{"id":2654,"date":"2021-10-30T13:28:43","date_gmt":"2021-10-30T06:28:43","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=2654"},"modified":"2021-10-30T13:28:43","modified_gmt":"2021-10-30T06:28:43","slug":"imago-dei-yang-ramah-terhadap-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2021\/10\/30\/imago-dei-yang-ramah-terhadap-alam\/","title":{"rendered":"\u201cIMAGO DEI YANG RAMAH TERHADAP ALAM\u201d"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" width=\"324\" height=\"223\" loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/image-7.png?resize=324%2C223&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-2656\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/image-7.png?w=324&amp;ssl=1 324w, https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/image-7.png?resize=300%2C206&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 324px) 100vw, 324px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kejadian 1 : 26-28<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai sumber menunjukkan data bahwa kerusakan ekologis di Indonesia tidak menunjukkan penurunan. Tidak heran jika dikatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi darurat ekologis. Krisis ekologis yang terjadi bahkan bersifat multidimensional. Keadaan ini bertambah buruk sejak pandemi Covid-19 berlangsung. Perhatian dunia terfokus pada masalah-masalah kesehatan yang kemudian semakin melupakan dan mengesampingkan isu-isu ekologis. Pertumbuhan industri di berbagai sektor serta pembangunan yang masif di satu sisi memberi dampak baik dalam peningkatan ekonomi. Akan tetapi di sisi yang lain juga meninggalkan jejak-jejak kerusakan ekologis. Seluruh pembangunan itu kerap kali mengabaikan pemeliharaan lingkungan sehingga merusak ekosistem yang ada. Siapa pelaku semua itu? Tidak lain adalah manusia, yang dalam bahasa kekristenan seringkali disebut sebagai gambar Allah (<em>imago Dei<\/em>). Manusia terus memelihara paradigma antroposentrisnya dalam memanfaatkan sumber daya alam namun enggan menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bersifat destruktif dan eskploitatif yang selama ini dilakukan berujung pada krisis ekologis. Sederhananya, manusia yang selama ini diklaim atau mengklaim diri sebagai gambar dan rupa Allah justru menjadi oknum yang merusak seluruh tatanan kehidupan yang Allah ciptakan. Apakah seperti itu kita mau memaknai diri sebagai <em>imago Dei<\/em>?<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam &nbsp;Alkitab, khususnya &nbsp;di kitab &nbsp;Kejadian, manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu memiliki kemuliaan, kehormatan dan kuasa untuk menaklukkan bumi. Hal ini seringkali disalahpahami oleh manusia dan menjadikannya pembenaran atas tindakan-tindakan yang destruktif dan eksploitatif &nbsp;terhadap &nbsp;alam. Ada pendapat bahwa penggunaan istilah gambar dan rupa Allah itu berasal dari ideologi tentang raja dalam dunia Timur Dekat Kuno. Raja mempunyai kebiasaan untuk membuat patung dirinya atau mengangkat seseorang untuk menjadi wakilnya yang berfungsi untuk menjadi simbol kehadiran raja di semua daerah kekuasaannya. Konsep perwakilan ini yang dianggap mendasari penyebutan manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Dengan kata lain, manusia adalah representasi Allah. Manusia dipanggil untuk menjalankan fungsi sebagai wakil Allah di dunia. Dalam hal ini harus dipahami bahwa di dunia ini manusia hanya salah satu ciptaan yang diberikan kepercayaan menjadi wakil Allah untuk memelihara bumi ciptaan dan kepunyaan Allah ini. Dengan demikian, atas tugas itu manusia tidak boleh berpikir bahwa alam ini adalah miliknya. Tujuan Allah memberikan tugas ini kepada manusia adalah supaya relasi antar manusia dengan ciptaan yang lain dapat terjaga, dan untuk menyejahterakan kehidupan manusia demi memuliakan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bahasa Ibrani digunakan kata <em>tselem <\/em>yang berarti gambar dan kata <em>demut\/damuwth <\/em>yang berarti rupa. Kata <em>tselem <\/em>dalam konteks penciptaan mengindikasikan bahwa manusia merupakan representasi Allah. Kata <em>demut\/damuwth <\/em>bermakna menyerupai. Jadi kedua kata ini hendak menjelaskan bahwa seharusnya manusia itu mempresentasikan Allah dan menyerupai Allah dalam hal-hal tertentu. Berkouwer, seorang teolog Reformasi mengungkapkan bahwa ungkapan <em>imago Dei <\/em>yang disematkan pada manusia bukanlah hendak menunjukkan sifat-sifat manusia yang menyerupai Allah, tetapi hendak berbicara soal relasi antar sesama ciptaan dan relasi antar ciptaan dengan Sang Pencipta; tentang manusia dengan ciptaan lain dan manusia dengan Allah. Artinya dalam konsep <em>imago Dei <\/em>ini, manusia diciptakan oleh Allah untuk hidup berdampingan satu dengan yang lain dan dengan seluruh ciptaan. Manusia harus mampu membangun sistem yang merangkul dan memelihara tatanan ciptaan yang sudah Allah ciptakan. Oleh karena itu, teks Kejadian 1: 26-28 ini tidak bermaksud untuk membuat manusia menjadi penguasa mutlak atas ciptaan lain, tetapi menjadikan manusia mandataris Allah untuk mengelola bumi ini secara &nbsp;bertanggung-jawab. Manusia tidak bisa membuat dirinya menjadi subjek tunggal dalam tatanan ciptaan dan memperlakukan alam serta ciptaan lain sebagai&nbsp; &nbsp;objek&nbsp; &nbsp;yang&nbsp; &nbsp;dapat&nbsp; &nbsp;dengan&nbsp; &nbsp;bebas&nbsp; &nbsp;diekploitasi&nbsp; &nbsp;untuk kepentingan manusia. Kini sudah saatnya, manusia bertobat dan mulai kembali kepada hakikat keberadaannya sebagai <em>imago Dei <\/em>yaitu untuk memelihara alam dan seluruh ciptaan. Manusia harus membiasakan diri &nbsp;untuk &nbsp;melepas paradigma &nbsp;antroposentrisnya &nbsp;dan &nbsp;beralih &nbsp;pada paradigma ekosentris. Seluruh laku kita di dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat terus-menerus berpusat pada diri manusia, tetapi harus mulai berpusat pada keseimbangan alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai umat Allah, kita perlu memiliki pemahaman yang utuh terhadap makna dari kisah penciptaan dalam Alkitab. Hal ini yang dapat membantu kita sebagai orang-orang Kristen \u2013 warga gereja untuk dapat menjawab tantangan krisis ekologis. Krisis ekologis adalah juga persoalan teologis yang tidak sekadar dibicarakan di gereja, tetapi harus dijawab oleh gereja. Isu ekologis adalah isu teologis yang menjadi tanggung jawab seluruh warga gereja. Kita dituntut untuk memiliki kesadaran ekologis untuk terus merawat dan memelihara alam. Sebagai warga gereja, kita dipanggil untuk membangun relasi yang baik dengan alam dan menjaganya tetap lestari. Ini adalah salah satu panggilan iman. Untuk itu kita perlu memperbaiki gaya hidup kita yang selama ini cenderung mengabaikan alam. Mari kita melihat ulang gaya hidup bergereja kita. Betapa banyaknya kemasan plastik sekali pakai yang kita gunakan. Sejak pandemi yang memaksa kita semua untuk mengurangi aktifitas di luar rumah, konsumsi plastik sekali pakai melonjak drastis. Betapa banyaknya kertas yang digunakan tiap minggu untuk mencetak warta jemaat. Di era kemajuan teknologi ini, kita juga menyumbang limbah teknologi yang tidak sedikit. Rasanya kita perlu mengevaluasi diri sebagai gereja yang terdiri dari orang-orang percaya yang mengaku diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Jika kita mengimani diri sebagai <em>imago Dei <\/em>maka sudah seharusnya kita memperbaiki pola kehidupan kita sehari-hari, dan pola kehidupan bergereja yang seringkali tidak ramah terhadap alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, mari kita juga mulai menanamkan paradigma ekologis yang tepat sejak dini pada diri anak-anak kita. Kita dapat memperbaiki krisis ekologis saat ini agar tidak semakin memburuk di masa yang akan datang dengan mempersiapkan diri anak-anak kita untuk menjadi <em>imago Dei <\/em>yang mencintai alam sejak dini. Kita perlu mendampingi mereka untuk membiasakan diri hidup dengan gaya hidup yang ramah terhadap alam. Mari kita rekonstruksi identitas kita sebagai umat Allah yang ramah terhadap alam. Mari kita tampilkan diri sebagai <em>imago Dei <\/em>yang mencintai dan memelihara kehidupan. <em>Imago <\/em><em>Dei <\/em>yang ramah terhadap alam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan Pendalaman<\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Bersediakah Anda, baik secara personal maupun komunal, baik orang dewasa maupun anak-anak, untuk berpartisipasi secara aktif dan konkret untuk ikut serta menjawab persoalan-persoalan ekologis yang ada? Apa yang Anda dapat lakukan?<\/li><li>Bagaimana kita dapat menanamkan kesadaran bahwa kita adalah representasi Allah atas alam kepada anak-anak?<\/li><li>Seberapa konsisten kita dan anak-anak berupaya dalam mengatasi krisis ekologis yang saat ini sedang terjadi?<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kejadian 1 : 26-28 Berbagai sumber menunjukkan data bahwa kerusakan ekologis di Indonesia tidak menunjukkan penurunan. Tidak heran jika dikatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi darurat ekologis. Krisis ekologis &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2656,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2654","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/bandung.gkp.or.id\/warta\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/image-7.png?fit=324%2C223&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2654"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2657,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2654\/revisions\/2657"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2656"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}