melepaskan \u00a0diri dari \u00a0keberdosaan \u00a0kita?<\/li><li>Hal \u00a0konkret \u00a0apa \u00a0yang \u00a0bisa kita lakukan untuk hidup dalam kebenaran? (WAH)<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Roma5:12-18 Dalam iman percaya kepada Kristus, kita meyakini bahwa sebagai manusia kita diselamatkan dan dibenarkan dari keberdosaan dengan pengorbanan Kristus di salib. Maka, ketika menyadari hal itu, kita melihat bahwa &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":242,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-344","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":345,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344\/revisions\/345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}