{"id":3361,"date":"2022-05-14T19:05:04","date_gmt":"2022-05-14T12:05:04","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=3361"},"modified":"2022-05-14T19:05:04","modified_gmt":"2022-05-14T12:05:04","slug":"mulai-dari-sekarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2022\/05\/14\/mulai-dari-sekarang\/","title":{"rendered":"\u201cMulai dari Sekarang\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Wahyu 21: 1-8<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seseorang bertanya, apa perbedaan baju lama dan baju baru? Orang yang ditanya menjawab, baju lama memiliki ciri-ciri; warnanya sudah mulai usang, tampilannya sudah tak seindah sebelumnya. Sudah ada yang mulai rusak\/lusuh, atau rapuh. Nah, kalau baju baru, memiliki ciri-ciri; warnanya masih bagus, tampilannya menarik dan indah. Belum ada kerusakan di sana sini. Mendengar pendapat tentang baju lama atau baju baru ini, maka setiap orang pasti menghendaki sesuatu yang baru. Karena yang baru lebih menarik. Yang baru lebih menyenangkan. Namun banyak orang melupakan proses untuk mendapatkan yang baru. Seakan-akan yang baru itu soal nanti, soal yang akan datang tanpa melibatkan yang sekarang ini. Padahal guna memperoleh sesuatu yang baru berawal dari proses kekinian. Sesuatu yang baru tidak datang sendiri, perlu dipersiapkan dari sekarang. Proses menghadirkan sesuatu yang baru (seperti barang-barang) dimulai dari sekarang dengan cara menabung dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti pesan nubuat yang disampaikan pada Wahyu kepada Yohanes dalam Wahyu 21;1-8. Setiap orang pasti menghendaki hadirnya langit dan bumi yang baru. Tak terkecuali orang Yahudi, mereka juga memimpikan hadirnya langit baru dan bumi yang baru. Dalam pandangan orang Yahudi, langit baru dan bumi baru adalah tentang pemulihan kota Yerusalem. Pemulihan tentang Yerusalem baru menjadi impian yang selalu hidup dalam diri orang Yahudi.&nbsp; Orang-orang Yahudi tidak pernah kehilangan keyakinan mereka akan janji pemulihan tentang Yerusalem baru, sekalipun hidup mereka saat ini penuh dengan penderitaan, tetapi iman akan hadirnya Yerusalem baru tidak pernah surut. Tidak pernah ada matinya.<\/p>\n\n\n\n<p>William Barclay menuliskan impian tentang langit dan bumi baru memiliki akar di dalam pemikiran Yahudi. Di dalam Yesaya 65:17 Allah berkata kepada Yesaya, \u201cSebab sesungguhnya, Aku akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.\u201d<a href=\"#_ftn1\" id=\"_ftnref1\">[1]<\/a> Dunia yang penuh dengan damai sejahtera, hal yang menunjukkan akan hadirnya senyum dan kebahagiaan. Pertanyaan sederhana yang kadang mengemuka adalah; kapan (bilamana) hal itu akan terwujud? Ada yang memberi jawab; nanti. Nanti yang menunjuk bahwa saat ini kita sedang menunggu waktu itu tiba. Padahal bukankah justru damai sejahtera itu harus dimulai dari diri kita. Bahkan Tuhan sendiri mengajak kita untuk memulainya dari sekarang. Mari kita cermati perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yang disampaikan dalam khotbah minggu kemarin. Di mana Yesus memberikan perintah baru kepada murid-murid-Nya agar saling mengasihi. Perintah untuk saling mengasihi dalam rangka menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, yaitu damai sejahtera.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, langit baru dan bumi baru menjadi impian orang Yahudi dan juga impian kita sebagai orang percaya. Hendaknya dipahami bukan perkara kehidupan nanti atau yang akan datang (setelah kita meninggal). Melainkan sebuah proses yang harus kita mulai dari sekarang. Proses yang diwujudkan dalam bentuk perilaku dan tindakan nyata setiap hari. Inilah yang penting untuk dilakukan. Kebanyakan orang percaya cenderung melupakan panggilan ini dan hanya mau menanti pembaruan dari Allah (dhi. hadirnya langit baru dan bumi baru). Padahal hadirnya langit baru dan bumi yang harus seiring sejalan dengan perilaku hidup kita yang mempraktikan tindakan saling mengasihi kepada sesama. Setiap orang percaya harus menyadari bahwa menanti kehadiran langit baru dan bumi baru, bukanlah tindakan yang pasif. Melainkan kita harus terus aktif dan dinamis menantikannya melalui praktik hidup yang sesuai dengan maksud dari hadirnya langit baru dan bumi baru tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Ceritakan upaya Saudara dalam menghadirkan langit baru dan bumi yang baru dalam kehidupan sehari-hari?<\/li><li>Di tengah carut marutnya kehidupan saat ini, apakah yang menjadi tantangan terbesar Saudara dalam upaya menghadirkan langit baru dan bumi yang baru tersebut?<\/li><li>Berikan contoh konkret yang dapat dilakukan oleh orang percaya dalam rangka menghadirkan langit baru dan bumi baru sekarang ini?<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>(ASA)<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\" id=\"_ftn1\">[1]<\/a>William Barclay, Pemahaman Alkitab Setia Hari Kitab Wahyu Kepada Yohanes, Jakata: BPK Gunung Mulia, 2012, hlm. 299<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wahyu 21: 1-8 Seseorang bertanya, apa perbedaan baju lama dan baju baru? Orang yang ditanya menjawab, baju lama memiliki ciri-ciri; warnanya sudah mulai usang, tampilannya sudah tak seindah sebelumnya. Sudah &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3361","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3361","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3361"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3361\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3362,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3361\/revisions\/3362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}