{"id":297,"date":"2020-06-02T08:20:29","date_gmt":"2020-06-02T01:20:29","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=297"},"modified":"2020-06-02T08:20:29","modified_gmt":"2020-06-02T01:20:29","slug":"mempergunakan-karunia-untuk-kebaikan-sesama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/06\/02\/mempergunakan-karunia-untuk-kebaikan-sesama\/","title":{"rendered":"MEMPERGUNAKAN KARUNIA UNTUK KEBAIKAN SESAMA"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>1 Korintus 12:1-13<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah Yesus naik ke Surga, para murid kemudian mengalami pencurahan Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus yang diberikan kepada para murid paling sedikit ada 4 hal:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Kuasa untuk mengasihi<\/li><li>Kuasa untuk kesatuan<\/li><li>Kuasa keberanian<\/li><li>Kuasa pengetahuan.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Kuasa-kuasa inilah yang memampukan para murid dapat melaksanakan tugas panggilan untuk menyebarkan Injil. Dalam sejarahnya kita bisa melihat sekalipun ada begitu rupa-rupa karunia\/kuasa yang murid-murid terima namun mereka tetap tidak lepas dari persoalan-persoalan hidup. Baik yang bersifat internal maupun eksternal dari persekutuan para murid TUHAN Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasul Paulus dalam bacaan perikop 1 Korintus 12: 1-13 mengingatkan bahwa sekalipun ada kepelbagaian karunia yang dimiliki setiap pengikut Kristus namun hendaknya tetap hidup dalam kesatuan yaitu satu Roh dan Satu TUHAN. Ada penegasan dalam ayat 7 yang selalu kontekstual yaitu tujuan dari karunia-karunia yang dimiliki setiap orang adalah untuk kepentingan bersama. Oleh karena itu makna hidup dalam persekutuan yang mementingkan kebersamaan ini menjadi dasar persekutuan setiap orang percaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kebersamaan ada kasih yang menjadi dasar pengikatnya, ada kekuatan yang saling mendukung satu dengan yang lainnya. Keberagaman karunia tidak menjadi hambatan untuk hidup dalam persekutuan yang khas yang dibangun oleh Yesus Kristus, Kepala Gereja.<\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan saat ini adalah bagaimana Gereja mampu merumuskan \u201ckepentingan\u201d bersama itu dalam melayani dan bersaksi? Ketika Gereja hadir dalam masyarakat maka tidak akan bisa lepas dari konteks kehadirannya. Konteks ini yang tidak bisa sama antara satu gereja dengan gereja lainnya. Oleh karenanya dibutuhkan hikmat dan kebijaksanaan agar tiap-tiap warga Gereja mampu memahami konteks kehadirannya lalu merumuskan kebutuhan, pergumulan, hambatan dan tantangan secara tepat pula.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa permasalahan dalam masing-masing konteks yang seringkali kita hadapi misalnya dalam hubungan antar umat beragama. Dibutuhkan sikap yang toleran dalam hubungan ini, saling pengertian namun juga tidak berhenti sampai di situ karena upaya-upaya konkrit seperti kerjasama memerangi kemiskinan, dan terorisme, kerjasama merawat lingkungan dan lainnya sangat dibutuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengingatan yang lain yang dapat kita refleksikan adalah dalam konteks internal Gereja. Jika kita menyadari bahwa setiap orang percaya dikaruniakan penyertaan Roh untuk kepentingan bersama, apakah hal ini dengan otomatis bahwa setiap Gereja lalu bebas dari masalah? Tentu tidak. Pasti ada masalah dalam kehidupan internal Gereja. Yang penting adalah sikap kita menghadapi masalah. Apakah kita cenderung hadir sebagai penyebab berbagai masalah? Cenderung menambah rumit masalah? Atau mungkin lari dari masalah? Atau kehadiran kita selalu menjadi pembawa damai sehingga selalu ada semangat untuk menyelesaikan masalah secara damai?<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam doa-doa kita sering kita ucapkan, \u201cJadilah kehendak-Mu dan mampukan kami melakukan kehendak-Mu\u201d. Betapa hal ini mudah diucapkan namun sering sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu mari kita mohon agar Roh Kudus memampukan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayanan dan kesaksian kita sebagai orang yang telah diselamatkan dan hidup dalam rupa-rupa karunia untuk saling membangun dan menguatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Keindahan dan keharmonisan kehidupan persekutuan kita tentu saja merupakan kunci keberhasilan kesaksian kita di tengah masyarakat. Dengan yakin bahwa Roh Kudus memampukan kita maka baik hidup dalam konteks persekutuan maupun hidup di tengah masyarakat, kita dimampukan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang bermakna bagi setiap orang. Pergunakanlah setiap karunia untuk bersaksi tentang Allah Yang Maha Kuasa dan mengasihi setiap orang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>UNTUK DIDISKUSIKAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Hal-hal apa saja yang menjadi tantangan dalam kehidupan bersama\/jemaat ? Dan bagaimana menghadapi tantangan-tantangan tersebut?<\/li><li>Bagaimana upaya bersama dalam mempergunakan karunia yang Allah anugerahkan?<\/li><li>Kesaksian dan perbuatan baik apa yang bisa disaksikan dalam konteks masyarakat Saudara? (OSD)<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 Korintus 12:1-13 Setelah Yesus naik ke Surga, para murid kemudian mengalami pencurahan Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus yang diberikan kepada para murid paling sedikit ada 4 hal: Kuasa untuk &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":298,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297\/revisions\/298"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}