{"id":3095,"date":"2022-03-13T08:03:02","date_gmt":"2022-03-13T01:03:02","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=3095"},"modified":"2022-03-13T08:03:02","modified_gmt":"2022-03-13T01:03:02","slug":"iman-membuatmu-berdaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2022\/03\/13\/iman-membuatmu-berdaya\/","title":{"rendered":"IMAN MEMBUATMU BERDAYA"},"content":{"rendered":"\n<p>Lukas 9:37-43a<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita membaca teks Lukas 9:37-43a ini, kita bisa mendapat beberapa<br>informasi lebih lanjut dari teks paralelnya, yakni Matius 17:14-21 dan<br>Markus 9:14-29. Dari teks paralel, kita bisa mendapatkan informasi, bahwa<br>anak yang diceritakan dalam teks ini menderita sejenis penyakit ayan. Dari<br>ketiga Injil yang menceritakan peristiwa ini, semuanya kompak menyebut<br>adanya kuasa roh jahat yang membuat anak ini menderita. Bukan hanya<br>kompak menceritakan adanya kuasa roh jahat, ketiga Injil juga sama-sama<br>memberi kesaksian, bahwa ayah dari si anak sudah meminta pertolongan<br>kepada murid-murid Yesus, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkan si<br>anak tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari cerita yang disampaikan, kita bisa membayangkan betapa sedihnya<br>hati si ayah melihat anak satu-satunya menderita. Pasti dia akan<br>mengupayakan berbagai cara untuk bisa membuat anaknya kembali<br>sehat. Oleh sebab itu, ia datang kepada murid-murid Yesus untuk bisa<br>membantu menyembuhkan anaknya. Mungkin, murid-murid Yesus yang<br>didatangi adalah kesembilan murid lainnya yang tidak ikut bersama Yesus<br>ke atas gunung (di mana Yesus dimuliakan). Mengapa si ayah datang<br>kepada murid Yesus? Karena dalam teks sebelumnya (Lukas 9:1-6), para<br>murid Yesus telah diberi kuasa oleh Yesus untuk menguasai setan-setan<br>dan menyembuhkan penyakit; dan para murid pun ternyata mampu (ayat<br>6). Itulah yang mungkin membuat si ayah ini menjumpai murid Yesus<br>untuk meminta pertolongan. Akan tetapi, betapa sedihnya ia, ketika para<br>murid Yesus ini tidak bisa menyembuhkan anaknya. Oleh sebab itulah,<br>saat Yesus turun dari gunung, di tengah kerumunan orang banyak, ia<br>mencoba untuk berteriak memohon (boao: berteriak lantang, bisa juga  <\/p>\n\n\n\n<p>dengan menangis). Dia berjuang agar Yesus bisa mendengar suaranya dan<br>bisa menengok\/memperhatikan (epiblepo) anaknya. Mendengar seruan<br>dan aduan dari si ayah, betapa kecewa dan marahnya Yesus kepada<br>murid-murid-Nya. Ia menyebut murid-murid-Nya sebagai Angkatan yang<br>tidak percaya dan sesat! Teguran ini sejatinya menjadi sebuah<br>kekecewaan Yesus atas kuasa yang telah diberikan oleh-Nya kepada para<br>murid! Yesus telah memberikan kuasa dan karunia, tetapi mereka tidak<br>bisa mempergunakannya dengan konsisten. Iman para murid hanya<br>menjadi iman yang \u2018temporer\u2019. Hal seperti inilah yang membuat Yesus<br>menyebut mereka dengan kata SESAT (yang juga bermakna \u2018palsu\u2019). Iman<br>yang sesat\/palsu adalah iman yang hanya \u2018ditampilkan\u2019 atau dirayakan di<br>saat-saat tertentu saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal iman ini justru berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan oleh<br>si ayah. Ungkapan iman si ayah, lebih jelas terdapat dalam catatan Markus<br>9:22-24. Si ayah mungkin dengan frustrasi mengatakan \u201cjika Engkau dapat<br>berbuat sesuatu\u201d, dan Yesus menegurnya dengan mengatakan \u201cTidak<br>ada yang mustahil bagi orang yang percaya!\u201d Si ayah kemudian<br>merespons dengan sebuah pengakuan yang unik, yakni \u201cAku percaya.<br>Tolonglah aku yang tidak percaya ini.\u201d Ketika Yesus menyuruh agar<br>anaknya dibawa kepada-Nya, ia segera membawanya, walaupun pasti<br>dengan susah payah (karena setan itu membanting-bantingkan tubuh<br>anaknya). Yesus kemudian menyembuhkan si anak (dari penyakitnya dan<br>kuasa roh jahat) dan mengembalikan kepada ayahnya.<br>Cerita ini membuat kita berefleksi, betapa sering kali kita memiliki iman<br>yang sesat. Kita hanya percaya, berserah, dan mengandalkan Tuhan di<br>saat-saat tertentu, sementara di saat lainnya, kita bergantung pada<br>kekuatan kita sendiri atau bahkan pada materi dan orang lain. Tak jarang<br>juga kita memiliki iman yang sesat\/palsu, yang mau mengerjakan<br>pekerjaan Allah di saat-saat tertentu saja, sementara di saat yang lain kita<br>mengabaikan panggilan Allah. Iman yang seperti inilah yang akhirnya<br>membuat kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Iman yang sungguh <\/p>\n\n\n\n<p>akan membuat kita berdaya untuk mengerjakan panggilan Allah. Iman<br>yang sungguh akan membuat hal yang mustahil bisa terjadi (sejauh sesuai<br>dengan kehendak Allah).<br>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Mengapa orang Kristen bisa jatuh pada iman yang sesat?<\/li><li>Bagaimana cara menumbuhkan iman yang sejati di tengah<br>kehidupan keluarga Saudara?<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 9:37-43a Jika kita membaca teks Lukas 9:37-43a ini, kita bisa mendapat beberapainformasi lebih lanjut dari teks paralelnya, yakni Matius 17:14-21 danMarkus 9:14-29. Dari teks paralel, kita bisa mendapatkan informasi, &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3096,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-3095","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3095","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3095"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3095\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3097,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3095\/revisions\/3097"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3095"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3095"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3095"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}