{"id":2441,"date":"2021-09-17T14:13:35","date_gmt":"2021-09-17T07:13:35","guid":{"rendered":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/?p=2441"},"modified":"2021-09-17T14:13:35","modified_gmt":"2021-09-17T07:13:35","slug":"hikmat-dari-allah-yang-adil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/2021\/09\/17\/hikmat-dari-allah-yang-adil\/","title":{"rendered":"HIKMAT DARI ALLAH YANG ADIL"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>YAKOBUS 3: 13-18<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BAHAN KRT, RABU,22 SEPTEMBER 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Situasi pandemi saat ini memaksa orang-orangberaktivitas lebih banyak dari rumah sehingga mereka semakin lihai menggunakan gawai. Setiap hari ponsel selalu ada di tangan. Berbagai hal bisa diakses, mulai dari membaca berbagai pesan dan informasi, melihat media sosial, hingga belanja secara daring. Penggunaan gawai yang keliru dapat membuat kita mengembangkan karakter yang tidak baik, dan tidak menuntun pada hikmat yang benar. Misalnya, kita mudah menemukan komentar-komentar negatif dari netizen untuk menjatuhkan orang lain, termasuk pemerintah. Ada pula yang berkomentar negatif karena merasa tidak senang atas keberhasilan atau kelebihan orang lain lalu membandingkan si A dengan si B, atau membandingkan si A dengan dirinya sendiri. Hal itu dapat dikatakan sebagai bentuk iri hati, sebab kita bisa juga terbawa emosi dan ikut berkomentar.<\/p>\n\n\n\n<p>Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk memiliki hikmat dari Allah di tengah perjalanan hidup dalam relasi dengan sesama. Surat Yakobus merupakan tulisan yang dibuat oleh Yakobus, saudara Yesus, dan berisi tentang rangkuman hikmat Yakobus. Yakobus menulis surat ini bagi seluruh orang percaya, khususnya yang tersebar di luar Israel. Banyak bagian dalam isi surat ini yang merupakan pengembangan dari kitab Amsal, serta khotbah Yesus di bukit. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana bacaan firman Tuhan hari ini menuntun kita untuk memiliki hikmat dalam menjalani kehidupan sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yakobus menyatakan bahwa setiap orang yang bijak dan berakal budi adalah orang yang menunjukkan hikmat dalam perbuatannya. Hikmat itu sendiri lahir dari kelemahlembutan yang dimiliki orang tersebut (ay. 13). Orang yang bijak dan berakal budi tentu bukanlah orang yang mudah egois. Ketika ia melihat orang lain lebih dari dirinya, baik secara materi, fisik, dan lain sebagainya, ia tidak mudah iri hati. Perasaan iri hati menunjukkan bahwa dirinya adalah pribadi yang mementingkan diri sendiri (ay. 14), dan ini akan melahirkan kekacauan, serta segala macam perbuatan jahat (ay. 16). Seseorang yang iri pada keberhasilan orang lain, tentu akan melahirkan reaksi buruk pada orang itu. Entah upaya menjatuhkan orang itu dengan berbagai macam cara, atau berupaya menyaingi orang tersebut, dan jika memungkinkan melebihi orang itu, dengan berbagai macam cara pula, termasuk cara-cara yang salah. Pada akhirnya relasi dengan sesama akan hancur. Selanjutnya, hikmat ditunjukkan dengan sikap yang tidak memegahkan diri (ay. 14). Bagian ini merupakan pengembangan dari Amsal 27:1 yang mengingatkan agar manusia tidak memuji diri sendiri karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Layaknya pepatah yang sering kita dengar: \u201chidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah,\u201d kita tidak pernah tahu apakah ketika kita memuji diri hari ini, besok kita masih bisa menyombongkan diri? Sebab, bisa saja besok kita ada di posisi paling rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya hal-hal di atas, bagian firman Tuhan hari ini juga menyatakan bahwa hikmat \u201cdari atas\u201d atau hikmat yang berasal dari Allah akan menuntun manusia memiliki relasi yang baik dengan sesama. Hikmat dari Allah menuntun manusia untuk memiliki relasi yang murni (Yun: <em>hagnos <\/em>berarti kudus, suci, benar) dengan sesama. Relasi yang murni ini akan membawa seseorang untuk hidup dalam perdamaian. Sehingga, orang yang bijak dan berakal budi (berhikmat) akan selalu mampu menjadi pendamai. Dia tidak akan membawa konflik, bahkan jika ada konflik, ia akan menenangkan dan melerai. &nbsp;Sifat-sifat yang tumbuh pada seseorang yang hidupnya dipimpin oleh hikmat Allah adalah peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Cerminan kasih Allah yang baik dan adil nyata dalam diri seseorang yang mendapatkan hikmat dari Allah. Tidak memihak dan tidak munafik berarti memang ia tidak membela siapapun selain menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pembacaan Alkitab hari ini kita diingatkan untuk meminta hikmat dari Allah agar kita mampu menjadi orang yang bijaksana dan berbudi di tengah hidup berelasi dan berinteraksi dengan sesama. Di tengah perkembangan teknologi, kita mudah terkoneksi dengan orang lain di berbagai tempat, bahkan kita mudah memberi komentar hanya dengan menekan tombol-tombol. Situasi semacam ini tidak boleh membuat kita lengah dalam menunjukkan karakter umat Tuhan yang memiliki hikmat dalam setiap perbuatan. Tuhan menghendaki agar perbuatan kita mencerminkan kasih dan keadilan-Nya. Dengan demikian, hidup kita akan menghasilkan buah kebenaran dan menghadirkan damai sejahtera di manapun kita berada.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PERTANYAAN UNTUK DISKUSI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Apa yang membuat seseorang sulit menjalani hidup bijaksana dengan hikmat dari Allah sesuai ciri-ciri dalam bacaan hari ini?<\/li><li>Apa yang perlu dilakukan untuk dapat memperoleh hikmat dari Allah yang adil dan penuh kasih?<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>(ENT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YAKOBUS 3: 13-18 BAHAN KRT, RABU,22 SEPTEMBER 2021 Situasi pandemi saat ini memaksa orang-orangberaktivitas lebih banyak dari rumah sehingga mereka semakin lihai menggunakan gawai. Setiap hari ponsel selalu ada di &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1852,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"nf_dc_page":"","om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2441","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-krt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2441","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2441"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2441\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2442,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2441\/revisions\/2442"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1852"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bandung.gkp.or.id\/warta\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}