{"id":2929,"date":"2022-02-12T20:04:16","date_gmt":"2022-02-12T13:04:16","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=2929"},"modified":"2022-02-12T20:04:16","modified_gmt":"2022-02-12T13:04:16","slug":"menghadirkan-tanda-tanda-kerajaan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2022\/02\/12\/menghadirkan-tanda-tanda-kerajaan-allah\/","title":{"rendered":"MENGHADIRKAN TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>1 KORINTUS 15:1-11<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Rasul Paulus dalam bagian suratnya ini, 1 Korintus 15, bermaksud mengingatkan ulang Jemaat Korintus akan Injil yang telah diajarkan dan diberitakannya, yang telah disambut dan diterima oleh Jemaat, serta yang di dalam kepercayaan atas pemberitaan itu kini Jemaat teguh berdiri. Hal ini diangkat oleh Paulus karena adanya warga jemaat yang meragukan kebenaran Injil Yesus Kristus, khususnya terkait peristiwa dan makna kebangkitan Yesus Kristus, serta yang mempertanyakan kerasulannya. Paulus memahami bahwa persoalan itu muncul karena warga jemaat bergaul dengan orang-orang Korintus yang tidak mengenal Allah dalam Yesus Kristus, sehingga ada (yang berstatus) warga jemaat (tetapi yang sesungguhnya ia) tidak mengenal Allah dalam Yesus Kristus seperti yang diberitakan dan diajarkan Paulus, dan karena itu Paulus berharap agar mereka segera berbalik kembali ke ajaran, pemahaman dan perilaku hidup yang benar seperti yang dulu menerima, bertumbuh dan jemaat teguh berdiri (15 :1-2 ; 33-34).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada 2 hal yang perlu ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus, agar jemaat Korintus dapat memahami dengan tepat dan benar ajarannya, dan yang keliru segera berbalik dari kesalahannya. Kedua hal itu adalah :<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama, <\/em>tentang Injil Yesus Kristus. Dengan mengungkapkan bagian ini (15:3b-8) Paulus hendak mengaskan bahwa Injil yang diberitakannya berisi kesaksian paling asasi, yaitu tentang kematian, penguburan, kebangkitan dan penampakan Yesus Kristus. Berita tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bersumber dan berdasar pada isi Kitab Suci (15:3b-4). Kisah penampakan Yesus bersumber pada kesaksian dan pemberitaan dari para murid, para rasul, keluarga Yesus, orang-orang banyak, dan pengalaman pribadi Paulus berjumpa dengan Yesus Kristus (15:5-8a). Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan inti kebenaran Injil yang menjadi jaminan pasti bagi keselamatan, kebangkitan, kehiduan kekal setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tanpa kebangkitan Yesus, sia-sialah pemberitaan yang telah dilakukan dan sia-sia pula orang yang percaya kepada-Nya. Dengan menyatakan sumber Injil-nya, Paulus hendak menegaskan bahwa tidak ada alasan apapun dan bagi siapapun untuk meragukan dan menyangkali kebenaran Injil yang diberitakannya. Kebenaran Injil itulah yang menyelamatkan dirinya, dan juga menyelamatkan semua orang yang mendengar dan menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus, termasuk jemaat di Korintus.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua<\/em>, kerasulan Paulus. Peristiwa Yesus menampakkan diri dan berbicara kepadanya merupakan peristiwa dan pengalaman yang paling bermakna bagi Paulus. Ini adalah anugerah Allah yang paling besar bagi dirinya. Ia merasa sangat dikasihi dan dihargai oleh Yesus Kristus, padahal dirinya adalah orang paling berdosa karena menolak Yesus Kristus serta membenci dan menganiaya jemaat-Nya. Ketika Yesus Kristus berkenan menjumpainya diyakini sebagai saatnya Dia menganugerahkan pengampunan, pembebasan dan kemerdekaan dari kuasa dosa dan kematian karena kejahatannya. Perjumpaan dengan Yesus Kristus itu pula menjadi saat baginya menerima mandat dan tugas kerasulannya dari Yesus Kristus sendiri, walau ia merasa sebagai yang paling hina dari semua rasul, bahkan merasa tak layak disebut rasul (15: 8b-10). Sejak itulah Paulus dengan penuh semangat dan berkobar-kobar membaktikan hidupnya untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, memberitakan pengampunan dan keselamatan kepada saudara sebangsanya dan suku-suku bangsa lainnya, dengan kesiapan menerima segala konsekuensi hambatan dan kesukaran berat yang dialaminya, termasuk dipertanyakan kebenaran Injilnya dan ditolak kerasulannya (9:1-3 ;15:15,17,31-32).<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kesaksian Rasul Paulus yang telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, serta dikaitkan dengan pengalaman Nabi Yesaya setelah melihat Tuhan (pembacaan hari Minggu yang lalu, Yesaya 6:1-8), ada beberapa hal penting yang menginspirasi serta menyemangati kita dalam mewujudkan panggilan hidup kita sebagai sebagai pribadi, keluarga dan persekutuan yang telah dikasihi, diampuni dan diutus Tuhan. <em>Pertama, <\/em>kita sepatutnya senantiasa bersyukur kepada Allah serta mengagumi dan menghormati Allah yang mahakuasa dan mahakasih atas kasih, pengampunan dan keselamatan yang telah dianugerahkan-Nya dalam diri dan karya Yesus Kristus. Rasa syukur, kasih, kagum dan hormat kita terus jaga dengan memelihara relasi yang intens dengan Allah dalam kehidupan pribadi kita, dan dengan demikian segenap rasa itu akan terus membara dalam hati dan pikiran kita, sehingga kita akan tetap teguh berdiri dalam iman. <em>Kedua<\/em>, rasa syukur, kasih, kagum dan hormat kita kepada Allah kita wujudkan dalam hidup yang bersekutu, melayani dan bersaksi secara utuh dan berkesinambungan di tengah lingkungan orang-orang sekitar kita bahkan yang berada dalam jangkauan yang lebih luas, dengan kesiapan kita untuk menghadapi dan menerima segala konsekuensinya. <em>Ketiga<\/em>, memberitakan Injil yang sedemikian itu sesungguhnya adalah tindakan menghadirkan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah, di mana semakin banyak orang yang dalam hidupnya : a). mengakui dan memposisikan Allah sebagai satu-satunya Raja dalam segala aspek kehidupan, b). melaksanakan segala perintah-Nya dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22 :37-40) secara konsisten dan konsekuen di segala waktu, tempat dan keadaan, serta c). mengakui dan&nbsp; mensyukuri segala kasih karunia dan berkat Allah di dalam kehidupan kita.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Bercermin dari kesaksian pengalaman Rasul Pasulus dan juga Nabi Yesaya, peristiwa dan pengalaman apakah yang mendorongnya siap sedia, bertekad dan giat melaksakan panggilan Allah sebagai utusan \/ saksi-Nya ?<\/li><li>Menurut hemat saudara, apakah pemberitaan Injil dilakukan untuk memperluas wilayah Kerajaan Allah, karena wilayah Kerajaan Allah itu terbatas, sehingga kita umat-Nya (sebagai manusia) harus siap berjuang menjadi martir untuk memperluasnya?<\/li><li>Hal-hal apa yang dapat dilakukan Gereja dan warga gereja sebagai wujud nyata menghadirkan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah situasi kehidupan bangsa dan negara kita saat ini yang menghadapi bencana alam, pandemi Covid-19 serta berbagai perilaku radikal, diskriminasi, korupsi, kolusi dan nepotisme? Siapa yang seharusnya berperan?<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (KLS)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 KORINTUS 15:1-11 Rasul Paulus dalam bagian suratnya ini, 1 Korintus 15, bermaksud mengingatkan ulang Jemaat Korintus akan Injil yang telah diajarkan dan diberitakannya, yang telah disambut dan diterima oleh &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2929"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2930,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2929\/revisions\/2930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}