{"id":291,"date":"2020-05-30T21:21:56","date_gmt":"2020-05-30T14:21:56","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=291"},"modified":"2020-05-30T21:21:56","modified_gmt":"2020-05-30T14:21:56","slug":"menimba-spirit-gembala-yang-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2020\/05\/30\/menimba-spirit-gembala-yang-baik\/","title":{"rendered":"MENIMBA SPIRIT GEMBALA YANG BAIK"},"content":{"rendered":"\n<p>Yohanes 10 : 11-18<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Ia disebut sebagai Gembala yang baik karena Ia menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia membedakan antara Gembala yang baik dengan seorang upahan. Seorang upahan tidak memiliki hubungan batin dengan domba-domba yang digembalakannya. Ia mengembalakan domba yang bukan miliknya sendiri. Seorang upahan menggembalakan domba-domba itu karena ia butuh upah. Ia mau menggembalakan domba jika ia diupah. Seorang upahan tidak memiliki perhatian dan kepedulian yang tulus dalam menggembalakan domba-dombanya itu. Ia hanya peduli pada dirinya sendiri. Sikap seorang upahan itu akan tampak jika ada serigala mengancam keselamatan jiwa domba-domba yang digembalakannya, ia akan melarikan diri menyelamatkan nyawanya dan meninggalkan domba-domba itu menjadi mangsa serigala-serigala.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebaliknya Gembala yang baik adalah seorang pemilik domba, ia mengenal dengan baik domba-dombanya, demikian juga domba-domba yang digembalakannya juga mengenal dia dengan baik. Gembala yang baik sangat mengasihi domba-domba miliknya. Kasih itu ditunjukkan lewat kepedulian dan perhatiannya kepada para dombanya itu. Jika domba-dombanya mengalami bahaya, Ia tidak akan lari meninggalkan domba-dombanya. Ia akan berjuang menyelamatkan dan melindunginya, bahkan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gembala yang baik senantiasa memiliki kasih dan semangat untuk menyatukan bukan memecah belah. Ia senantiasa menjaga kesatuan di antara para dombanya. Bahkan domba-domba lain yang berasal dari luar kandang dituntun dan disatukan dalam kandang yang sama. Dengan demikian domba-domba yang di luar kandang itu menjadi satu kawanan dan satu gembala.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa pesan Injil ini bagi kita? Kita yang melalui pembaptisan, Allah telah memberikan rahmat-Nya mengenal Kristus yaitu sang Gembala yang menghantar kita pada hidup. Ia menjadikan &nbsp;kita &nbsp;bukan hanya kawanan domba melainkan lebih dari itu yaitu sebagai anak-anak Allah. Rahmat itu hendaknya kita syukuri. Ungkapan syukur yang paling tepat atas rahmat itu ialah dengan berjuang hidup sebagai Anak-anak Allah. Hidup dengan menimba spirit Gembala yang baik &nbsp;dalam setiap peran kehidupan kita sehari-hari. Kita dipanggil untuk menghidupi spirit seperti Gembala yang baik dengan dombanya, seperti Kristus dengan Bapa-Nya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sudahkah kita menghidupi spirit itu dalam peran kehidupan kita sehari-hari; sebagai orangtua dengan anak, ketua lingkungan dengan umatnya, pimpinan dengan bawahan, guru dengan murid, dosen dengan mahasiswa, pejabat dengan rakyatnya? . (PWS)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yohanes 10 : 11-18 Hari ini Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Ia disebut sebagai Gembala yang baik karena Ia menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia membedakan antara Gembala yang &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":44,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-291","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Alkitab-scaled.jpg?fit=2560%2C1920&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":292,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291\/revisions\/292"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}